Monday, February 2, 2026
HomeBeritaSetengah pasien gagal ginjal Gaza meninggal dalam kepungan Israel

Setengah pasien gagal ginjal Gaza meninggal dalam kepungan Israel

Israel pada hari Minggu mengizinkan pembukaan terbatas penyeberangan darat Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dan Mesir. Namun, penutupan yang telah berlangsung selama satu setengah tahun terakhir telah memicu bencana kemanusiaan bagi penduduk di wilayah yang hancur tersebut, terutama akibat terblokirnya pasokan medis esensial selama dan setelah perang.

Akibat pengepungan Israel, sebanyak 50 persen pasien gagal ginjal di Jalur Gaza dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, pasien yang tersisa kini harus berjuang bertahan hidup di tengah ketiadaan perawatan paling dasar.

Di sebuah kursi khusus pasien ginjal di Kompleks Medis Al-Shifa, Kota Gaza, Rawaa Al-Daama (15) duduk menjalani sesi cuci darah (hemodialysis) yang kini menjadi bagian dari rutinitas hariannya yang melelahkan.

Saat para dokter mempersiapkan Rawaa untuk sesi tersebut, ibunya, Sabrin, menuturkan bahwa putrinya menderita penyakit ginjal kronis sejak lahir. Kondisinya memburuk secara drastis sejak pecahnya perang Israel di Gaza, yang menyebabkan ia tidak lagi bisa mendapatkan obat-obatan secara teratur maupun bepergian untuk berobat.

Kepada Qatar News Agency (QNA), Sabrin mengungkapkan bahwa putrinya harus menjalani tiga hingga empat sesi cuci darah per minggu dan hidup dalam kondisi kelelahan yang konstan.

“Kami menghabiskan hidup kami bolak-balik antara rumah dan rumah sakit, dan kondisinya memburuk dari hari ke hari; dia sekarat perlahan, dan kami mati bersamanya,” ujarnya.

“Saya siap mendonorkan ginjal saya untuk putri saya setelah kami menyelesaikan tes medis, namun penutupan penyeberangan mencegah kami bepergian untuk melakukan transplantasi. Kami tidak meminta apa pun selain jalan dibuka untuk menyelamatkan sisa hidup kami,” tambah Sabrin.

Pembukaan kembali penyeberangan Rafah oleh Israel pada hari Minggu bersifat terbatas, dengan 200 pasien masih menunggu izin untuk meninggalkan Jalur Gaza demi pengobatan di luar negeri. Sumber setempat menyebutkan bahwa pembukaan yang lebih permanen dijadwalkan akan dilakukan pada hari Senin.

Kepala Departemen Nefrologi di Kompleks Medis Al-Shifa, Dr. Ghazi Al-Yazji, mengatakan bahwa penutupan perbatasan yang berkelanjutan berdampak “mematikan” bagi para pasien.

Ia menjelaskan kepada QNA bahwa terdapat pasien penderita penyakit autoimun yang memerlukan biopsi ginjal diagnostik. Prosedur tersebut tidak tersedia di Gaza, yang mengakibatkan memburuknya kondisi mereka hingga berujung pada gagal ginjal total.

Al-Yazji menyebutkan bahwa departemen cuci darah di Al-Shifa saat ini melayani sekitar 210 pasien yang menderita gagal ginjal kronis stadium lima di bawah kondisi yang sangat sulit.

“Departemen ini menghadapi kekurangan mesin dan pasokan medis yang parah, yang terkadang memaksa kami melakukan transfusi darah untuk mengkompensasi kurangnya obat-obatan—sebuah intervensi yang memiliki komplikasi serius dan dapat menghambat atau mencegah operasi transplantasi di masa depan bagi pasien yang menunggu perjalanan,” jelasnya.

Angka Kematian yang Mengejutkan

Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Salmiya, mengatakan kepada QNA bahwa sekitar 50 persen pasien cuci darah di Jalur Gaza yang menunggu pembukaan perbatasan atau kedatangan obat-obatan, telah meninggal dunia selama dua tahun masa perang dan pengepungan Israel di Gaza.

Sebanyak 70 persen obat-obatan dan peralatan medis yang diperlukan untuk perawatan mereka tidak tersedia di Gaza.

Abu Salmiya menjelaskan bahwa Al-Shifa saat ini hanya memiliki 34 mesin cuci darah yang melayani sekitar 750 pasien gagal ginjal. Hal ini menempatkan pusat medis tersebut di bawah tekanan besar yang melampaui kapasitasnya—terutama setelah Israel menghancurkan rumah sakit besar lainnya di Gaza, seperti Rumah Sakit Indonesia di bagian utara Jalur Gaza.

Abu Salmiya memperingatkan bahwa pembatasan di Penyeberangan Rafah atau penutupannya kembali akan memperburuk bencana kemanusiaan tersebut. Ia menyerukan intervensi mendesak untuk memfasilitasi perjalanan kasus-kasus yang memerlukan transplantasi ginjal atau perawatan khusus.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan kematian lebih dari 1.000 pasien dan korban luka akibat larangan perjalanan, sementara sekitar 20.000 orang lainnya masih menunggu evakuasi medis demi mendapatkan perawatan penyelamatan nyawa.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler