ASKALAN – Aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) Saif Abukeshek meningkatkan aksi protesnya dengan melakukan mogok makan di dalam tahanan Israel setelah pengadilan distrik Beer Sheva menolak banding atas penahanannya. Dalam aksi tersebut, Saif menolak makanan sekaligus air sebagai bentuk perlawanan terhadap proses hukum yang tidak sah dan sewenang-wenang.
Pernyataan itu disampaikan oleh Global Sumud Flotilla (GSF) melalui siaran pers resmi tertanggal 6 Mei 2026. Organisasi tersebut menyebut Saif dan aktivis asal Brasil, Thiago Ávila, tetap ditahan hingga sidang berikutnya pada Minggu, 10 Mei 2026, pukul 09.00 waktu setempat.
Kedua aktivis diketahui telah melakukan mogok makan sejak ditangkap oleh pasukan Israel di perairan internasional pada Kamis pekan lalu. Penahanan mereka memicu sorotan internasional karena dianggap melanggar hukum maritim internasional dan hak asasi manusia.
Menurut GSF, keputusan pengadilan Israel didasarkan pada “bukti rahasia” yang tidak dapat diakses ataupun dibantah oleh para terdakwa maupun tim pengacara mereka. Kuasa hukum dari Adalah Legal Center menilai proses tersebut bertentangan dengan prinsip peradilan yang adil.
“Saif ditahan bukan karena tindakan kriminal, melainkan karena komitmen politik dan solidaritas kemanusiaannya terhadap rakyat Gaza,” demikian isi pernyataan GSF.
GSF juga menegaskan bahwa penangkapan keduanya dilakukan terhadap kapal berbendera Italia di perairan internasional, sekitar 600 mil laut dari Gaza. Mereka menyebut tindakan itu sebagai penculikan di luar yurisdiksi hukum dan pelanggaran terhadap Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah Italia sebelumnya dilaporkan turut mengecam operasi tersebut karena kapal yang digunakan berada di bawah yurisdiksi Italia. Sementara itu, pengacara Hadeel Abu Salih dan Lubna Tuma menyatakan tidak ada dasar hukum yang sah untuk melakukan penangkapan terhadap kedua aktivis tersebut.
Dalam keterangannya, GSF memperingatkan bahwa mogok makan kering merupakan kondisi medis darurat yang sangat berbahaya. Tanpa asupan cairan, risiko gagal organ permanen hingga kematian dapat terjadi dalam waktu 72 hingga 96 jam.
Selain itu, laporan yang diterima organisasi tersebut menyebut Saif dan Thiago ditempatkan dalam sel isolasi dengan pencahayaan intens selama 24 jam penuh, yang diduga menyebabkan gangguan tidur dan tekanan psikologis berat.
GSF menilai penahanan terhadap para peserta armada kemanusiaan internasional itu merupakan bagian dari pola kekerasan negara yang selama bertahun-tahun diterapkan terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat, termasuk penggunaan penahanan administratif tanpa proses hukum yang transparan.
“Mogok makan kering yang dilakukan Saif adalah seruan kepada dunia agar membuka mata terhadap kelaparan yang diproduksi secara sistematis di Gaza serta mendesak pertanggungjawaban Israel atas tindakan-tindakannya terhadap rakyat Palestina,” tulis GSF dalam pernyataannya.
Organisasi tersebut mendesak pembebasan segera dan tanpa syarat terhadap Saif Abukeshek, Thiago Ávila, serta seluruh tahanan politik Palestina yang saat ini berada dalam tahanan Israel.***
#GlobalSumudFlotilla #MenembusBlokadeGaza #SaifAbukeshek #ThiagoAvila


