Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuka pernyataannya dengan menekankan bahwa Iran merupakan peradaban kuno yang telah bertahan selama ribuan tahun, namun tidak pernah melancarkan perang ofensif di era modern.
“Terlepas dari keunggulan sejarah dan geografis pada berbagai periode, Iran tidak pernah memilih jalur agresi, ekspansionisme, kolonialisme, atau dominasi,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa negaranya memang pernah menghadapi serangan, tetapi tidak pernah menjadi pihak yang lebih dahulu memulai konflik.
Pezeshkian juga membedakan secara tegas antara pemerintah dan rakyat. Ia menegaskan bahwa masyarakat Iran tidak memiliki permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, maupun negara tetangga. Sikap tersebut, menurutnya, bukan sekadar posisi politik, melainkan prinsip yang berakar dalam budaya dan kesadaran kolektif bangsa Iran.
Pezeshkian menilai memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran bermula dari peristiwa Kudeta Iran 1953.
Kudeta tersebut menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh setelah pemerintahannya berupaya menasionalisasi industri minyak Iran. Pezeshkian menyebut peristiwa itu sebagai “intervensi ilegal Amerika” yang bertujuan mencegah Iran mengelola sumber dayanya sendiri, sekaligus menghentikan proses demokrasi dan menanamkan kecurigaan mendalam terhadap kebijakan AS.
Ia kemudian menguraikan berbagai peristiwa lanjutan yang memperburuk hubungan kedua negara, mulai dari dukungan AS terhadap pemerintahan Shah, dukungan kepada Saddam Hussein dalam Perang Iran-Irak, hingga penerapan sanksi ekonomi yang luas selama puluhan tahun.
Selain itu, ia juga menyinggung dua serangan militer yang disebutnya terjadi tanpa provokasi terhadap wilayah Iran di tengah proses negosiasi yang sedang berlangsung. Menurutnya, setiap peristiwa tersebut memperdalam luka historis yang bermula sejak 1953.
Pezeshkian menuduh Washington membangun citra Iran sebagai ancaman yang tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Ia berpendapat bahwa narasi tersebut merupakan hasil dari kepentingan politik dan ekonomi, seperti kebutuhan untuk menciptakan musuh guna melegitimasi penindasan, mempertahankan dominasi militer, menopang industri persenjataan, serta mengendalikan pasar strategis.
Dalam sistem seperti itu, kata dia, ancaman akan tetap diciptakan meskipun sebenarnya tidak ada.
Ia juga melontarkan kritik tajam terhadap Israel, yang dituduh memanfaatkan Amerika Serikat untuk kepentingannya sendiri. Menurutnya, Israel berupaya mengalihkan perhatian global dari tindakannya terhadap Palestina dengan mendorong konfrontasi dengan Iran.
“Apakah tidak jelas bahwa Israel ingin berperang melawan Iran hingga prajurit Amerika terakhir dan dolar terakhir pembayar pajak Amerika?” tulisnya, seraya menyinggung slogan “America First” untuk mempertanyakan apakah hal itu benar-benar mencerminkan prioritas kebijakan AS saat ini.
Meski sarat kritik, Pezeshkian menutup pernyataannya dengan ajakan untuk meredakan ketegangan dan membuka ruang dialog. Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai titik persimpangan sejarah yang menentukan arah masa depan.
Ia mengakui dampak kemanusiaan dari sanksi, perang, dan serangan terbaru terhadap warga sipil Iran. Menurutnya, masyarakat tidak akan tetap diam ketika kehidupan, rumah, dan masa depan mereka hancur akibat konflik.
Terkait isu nuklir, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran telah bernegosiasi dengan itikad baik, mencapai kesepakatan, dan memenuhi komitmennya. Ia menilai runtuhnya diplomasi terjadi akibat keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari perjanjian dan melancarkan aksi militer di tengah proses negosiasi.
Ia juga menyoroti kemajuan Iran di bidang literasi, pendidikan tinggi, teknologi, dan layanan kesehatan sejak revolusi sebagai bukti ketahanan nasional. Pezeshkian menolak anggapan bahwa tekanan eksternal telah melemahkan negaranya.
Ia mengajak masyarakat Amerika untuk melihat Iran secara lebih objektif, bukan melalui apa yang disebutnya sebagai arus informasi yang menyesatkan. Ia juga mendorong dialog langsung dengan warga Iran yang telah belajar, bekerja, dan berkontribusi di berbagai institusi pendidikan dan perusahaan teknologi terkemuka di Barat.
“Melanjutkan jalur konfrontasi kini lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya,” tulisnya, seraya menegaskan bahwa pilihan antara eskalasi dan dialog akan menentukan kehidupan generasi mendatang.


