Kemenangan kandidat progresif di berbagai wilayah New York menunjukkan bahwa penolakan terhadap Israel telah menjadi isu elektoral yang kuat bagi generasi baru pemilih Partai Demokrat, dilansir dari Middle East Eye, Selasa (30/6).
Bagi banyak warga muda New York, pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat bukan sekadar tentang perumahan, biaya hidup, atau keamanan publik.
Di seluruh kota, pemilih Generasi Z (Gen Z) memberikan dukungan kepada para kandidat yang mengecam perang genosida Israel di Gaza, membantu mengantarkan tiga kandidat Demokrat progresif yang didukung Wali Kota New York, Zohran Mamdani, meraih kemenangan dalam pemilihan pendahuluan.
Pengawas Keuangan (Comptroller) Kota New York Brad Lander dan aktivis komunitas Darializa Avila Chevalier berhasil mengalahkan masing-masing Dan Goldman dan petahana lima periode Adriano Espaillat. Sementara itu, anggota Majelis Negara Bagian New York Claire Valdez mengalahkan lawannya yang didukung oleh sebagian besar elite Partai Demokrat Kota New York.
Ketiganya merupakan anggota Democratic Socialists of America (DSA) dan berkampanye dengan platform yang satu dekade lalu masih dianggap berada jauh di luar arus utama Partai Demokrat.
Sejumlah pemilih muda Partai Demokrat mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) bahwa kengerian yang terus dilakukan Israel di Gaza membuat warga New York tidak dapat mendukung kandidat yang mengambil sikap lunak terhadap Israel.
Mereka terutama menyoroti kandidat yang tidak menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida, mendukung pendanaan Amerika Serikat bagi Israel dan militernya, atau menggunakan bahasa yang lebih hati-hati sebagaimana selama ini menjadi ciri respons Partai Demokrat.
“Genosida di Gaza adalah persoalan moral terbesar sepanjang hidup saya,” kata Eleanor Babaev, perencana acara berusia 28 tahun dari Sunnyside, Queens, kepada MEE.
“Saya pernah ikut demonstrasi menentang genosida di Gaza bersama Claire Valdez, sehingga saya benar-benar yakin bisa mempercayainya. Itulah alasan utama saya memilihnya,” tambah Babaev, yang ibunya merupakan seorang Yahudi Ashkenazi dari bekas Uni Soviet.
Adnan Bukhari, seorang pengorganisir politik dan anggota DSA, mengatakan kepada MEE bahwa kesamaan utama dalam kampanye para kandidat tersebut bukan hanya agenda progresif, tetapi juga keberanian mereka menyuarakan penolakan terhadap Israel secara terbuka.
“Jika seluruh perjalanan kampanye dianalisis sejak hari pertama, semua kandidat ini konsisten menyebutnya sebagai ‘genosida’,” kata Bukhari.
“Mereka tidak pernah mengubah pernyataan mereka mengenai apa yang terjadi di sana. Selama kampanye, dalam rapat umum maupun kegiatan menghubungi pemilih melalui telepon, mereka terus menyebutnya sebagai genosida. Saya bisa mengatakan bahwa Gaza adalah faktor utama, seratus persen.”
Bukhari, yang telah lebih dari satu dekade mengorganisasi kampanye kandidat Partai Demokrat dan turut berkampanye untuk Chevalier (DAC) serta Valdez, mengatakan kesimpulan tersebut berasal langsung dari percakapannya dengan para pemilih.
“Jika kami melakukan 10.000 panggilan telepon, maka dalam sekitar 7.000 panggilan, inilah topik utama yang dibicarakan,” ujarnya.
‘Sosialisme Bukan Lagi Kata yang Kotor’
Para penyelenggara kampanye progresif berpendapat bahwa Gaza menjadi titik balik politik bagi pemilih muda Demokrat karena berhasil menghubungkan penolakan terhadap intervensi militer Amerika Serikat di luar negeri dengan persoalan ketimpangan ekonomi dan pengeluaran publik di dalam negeri.
“Saya pikir kelompok kiri telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam menghubungkan persoalan di lingkungan tempat tinggal mereka dengan kebijakan luar negeri,” kata Bilal Tahir, direktur lapangan kampanye DAC sekaligus penyelenggara senior Partai Demokrat, kepada MEE.
“Jika kita menyerang Iran atas kehendak Israel, itu juga berkaitan dengan Gaza, karena kita memberikan senjata, uang, dan sumber daya kepada mereka, sementara mereka menghancurkan masyarakat di sana, sedangkan kita sendiri kekurangan layanan kesehatan, pendidikan, maupun perumahan.”
Tahir mengatakan banyak pemilih muda kini memandang Gaza dalam konteks yang lebih luas, yakni warisan perang yang dipimpin Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak.
“Ini adalah gerakan anti-perang, dan itu berlaku secara menyeluruh. Itulah cara kelompok kiri memosisikan diri.”
Tema-tema yang mendominasi pemilihan anggota Kongres juga menjadi bagian penting dari kampanye Mamdani dalam pemilihan wali kota, di mana penentangan terhadap perang Israel di Gaza dipadukan dengan kritik terhadap kekuasaan korporasi, ketimpangan ekonomi, dan elite Partai Demokrat.
