BOGOR – Aktivis kemanusiaan sekaligus jurnalis yang telah menghabiskan lebih dari 13 tahun hidup di Gaza, Muhammad Husein atau yang akrab disapa Husein Gaza, menjadi pemateri pertama dalam Kelas Kurikulum Pendidikan Gaza yang digelar secara daring melalui Zoom pada Ahad (28/6) malam.
Kegiatan yang disponsori oleh International Networking for Humanitarian (INH) ini menjadi pembuka rangkaian kelas yang bertujuan membangun pemahaman masyarakat tentang pendidikan, mentalitas, dan peradaban warga Gaza. Selain menjadi ruang belajar, kelas ini juga diharapkan mampu membangun kedekatan emosional dengan para peserta sekaligus mendorong kepedulian nyata terhadap Palestina.
Salah satu program yang diinisiasi melalui kelas ini adalah dukungan terhadap pendidikan anak-anak Gaza, seperti penyediaan alat tulis, tas sekolah, dan kebutuhan belajar lainnya.
Ke depan, kelas ini tidak hanya membahas kondisi Palestina, tetapi juga akan mengulas konsep parenting, pendidikan keluarga, serta Kurikulum Pembebasan Strategis Baitul Maqdis. Menurut Husein, seluruh proyek pembebasan harus dimulai dari pendidikan Al-Qur’an.
“Semua proyek pembebasan harus bermula dari pendidikan Al-Qur’an.”
Dalam pemaparannya, Husein juga mengutip perkataan juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Ubaidah:
“Antum khushumunā amāmallāh” – “Kalian yang tidak peduli terhadap pengorbanan rakyat Palestina adalah musuh kami di hadapan Allah.”
Barometer Kepedulian Seorang Muslim
Husein menjelaskan kualitas seseorang dapat diukur dari apa yang menjadi keresahan dan siapa yang dianggap sebagai musuhnya. Apabila seseorang hanya gelisah karena persoalan dunia, seperti iri terhadap telepon genggam atau kendaraan milik orang lain, maka keresahan tersebut masih berada pada tingkat yang rendah.
Demikian pula jika musuh yang selalu dipersoalkan hanyalah keluarga, tetangga, atau persoalan politik lokal.
“Namun apabila orientasi perjuangan kita adalah melawan penjajahan Zionis, maka hidup akan menjadi lebih tenang. Kita tidak mudah terbawa emosi terhadap persoalan-persoalan kecil karena memahami mana musuh yang sebenarnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kurangnya pendidikan dan pemahaman akan membuat umat Islam mudah diadu domba. Karena itu, setiap muslim perlu memiliki barometer yang benar dalam menentukan prioritas perjuangan.
Pembebasan Dimulai dari Pena, Bukan Pedang
Husein kemudian mengangkat kisah perjuangan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, keberhasilan membebaskan Masjid Al-Aqsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi diawali oleh proses pendidikan yang panjang.
Ia mengutip ungkapan yang dinisbatkan kepada Salahuddin:
“Jangan berpikir Baitul Maqdis dibebaskan dengan pedang. Aku membebaskannya dengan pena, dengan tulisan para ulama dan qadhi yang membimbingku melalui pendidikan Al-Qur’an selama bertahun-tahun.”
Husein juga merekomendasikan karya Dr. Ahmad Naufal mengenai tafsir Surah Al-Isra, surah tersebut merupakan panduan strategis dari Allah ta’aala bagi umat Islam dalam membangun generasi yang kelak mampu membebaskan Masjid Al-Aqsa.
“Surah Al-Isra bukan sekadar kisah perjalanan Isra Mi’raj, tetapi juga peta jalan bagaimana membangun masyarakat dan menyiapkan generasi kemenangan,” jelasnya.
Pendidikan Harus Menjadi Ekosistem Keluarga
Dalam sesi berikutnya, Husein menekankan pendidikan tidak cukup hanya diserahkan kepada sekolah. Ia menilai banyak lembaga pendidikan yang masih berorientasi pada formalitas dan ijazah, sementara pendidikan karakter di lingkungan keluarga sering kali terabaikan.
Ia menyoroti kebiasaan anak-anak yang semakin mudah terdistraksi oleh gawai dan konten digital. Karena itu, ia mengajak para orang tua mulai membangun kurikulum pendidikan di rumah.
“Salah satunya dengan membuat komitmen, misalnya tidak menggunakan telepon genggam saat seluruh anggota keluarga berkumpul pada malam hari. Banyak keluarga akhirnya bingung menentukan bahan percakapan karena minimnya bekal ilmu akidah, ibadah, dan Al-Qur’an. In syaa Allah, melalui kelas ini kita akan belajar ilmu-ilmu yang bisa menjadi bekal orang tua dalam mendidik dan berdialog dengan keluarganya.”
Al-Qur’an Menjadi Kekuatan Warga Gaza
Husein menegaskan daya tahan masyarakat Gaza menghadapi kondisi saat ini salah satunya bersumber dari kedekatan mereka dengan Al-Qur’an.
“Di Gaza, mereka belajar berjuang dari Al-Qur’an. Mereka bernapas bersama Al-Qur’an.”
Karena itu, umat Islam di Indonesia seharusnya memiliki semangat belajar yang lebih besar karena tidak hidup seperti yang dialami warga Gaza.
Sesi Tanya Jawab
Menjawab pertanyaan Iqbal dari Brebes mengenai cara mengajak masyarakat peduli terhadap Palestina, Husein mengajak peserta kembali kepada tujuan utama perjuangan.
“Mulailah dari pertanyaan, mengapa kita harus membebaskan Baitul Maqdis? Jika itu sudah menjadi prioritas hidup, maka berbagai distraksi akan lebih mudah diabaikan.”
Mengutip hadis Rasulullah SAW tentang tiga masjid yang dianjurkan untuk dikunjungi. Hadis tersebut bukan sekadar dalil perjalanan ibadah, tetapi mengandung pesan agar umat Islam menjaga kehormatan Masjid Al-Aqsa agar tidak jatuh ke tangan musuh.
Husein juga mengisahkan jawaban Salahuddin Al-Ayyubi ketika ditanya mengapa dirinya jarang tersenyum. “Bagaimana aku bisa tersenyum sementara Masjid Al-Aqsa masih berada dalam penjajahan.’’ Dari ungkapan Salahuddin ini kita belajar tentang semangat memperjuangkan Al-Aqsa akan menjaga keistiqamahan seorang muslim dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, menjawab pertanyaan Shahira Habsy mengenai bagaimana memulai kurikulum pendidikan dari keluarga ketika pasangan belum memiliki kepedulian yang sama terhadap Palestina? Husein mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya kelas ini.
“Nanti kita akan merumuskan kajian-kajian yang lebih aplikatif, termasuk dalam bentuk pertemuan luring. Banyak pengalaman selama saya tinggal di Gaza yang ingin saya bagikan secara langsung.”
Pesan untuk Generasi Muda
Di akhir pertemuan, Husein menyampaikan pesan khusus kepada para peserta yang belum menikah. Berdasarkan pengalamannya menghadiri prosesi pernikahan di Gaza pada 2014. Di mana proses khitbah umumnya berlangsung antara tiga bulan hingga satu tahun. Masa tersebut dimanfaatkan pasangan di Gaza untuk menyamakan visi, nilai perjuangan, dan tujuan kehidupan sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Ia mengajak generasi muda agar senantiasa memohon kepada Allah ta’alaa untuk dipertemukan dengan pasangan yang sekufu, memiliki kesamaan visi perjuangan dan nilai-nilai kehidupan.
Husein juga menyinggung kisah keluarga Salahuddin Al-Ayyubi yang menikahi seorang istri dengan memiliki komitmen memperjuangkan pembebasan Masjid Al-Aqsa.
Menutup kelas perdana tersebut, Husein mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir. Info lebih lanjut Kelas Kurikulum Pendidikan Gaza bisa hubungi whatsapp berikut +62 822-9837-5872.
