Oleh: Dikenaltertulis*
Kengerian penjajahan tidak selalu diukur dari nyaringnya dentuman bom berskala besar. Realitas pahit inilah yang dikupas tuntas dalam naskah teater berjudul “Fireworks” (Al’aab Nariya) karya penyair Palestina, Dalia Taha.
Naskah yang sukses mengguncang panggung teater global ini menceritakan kehidupan nyata warga sipil yang terjebak di zona konflik Palestina. Karya ini merekam sebuah realitas tragis di mana depresi seakan langsung diwariskan sejak napas pertama dihembuskan hingga hari ini.
Kritik Tajam untuk Narasi Media
Kehadiran naskah ini berakar dari sebuah alasan kuat. Taha melahirkan karyanya sebagai bentuk kritik keras terhadap narasi media arus utama. Ia merasa prihatin karena pemberitaan sering kali hanya menyajikan deretan angka korban, tanpa pernah menceritakan hancurnya perasaan manusia di baliknya.
Taha ingin menunjukkan bahwa kengerian sejati dalam peperangan bukanlah sekadar desingan senapan, melainkan ketika kengerian itu sendiri terpaksa diadopsi menjadi rutinitas harian yang menuntut untuk dinormalisasi.
Kengerian yang Menyamar Sebagai Rutinitas
Proses terbentuknya trauma itu diceritakan dengan cara yang sangat intim dan dekat. Taha mengajak audiens mengalihkan pandangan dari medan tempur menuju ruang keluarga yang sempit dan anak tangga rumah yang sunyi.
Kronologi trauma ini tergambar jelas melalui keseharian dua bocah bernama Lubna dan Khalil. Permainan anak-anak di lingkungan tersebut berubah menjadi sangat kelam dengan aturan yang menyayat hati. Aturannya sederhana: siapa yang bisa berlari paling cepat tanpa tertembak peluru sungguhan, dialah pemenangnya.
Di saat yang sama, proses bertahan hidup menuntut para orang tua merangkai kebohongan setiap hari. Semua itu dilakukan semata-mata agar sang anak merasa dunia masih aman, sementara dunia nyata mereka justru perlahan runtuh.
Dampak Tanpa Angka dan Waktu Tanpa Batas
Jika menakar kerugian dari situasi ini, dampaknya sama sekali tidak bisa diukur dengan sekadar kalkulasi kerusakan material. Skala kerugian terbesarnya adalah kehancuran psikologis total yang menimpa banyak keluarga. Hilangnya kepolosan masa kecil dan munculnya trauma mental yang parah menjadi bukti nyata.
Hal ini terlihat pada karakter Nahla yang terus berduka, Khalil yang emosinya mudah meledak, serta Lubna yang terlanjur memahami arti kematian di usia yang sangat muda.
Lebih menyedihkan lagi, penderitaan tersebut berlangsung dalam durasi tanpa batas waktu yang jelas. Trauma ini menempel sejak mereka lahir, berulang menjadi rutinitas setiap waktu, dan terus mengintai di depan pintu rumah mereka selamanya tanpa kepastian kapan penderitaan tersebut akan berakhir.
Catatan Kemanusiaan yang Menggugah Dada
Membaca kisah dalam naskah ini memberikan sensasi duduk langsung di ruang tamu mereka. Pembaca diajak menjadi saksi bisu yang menemani banyak jiwa lelah; mereka yang terpaksa menelan air mata sambil tetap mencoba memasak dan bercanda layaknya manusia biasa.
Bagi siapa pun yang mencari catatan kemanusiaan yang mendalam tanpa terkesan menggurui, “Fireworks” adalah bacaan wajib. Bersiaplah menyadari satu hal saat membalik halaman terakhirnya: hal yang benar-benar meledak bukan hanya kembang api di langit malam, melainkan juga sisi kemanusiaan di dalam dada Anda.
*Tulisan Abdillah, penulis di kolom gazamedia.net