“Yang paling menarik adalah, bahkan di pertengahan tahun pertamanya menjabat, Mamdani masih memiliki modal politik yang sangat besar dan masih menikmati masa bulan madu dengan para pendukungnya,” kata Gabriel Tennen, asisten profesor sejarah di Baruch College, kepada MEE.
“Hal ini juga menunjukkan bahwa ‘sosialisme’ bukan lagi istilah yang dianggap tabu dalam politik Amerika, terutama di kalangan pemilih muda Partai Demokrat, dan pepatah lama mantan Ketua DPR Tip O’Neil bahwa ‘semua politik adalah politik lokal’ kini tidak lagi sepenuhnya benar.”
Tennen menilai hasil pemilihan tersebut mencerminkan pergeseran politik antargenerasi, bukan berdasarkan etnis atau agama. Ia mencontohkan kemenangan Lander di salah satu distrik dengan populasi Yahudi terbesar di New York meskipun ia dikenal vokal mengkritik tindakan Israel di Gaza.
Lanskap Politik yang Berubah
Hasil pemilihan hari Selasa memperlihatkan perubahan sikap sebagian pemilih Yahudi di New York, yang selama ini dipandang sebagai konstituen penting di salah satu pusat politik pro-Israel paling berpengaruh di Amerika Serikat.
New York memiliki sekitar 1,3 juta warga Yahudi, populasi Yahudi terbesar di luar Israel. Namun demikian, Valdez dan Lander tetap menang di distrik yang memiliki banyak pemilih Yahudi meskipun mereka secara terbuka mengkritik perang Israel di Gaza.
“Genosida adalah isu paling penting pada masa kita,” kata Sam Leviton, warga Harlem berusia 23 tahun dan lulusan kesehatan masyarakat Universitas Columbia yang memilih DAC.
“Saya telah menjadi warga Yahudi New York sepanjang hidup saya, dan pelajaran yang saya peroleh adalah bahwa setiap orang, tanpa memandang ras, agama, keyakinan, ataupun warna kulit, berhak menjalani kehidupan yang bermartabat.”
“Gagasan bahwa uang pajak saya digunakan untuk menghancurkan rumah dan kehidupan orang lain di luar negeri benar-benar bertentangan dengan semua nilai yang diajarkan kepada saya sejak kecil,” tambahnya.
Hasil jajak pendapat terbaru juga menunjukkan adanya perubahan yang lebih luas.
Survei The Mellman Group pada Maret 2026 menemukan bahwa meskipun mayoritas pemilih Yahudi masih mengidentifikasi diri sebagai pendukung Partai Demokrat, sebagian besar menolak serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran dan berpendapat bahwa presiden seharusnya meminta persetujuan Kongres sebelum mengizinkan aksi militer.
Survei tersebut juga menunjukkan hanya 39 persen responden yang memiliki pandangan positif terhadap AIPAC, mengindikasikan bahwa kelompok lobi pro-Israel yang berpengaruh itu tidak lagi menikmati dukungan besar dari pemilih Yahudi.
AIPAC Menjadi Sorotan
AIPAC menjadi salah satu isu utama selama kampanye. Mamdani berulang kali menuduh organisasi tersebut menghabiskan “jutaan dolar dana gelap” untuk melindungi kandidat Demokrat dari kelompok elite.
Isu itu juga bergema di malam pemungutan suara ketika para pendukung Valdez meneriakkan slogan menentang AIPAC saat pidato kekalahan Dan Goldman ditayangkan di layar televisi.
Goldman kemudian mengakui bahwa perang di Gaza memainkan peran yang “sangat besar” dalam kekalahannya.
“AIPAC jelas berpihak kepada siapa pun yang sedang memegang kekuasaan, dan menggunakan uang serta kelompok-kelompok perantara untuk memengaruhi pemilu sehingga masyarakat tidak memperoleh kesempatan yang adil untuk memilih wakil yang benar-benar mewakili mereka,” kata Michael Kranz, seorang Yahudi Ashkenazi dan insinyur perangkat lunak dari Park Slope, kepada MEE.
Ia menunjuk pada keputusan Goldman yang memberikan suara bersama “Partai Republik sayap kanan untuk mengecam Mahkamah Pidana Internasional (ICC)” sebagai contoh pengaruh tersebut.
“Kelompok kepentingan yang bertindak demi kepentingan pemerintah asing tidak memiliki tempat dalam menentukan arah politik Distrik Kongres ke-10 New York,” tambahnya.
Bagi banyak kalangan progresif muda, pemilihan pendahuluan kali ini lebih dari sekadar kemenangan lokal.
Mereka melihat hasil tersebut sebagai bukti bahwa gerakan anti-perang, yang telah memobilisasi ratusan ribu orang terkait Gaza, mulai menemukan bentuk ekspresi politik yang lebih permanen melalui pemilu.
“Amerika membutuhkan gerakan anti-perang sepanjang hidup saya,” kata Joe Whitcomb, mahasiswa hukum berusia 24 tahun yang memilih Valdez, merujuk pada perang melawan teror yang dipimpin Amerika Serikat.
“Anda bisa mengerahkan jutaan orang turun ke jalan, tetapi itu tidak mengubah apa pun. Karena itu, kami mulai mencari cara untuk melakukan intervensi politik yang benar-benar menghasilkan perubahan.”
