HomeAnalisis dan OpiniANALISIS - Akankah 40 negara pimpinan Inggris dapat buka Selat Hormuz?

ANALISIS – Akankah 40 negara pimpinan Inggris dapat buka Selat Hormuz?

 

Seiring blokade de facto Iran terhadap Selat Hormuz terus berlanjut, Inggris mengadakan pembicaraan virtual dengan sekitar 40 negara untuk membahas strategi membuka kembali jalur tersebut, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia dari negara-negara Teluk pada masa damai.

Iran, yang wilayah perairannya mencakup bagian dari selat itu, telah menutupnya bagi pelayaran sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran dengan serangan ke Teheran pada 28 Februari.

Blokade tersebut telah mendorong harga minyak global melonjak di atas $100 per barel—naik sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang—memaksa negara-negara, terutama di Asia, untuk melakukan penghematan bahan bakar dan mengurangi produksi industri. Pada hari Kamis, Malaysia memerintahkan seluruh pegawai negeri untuk bekerja dari rumah guna menghemat energi.

Amerika Serikat tidak ikut serta dalam pembicaraan ini, setelah Donald Trump mengatakan pekan ini bahwa bukan tanggung jawab negaranya untuk membuka kembali selat tersebut. Ia menyuruh negara-negara Eropa untuk “mencari minyak mereka sendiri”.

Apa agenda pertemuan Inggris?

Siapa saja yang hadir? Berikut yang diketahui:

Siapa yang hadir?

Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper memimpin pertemuan konferensi video lebih dari 40 negara, yang dimulai pada tengah hari Kamis.

Dalam konferensi pers pada hari Rabu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa negara-negara yang sebelumnya menandatangani pernyataan kesiapan untuk “berkontribusi dalam upaya yang tepat guna memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz” akan ikut dalam pembicaraan ini.

Prancis, Belanda, Jerman, Italia, Kanada, Australia, dan Uni Emirat Arab termasuk di antaranya.

Negara-negara Eropa awalnya menolak terlibat karena khawatir terseret ke dalam perang. Namun, seiring berlanjutnya konflik dan melonjaknya harga minyak serta gas secara global, negara-negara Uni Eropa akhirnya memutuskan bergabung dalam koalisi Inggris untuk membuka kembali selat tersebut.

Amerika Serikat tidak termasuk.

Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengkritik sekutu-sekutunya, termasuk Inggris, yang menurutnya “menolak terlibat dalam penghancuran Iran”, dan meminta mereka untuk membeli bahan bakar dari AS atau ikut terlibat dalam perang yang semakin meningkat.

“Anda harus mulai belajar berjuang sendiri, AS tidak akan membantu lagi, seperti Anda tidak membantu kami. Iran pada dasarnya sudah hancur. Bagian tersulit sudah selesai. Pergilah cari minyak Anda sendiri!” katanya.

Apa agenda pertemuan ini?

Menjelang pembicaraan, Starmer mengatakan negara-negara akan “menilai semua langkah diplomatik dan politik yang memungkinkan untuk memulihkan kebebasan navigasi, menjamin keselamatan kapal dan awak yang terjebak, serta melanjutkan pergerakan komoditas penting”.

Ia menambahkan bahwa setelah pertemuan tersebut, para perencana militer juga akan dikumpulkan untuk membahas bagaimana kemampuan mereka dapat digunakan untuk membuat selat kembali aman setelah pertempuran berakhir.

Rencana pembukaan kembali selat juga mencakup pembersihan ranjau laut serta tahap lanjutan berupa perlindungan kapal tanker saat melintas.

Seorang analis dari University of York mengatakan bahwa pertemuan ini penting untuk menunjukkan bahwa negara-negara selain AS tetap berkomitmen menggunakan jalur diplomasi untuk menormalkan situasi.

Apakah koalisi ini bisa berhasil?

Starmer mengakui bahwa membuka kembali selat tersebut “tidak akan mudah”.

Sejak perang dimulai, Iran menuntut pengakuan internasional atas haknya mengendalikan Selat Hormuz sebagai salah satu dari lima syarat gencatan senjata.

Iran hanya mengizinkan beberapa kapal dari negara yang dianggap “bersahabat” untuk melintas, seperti India, Pakistan, Malaysia, dan China. Negara lain juga berupaya membuat kesepakatan dengan Iran agar kapal mereka bisa lewat dengan aman.

Parlemen Iran juga dilaporkan sedang mempertimbangkan undang-undang untuk menarik biaya dari kapal yang melintasi selat. Garda Revolusi Iran disebut telah mulai menerapkan sistem “tol” untuk mengontrol lalu lintas kapal.

Seorang analis mengatakan bahwa dalam kondisi perang saat ini, peluang keberhasilan koalisi ini kecil kecuali ada kesepakatan dengan Iran.

Namun, koalisi tersebut bisa berperan dalam menjaga keamanan jalur pelayaran setelah konflik berakhir, jika negara-negara anggotanya bersedia mengirim angkatan laut.

Ia juga menilai bahwa membuka kembali selat dengan kekuatan militer akan membutuhkan kerja sama antara AS dan sekutu Eropa.

 

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler