
Ada satu hal yang terasa tetap dari hari ke hari ketika membaca laporan dari Gaza. Bukan hanya suara ledakan. Bukan hanya angka korban. Tapi pola yang berulang. Kekerasan hadir, jeda diumumkan, lalu kekerasan kembali dengan wajah yang sama. Di titik ini, kita perlu jujur melihat. Ini bukan sekadar konflik dua pihak yang setara. Ada relasi kuasa yang timpang. Ada struktur yang membuat satu pihak terus berada dalam posisi tertekan. Dan selama struktur itu tidak berubah, setiap gencatan hanya menjadi jeda, bukan solusi.
Berita terbaru kembali menegaskan hal tersebut. Warga sipil tetap menjadi korban. Ruang hidup semakin sempit. Akses terhadap kebutuhan dasar terganggu. Dalam kondisi seperti ini, istilah “normal” kehilangan maknanya. Yang menarik bukan hanya apa yang terjadi di Gaza. Tapi bagaimana dunia meresponsnya. Dunia modern memiliki semua perangkat. Media global. Lembaga internasional. Forum diplomasi. Namun ketika berhadapan dengan Gaza, semua itu seperti bergerak lambat, bahkan diam.
Di sinilah persoalan moral menjadi jelas. Ketika kekuatan besar memilih diam, diam itu bukan netral. Diam menjadi posisi. Dan sering kali, diam berarti membiarkan.
Kita hidup di zaman ketika informasi begitu mudah diakses. Setiap orang bisa melihat gambar, membaca laporan, mengikuti perkembangan. Tapi kedekatan informasi tidak selalu melahirkan kedekatan sikap. Ada jarak antara tahu dan peduli. Ada jarak antara peduli dan bertindak. Gaza kemudian tidak hanya menjadi isu geopolitik. Gaza berubah menjadi cermin. Ia memantulkan kondisi batin kita. Seberapa jauh kita masih merasa terusik oleh ketidakadilan. Seberapa kuat kita menahan diri untuk tidak terbiasa.
Ada bahaya lain yang lebih halus. Normalisasi penderitaan. Ketika berita tentang korban menjadi rutinitas. Ketika angka kematian dibaca seperti statistik biasa. Di titik itu, yang hilang bukan hanya empati, tapi juga kemanusiaan itu sendiri.
Dalam banyak kesempatan, para dai yang lama berada di wilayah konflik mengingatkan satu hal. Ujian terbesar bukan hanya bagi mereka yang tertindas. Tapi juga bagi mereka yang menyaksikan dari jauh. Karena jarak sering melahirkan kenyamanan. Dan kenyamanan sering melemahkan sikap.
Maka pertanyaannya bukan lagi apa yang terjadi di Gaza. Pertanyaannya adalah, apa posisi kita di tengah semua ini.
Sikap pertama ada pada hati. Menjaga agar empati tidak padam. Ini terlihat sederhana, tapi di tengah arus informasi yang deras, ini menjadi pekerjaan yang berat. Sikap kedua ada pada lisan. Menyampaikan kebenaran bukan soal retorika, tapi soal keberanian untuk tidak ikut dalam arus pembenaran yang salah. Informasi yang jujur menjadi bagian dari perlawanan.
Sikap ketiga ada pada tindakan. Dalam batas yang ada, setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi. Bantuan kemanusiaan, dukungan terhadap lembaga yang amanah, dan keterlibatan dalam gerakan sosial menjadi bentuk nyata dari kepedulian. Tidak semua orang berada di garis depan konflik. Tapi setiap orang berada di garis depan pilihan. Memilih untuk peduli atau tidak. Memilih untuk diam atau bersuara. Gaza tidak hanya berbicara tentang penderitaan sebuah wilayah. Gaza berbicara tentang keadilan yang belum selesai. Dan lebih dari itu, Gaza berbicara tentang kita.
Selama ketidakadilan itu masih berlangsung, ujian ini belum berakhir. Dan selama itu pula, posisi kita akan terus dipertanyakan. (mhg)



