GAZA MEDIA | Senin, 19 Oktober 2026
GAZA CITY — Harga bahan pokok di Jalur Gaza naik tajam sejak Israel menyatakan pada Rabu (14/10/2026) bahwa barang komersial tidak lagi masuk ke wilayah itu. Pembatasan tersebut memasuki hari kelima pada Minggu (18/10). Warga mulai menimbun kebutuhan pokok karena khawatir terjadi kelangkaan.
Israel dan otoritas di Gaza memberikan penjelasan yang saling bertentangan tentang penyebab penghentian ini.
Penjelasan yang Saling Bertentangan
COGAT, badan militer Israel yang mengawasi urusan kemanusiaan di Gaza, menyatakan para pedagang Gaza berhenti berkoordinasi dengan mereka soal masuknya barang komersial. Menurut COGAT, keputusan itu diambil sebagai tanggapan atas pungutan 10.000 shekel (sekitar 3.220 dolar AS) per truk dari Hamas dan tuntutan agar 30 persen penjualan dilakukan secara tunai.
Kantor Media Pemerintah di Gaza membantah tuduhan itu pada Kamis (15/10). Kantor tersebut menyatakan tidak ada pajak atau biaya pemerintah atas truk komersial. Angka 10.000 shekel, menurut mereka, terkait dana komunitas sukarela untuk keluarga rentan. Aturan tunai 30 persen disebut disepakati bersama Kamar Dagang untuk mengatasi kekurangan uang tunai dan beredarnya uang kertas lusuh.
Ketua serikat transportasi swasta Gaza, Nahed Shhaibar, mengatakan kepada Reuters bahwa tidak ada satu pun truk barang komersial dari Israel masuk pada Kamis. Truk bantuan kemanusiaan dan truk barang komersial dari Mesir melalui perlintasan yang dikuasai Israel tetap masuk. Menurut Times of Israel, Shhaibar juga menyebut Israel yang mengambil keputusan itu, sedangkan COGAT menegaskan para pedagang yang memulainya.
Jumlah Truk yang Dipersengketakan
COGAT memperkirakan keputusan para pedagang akan memangkas jumlah truk harian menjadi sekitar 300, atau separuhnya. Diplomat yang dikutip Reuters mengatakan jumlah truk yang masuk setiap hari biasanya jauh di bawah 600.
Kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat mewajibkan Israel mengizinkan minimal 600 truk bantuan kemanusiaan per hari. Israel menyatakan hanya wajib mengizinkan 600 truk dan barang komersial dibutuhkan untuk melengkapi pasokan bantuan. Kantor Media Pemerintah Gaza meminta mediator mendorong masuknya 600 truk per hari sesuai kesepakatan.
Warga Menanggung Kenaikan Harga
Ismail al-Barawi (52), warga Jabalia di Gaza utara, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa harga satu karton telur naik dari 35 shekel menjadi 60–70 shekel. Harga bawang per kilogram naik dari 5–6 shekel menjadi 8–10 shekel. Ia menanggung makan sekitar 11–12 anggota keluarga.
“Hari ini semua orang berdagang dengan mengorbankan rakyat. Tidak ada belas kasihan,” kata al-Barawi.
Iman Atallah (50), pengungsi di Beit Lahiya, mengatakan harga karung tepung naik dari 25–35 shekel menjadi sekitar 80 shekel. Keluarganya kini bergantung pada nasi dan lentil, dan kadang melewatkan sarapan atau makan malam.
Latar Belakang
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan harga pangan di Gaza pada September 2026 rata-rata 204 persen di atas level sebelum Oktober 2023, sebelum pembatasan terbaru diberlakukan.
Gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025. Menurut sumber medis Gaza yang dikutip kantor berita WAFA, korban tewas sejak 7 Oktober 2023 mencapai 74.389 jiwa per 13 Oktober 2026. Dalam periode yang sama, 1.498 orang tewas sejak gencatan senjata berlaku.
Hingga laporan terakhir yang tersedia (18/10), belum ada pengumuman bahwa pengiriman barang komersial dilanjutkan.
Sumber: Al Jazeera, 18 Oktober 2026 · Reuters, 15 Oktober 2026 · The Times of Israel · Bernama-WAFA, 13 Oktober 2026


