GAZA CITY — Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, pada Selasa (15/9) menyatakan bahwa proses evakuasi ratusan jenazah dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza memunculkan kekhawatiran baru soal kemungkinan kejahatan perang. Pernyataan tersebut disampaikan dari Jenewa menyusul rangkaian temuan jenazah, termasuk yang diduga merupakan anggota satu keluarga utuh, di lokasi-lokasi yang hancur total akibat serangan sejak awal perang.
Menurut Türk, sebagian besar korban yang ditemukan adalah perempuan dan anak-anak. Ia menyebut temuan ini menghidupkan kembali kekhawatiran yang pernah diangkat dalam laporan PBB tahun 2024, yang menyimpulkan bahwa serangan Israel terhadap bangunan permukiman dan lokasi sipil lain pada pekan-pekan awal perang berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.
“Sangat menyayat hati bahwa keluarga korban yang telah lama menghilang baru sekarang mendapati kekhawatiran terburuk mereka menjadi kenyataan,” kata Türk dalam pernyataan tertulis yang dirilis kantornya di Jenewa, Selasa (15/9).
Ratusan Jenazah Ditemukan di Zeitoun
Badan Pertahanan Sipil Gaza yang dikelola otoritas Hamas melaporkan lebih dari 630 jenazah dan sisa-sisa manusia telah ditemukan dari bawah reruntuhan bangunan di seluruh Jalur Gaza sejak November 2025. Otoritas Palestina memperkirakan sekitar 8.000 jenazah lain masih terkubur di bawah puing bangunan.
Bulan ini, Badan Pertahanan Sipil melaporkan 96 jenazah dan sisa-sisa manusia ditemukan dari satu lokasi saja di kawasan Zeitoun, Kota Gaza, termasuk 58 anak-anak dan 23 perempuan.
Türk mengatakan ia khawatir jumlah jenazah yang telah ditemukan baru merupakan sebagian kecil dari total sebenarnya, mengingat sebagian besar wilayah Gaza telah rata dengan tanah akibat pengeboman maupun operasi pembongkaran dan pembersihan menggunakan alat berat.
Alat Berat Dibatasi, Investigator Diminta Diberi Akses
Menurut pernyataan Türk, Israel masih membatasi masuknya alat berat serta perlengkapan seperti kit DNA yang dibutuhkan untuk proses evakuasi dan identifikasi jenazah. Kepala kantor HAM PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Ajith Sunghay, menyebut pembatasan tersebut menghambat upaya pemulihan dan identifikasi korban.
Türk juga menuding aparat Israel masih meratakan sejumlah kawasan di Gaza tempat pasukannya masih berjaga, menggunakan buldoser tanpa memperhatikan keberadaan jenazah di bawah reruntuhan. Ia mendesak agar investigator internasional diberi akses ke seluruh wilayah Gaza guna membantu pengumpulan bukti.
“Setiap upaya yang memungkinkan harus dilakukan untuk mendokumentasikan dan mengidentifikasi para korban, menjaga informasi forensik dan sampel biologis, mencatat lokasi pemakaman, serta memberi tahu keluarga mereka,” ujar Türk dalam pernyataan yang sama.
Kantor Pihak Perdana Menteri dan Kementerian Luar Negeri Israel belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut hingga berita ini diturunkan.
Konteks
Perang di Gaza yang dimulai sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 menyisakan sekitar 61 juta ton puing dan reruntuhan di Jalur Gaza. Sebuah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, namun serangan-serangan Israel dilaporkan masih terus terjadi di sejumlah wilayah Gaza sejak saat itu.


