ASHDOD – Para aktivis kemanusiaan internasional yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla dilaporkan berpotensi dipindahkan ke Penjara Kitziot setelah kapal mereka tiba di Pelabuhan Ashdod, Israel.
Informasi tersebut disampaikan tim pendukung flotilla kepada keluarga dan kerabat para peserta di tengah meningkatnya kekhawatiran atas keselamatan relawan yang dicegat militer Israel saat menuju Gaza.
Dalam pesan resminya, tim pendukung menyebut skenario penahanan di Penjara Kitziot sebenarnya telah diperkirakan sejak awal. Hal serupa juga terjadi pada dua misi flotilla besar tahun lalu, ketika para peserta ditahan setelah kapal mereka dicegat di laut.
“Para peserta, pengacara, dan tim pendukung sudah mempersiapkan kemungkinan ini,” demikian pernyataan yang disampaikan kepada keluarga relawan.
Tim hukum Global Sumud Flotilla dikabarkan telah bersiaga di Pelabuhan Ashdod untuk memastikan kedatangan para aktivis serta memantau proses hukum yang akan mereka hadapi. Namun, banyaknya peserta yang harus menjalani pemeriksaan disebut membuat proses pemindahan dan pendataan dapat berlangsung selama berjam-jam.
Penyelenggara flotilla juga meminta keluarga dan masyarakat internasional terus memberikan tekanan kepada kedutaan besar masing-masing negara agar turun langsung ke pelabuhan. Mereka menegaskan bahwa keselamatan dan kondisi para warga negara yang ditahan merupakan tanggung jawab pemerintah asal peserta.
“Kedutaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan warga negaranya dalam kondisi aman,” tulis tim pendukung dalam pesan tersebut.
Hingga kini, tim hukum masih menunggu konfirmasi resmi terkait jumlah peserta yang telah tiba di Ashdod maupun kondisi terbaru mereka setelah pencegatan di Laut Mediterania.
Misi Global Sumud Flotilla sendiri membawa ratusan aktivis dan bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza. Armada tersebut dicegat militer Israel saat berupaya menembus blokade Gaza yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Insiden itu memicu perhatian internasional, terutama setelah sejumlah relawan sempat mengirim pesan darurat sebelum komunikasi dengan dunia luar terputus. Organisasi hak asasi manusia dan kelompok solidaritas Palestina di berbagai negara kini mendesak pembebasan seluruh aktivis serta dibukanya akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.(cky)


