HomeAnalisis dan OpiniAnalisaSumud: Mengapa Tujuh Dekade Pengusiran Gagal Menghapus Palestina

Sumud: Mengapa Tujuh Dekade Pengusiran Gagal Menghapus Palestina

Telaah atas konsep paling dalam dalam jiwa Palestina — sebuah bentuk perlawanan yang tidak meledak, tidak berteriak, melainkan bertahan; keteguhan untuk tetap ada ketika seluruh kekuatan dunia dikerahkan untuk membuatmu tiada

Ada sebuah foto yang telah menjadi ikon: seorang perempuan tua Palestina memeluk erat batang pohon zaitun, tubuhnya menjadi perisai, ketika buldoser bersiap mencabutnya. Ia tahu ia mungkin tidak akan menang melawan mesin baja itu. Tetapi ia tetap memeluk. Dalam pelukan yang tampak sia-sia itu, terkandung sebuah konsep yang menjadi inti jiwa Palestina selama lebih dari setengah abad — sebuah kata yang tidak punya padanan persis dalam bahasa mana pun: sumud. Dan untuk memahami Palestina, untuk memahami mengapa sebuah bangsa yang telah kehilangan begitu banyak menolak untuk lenyap, kita harus terlebih dahulu memahami kata ini.

Dalam bahasa Arab, sumud (صمود) berasal dari kata kerja samada — bertahan, teguh, tak tergoyahkan. Ia biasa diterjemahkan sebagai “keteguhan” atau “ketabahan”, tetapi para penutur aslinya bersikeras bahwa tak satu pun terjemahan itu menangkap bobot sesungguhnya. Sumud bukan sekadar bertahan hidup, dan bukan pula perlawanan yang berteriak. Ia, dalam kata-kata yang indah dari para penjaga konsep ini, adalah “penolakan yang tenang untuk menghilang”.

Analisis ini hendak menyelami sumud bukan sebagai slogan, melainkan sebagai filosofi perlawanan yang utuh — dengan akar sejarah, simbol, dan praktiknya. Sebab di tengah semua berita tentang rudal, korban, dan perundingan, ada sebuah kekuatan Palestina yang jauh lebih sulit dikalahkan daripada senjata apa pun: kemauan untuk tetap ada. Dan justru kekuatan inilah, yang tampak begitu lembut, yang paling ditakuti oleh proyek penghapusan.

Kelahiran Sebuah Kata

Sumud sebagai istilah politik lahir dari sebuah kekalahan. Setelah Perang 1967 — yang oleh orang Palestina disebut Naksa, kemunduran — ketika rezim Zionis menduduki Tepi Barat, Gaza, dan Al-Quds Timur, rakyat Palestina menghadapi pertanyaan eksistensial: bagaimana melawan ketika kekuatan militer tampak mustahil ditandingi? Jawaban yang muncul bukanlah semata-mata angkat senjata, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: tetap tinggal. Tetap berada di tanah. Menolak pergi.

Namun kesadaran ini berakar lebih dalam dari 1967. Ia mengalir dari Revolusi Besar 1936-1939 melawan Mandat Inggris, dan dari luka Nakba 1948 ketika lebih dari 750 ribu warga Palestina terusir dan ratusan desa dihancurkan. Sumud, dengan kata lain, adalah nama yang diberikan belakangan kepada naluri yang sudah jauh lebih tua: naluri sebuah bangsa untuk tidak menghilang dari sejarah. Pada tahun 1970-an, Organisasi Pembebasan Palestina bahkan melembagakannya melalui “Dana Keteguhan” (Steadfastness Fund), yang memberi dukungan finansial kepada warga Palestina agar mampu bertahan di tanah mereka di bawah pendudukan.

Sumud lahir dari sebuah kekalahan militer, lalu tumbuh menjadi kemenangan yang jenisnya berbeda: kemenangan atas penghapusan.

Pohon Zaitun: Mengapa Sebatang Pohon Bisa Menjadi Ancaman

Tidak ada simbol yang lebih mewakili sumud daripada pohon zaitun. Bagi orang luar, ini mungkin tampak puitis belaka. Tetapi bagi Palestina, pohon zaitun adalah politik yang hidup. Pohon ini berakar dalam, hidup berabad-abad, dan memiliki kemampuan luar biasa untuk tumbuh kembali bahkan setelah ditebang atau dibakar. Ia adalah cermin sempurna dari Palestina itu sendiri: berakar di tanah, sulit dicabut, dan terus bertunas kembali betapapun sering dihancurkan.

Inilah sebabnya pohon zaitun menjadi sasaran. Selama beberapa dekade, ribuan pohon zaitun Palestina telah dicabut atau dibakar oleh pasukan dan pemukim Zionis — bukan karena pohon itu berbahaya secara fisik, melainkan karena ia adalah klaim atas tanah, akar, dan kesinambungan. Dan setiap kali pohon dicabut, respons sumud selalu sama: menanam yang baru. Semakin banyak yang dihancurkan, semakin banyak yang ditanam kembali. Di Gaza, bahkan di tengah genosida, ada inisiatif warga yang menanami bibit-bibit sebagai bentuk perlawanan terhadap penghapusan. Menanam pohon, di Palestina, adalah pernyataan politik: aku akan tetap di sini cukup lama untuk memetik buahnya.

Sebatang pohon zaitun lebih berbahaya daripada senjata, karena ia berkata: aku berakar di sini, dan aku tidak akan pergi.

Penyair besar Palestina, Mahmoud Darwish — yang dijuluki “penyair perlawanan” — mengabadikan ikatan ini dalam kumpulan puisinya yang berjudul Daun-Daun Zaitun (Awraq Al Zaytun). Dalam salah satu barisnya yang termasyhur, ia menulis bahwa seandainya pohon-pohon zaitun mengenali tangan yang menanamnya, minyaknya akan berubah menjadi air mata. Puisi, bagi Palestina, bukan hiasan; ia adalah salah satu bentuk sumud yang paling murni — cara menjaga ingatan dan identitas tetap hidup ketika segala yang fisik direnggut.

Dua Wajah Keteguhan

Penting untuk memahami bahwa sumud bukanlah konsep yang beku atau pasif. Para pemikir Palestina, terutama setelah Perjanjian Oslo 1993, membedakan dua bentuknya. Yang pertama adalah sumud statis — tindakan sederhana namun mendasar untuk tetap tinggal di tanah Palestina di tengah pendudukan dan serangan pemukim. Sekadar tidak pergi, sekadar bertahan, sudah merupakan perlawanan ketika seluruh sistem dirancang untuk mengusirmu.

Yang kedua, dan lebih dalam, adalah sumud muqawim — keteguhan yang aktif. Ini bukan sekadar bertahan, melainkan membangun: mendirikan institusi, merawat kebudayaan, menciptakan kehidupan ekonomi, mendidik anak-anak, dan menjaga tradisi tetap hidup, semuanya di bawah pendudukan dan sebagai bentuk perlawanan harian. Penulis dan pengacara Palestina Raja Shehadeh, dalam pemikiran yang kemudian dikutip oleh Noam Chomsky, menggambarkan tiga respons terhadap pendudukan: kebencian buta yang berujung kekerasan, ketundukan diam yang menyerah, dan — jalan ketiga — jalan sang Samid, orang yang teguh, yang menolak baik kekerasan membuta maupun penyerahan diri. Sumud adalah jalan tengah yang paling sulit sekaligus paling bermartabat: menolak kalah tanpa kehilangan kemanusiaan.

Keteguhan yang Terukir dalam Benda dan Kebiasaan

Salah satu hal yang membuat sumud begitu kuat adalah bahwa ia tidak hidup di menara gading para pemikir, melainkan dalam benda-benda dan kebiasaan sehari-hari rakyat biasa. Sumud terukir dalam budaya material Palestina — dalam objek yang dibuat, disimpan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kunci rumah yang dibawa para pengungsi Nakba dan diwariskan kepada cucu-cucu mereka adalah sumud. Kufiya, kain bermotif khas yang dikenakan sebagai pernyataan identitas, adalah sumud. Sulaman tradisional (tatreez) yang dijahit perempuan Palestina, dengan pola yang menandai desa asal masing-masing, adalah sumud yang dirajut benang demi benang.

Bahkan tindakan-tindakan yang tampak paling biasa memikul makna ini. Petani yang merawat kebun zaitunnya di bawah ancaman, perajin yang terus menenun ketika pasarnya nyaris lenyap, keluarga yang membangun kembali rumah yang dibom untuk kesekian kalinya — semuanya adalah praktik sumud. Inilah yang membuat konsep ini begitu demokratis: ia tidak menuntut kepahlawanan luar biasa, melainkan kesetiaan pada hal-hal kecil yang, jika dilakukan dengan tekad untuk tidak menyerah, menjadi benteng terakhir melawan penghapusan. Setiap orang Palestina, dari petani hingga penyair, bisa menjadi Samid.

Eksistensi adalah Perlawanan

Ada sebuah ungkapan yang merangkum seluruh filosofi ini: “eksistensi adalah perlawanan” (existence is resistance). Dalam konteks Palestina, kalimat ini bukan retorika kosong. Ketika sebuah proyek politik secara eksplisit bertujuan membuat sebuah bangsa lenyap — dari tanahnya, dari peta, dari ingatan dunia — maka tindakan paling subversif yang bisa dilakukan bangsa itu adalah sekadar terus ada. Setiap kelahiran bayi Palestina, setiap pernikahan, setiap panen zaitun, setiap anak yang belajar membaca, setiap rumah yang dibangun kembali di atas reruntuhan, adalah penolakan terhadap penghapusan.

Inilah mengapa sumud begitu sulit dikalahkan. Senjata bisa dihadapi dengan senjata yang lebih besar; tetapi bagaimana cara mengalahkan kemauan untuk tetap ada? Bagaimana membuldoser sebuah identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi? Setelah lebih dari tujuh dekade pendudukan, pengusiran, dan upaya penghapusan, rakyat Palestina masih ada — masih mempertahankan identitas nasional mereka hingga empat generasi, masih menjaga semangat itu tetap menyala. Media sosial dan media digital hari ini bahkan menjadi medan sumud baru, tempat narasi Palestina dijaga agar tidak terhapus oleh narasi penjajah.

Bagaimana cara mengalahkan kemauan untuk tetap ada? Itulah pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab oleh kekuatan mana pun yang mencoba menghapus Palestina.

Sumud dan Kita di Indonesia

Mengapa konsep ini penting bagi kita di Indonesia? Karena sumud mengajarkan sesuatu tentang sifat solidaritas yang sejati. Jika perlawanan Palestina yang paling mendasar adalah ketahanan jangka panjang — keteguhan yang bertahan lintas generasi — maka solidaritas kita pun harus berwatak serupa. Bukan simpati yang menyala sesaat lalu padam, melainkan komitmen yang teguh, yang tidak surut ketika Gaza tidak lagi menjadi tajuk utama.

Sebagai bangsa yang lahir dari perjuangan panjang melawan kolonialisme, kita memahami bahwa kemerdekaan tidak diraih dalam semalam, melainkan melalui keteguhan yang diuji waktu. Para pendiri bangsa kita menanamkan dalam konstitusi bahwa penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan. Sumud Palestina adalah cermin dari semangat yang sama — dan dengan menghormatinya, kita sebenarnya sedang menghormati akar perjuangan kita sendiri. Belajar dari sumud berarti belajar bahwa kesetiaan yang panjang lebih berharga daripada kemarahan yang sekejap.

Yang Tersisa untuk Kita Lakukan

Jika sumud adalah keteguhan untuk tetap ada, maka dukungan kita pun harus menjadi keteguhan untuk tetap peduli. Ada tiga hal konkret yang bisa kita lakukan sebagai pembaca Indonesia:

  1. Jadikan solidaritas sebagai komitmen jangka panjang, bukan tren. Tiru watak sumud itu sendiri: konsisten, sabar, tak surut oleh waktu. Teruslah peduli, teruslah belajar, dan teruslah menyuarakan keadilan Palestina bahkan ketika ia tidak sedang viral. Ketahanan perhatian kita adalah cerminan dari ketahanan mereka.
  2. Dukung yang menopang kehidupan, bukan hanya yang meredakan krisis. Sumud muqawim adalah tentang membangun dan menopang kehidupan. Dukung lembaga yang membantu warga Palestina bertahan di tanahnya — pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian — melalui INH, MER-C, Sahabat Al-Aqsha, dan Adara Foundation, serta zakat-infak via BAZNAS, Dompet Dhuafa, atau Rumah Zakat. Membantu mereka tetap ada adalah membantu sumud itu sendiri.
  3. Jaga narasi dan ingatan tetap hidup. Di era digital, menjaga narasi Palestina agar tidak terhapus adalah bentuk sumud modern yang bisa kita ikut perankan. Bagikan kisah, puisi, sejarah, dan budaya Palestina — bukan hanya penderitaannya. Mengangkat kebudayaan sebuah bangsa adalah menolak penghapusannya.

Yang Berakar Tak Akan Tumbang

Mari kita kembali pada perempuan tua yang memeluk pohon zaitunnya. Secara fisik, ia mungkin kalah hari itu; buldoser mungkin menang, pohon mungkin tumbang. Tetapi dalam arti yang lebih dalam, ia telah memenangkan sesuatu yang tak bisa direbut oleh mesin baja mana pun. Ia telah menyatakan, dengan seluruh tubuhnya, bahwa tanah ini adalah miliknya, bahwa akarnya ada di sini, dan bahwa ia menolak untuk pergi. Dan pernyataan itu, yang diwariskan kepada anak dan cucunya, akan hidup jauh lebih lama daripada pohon yang tumbang itu.

Inilah rahasia sumud yang tidak pernah dipahami oleh mereka yang hanya percaya pada kekuatan. Mereka mengira bahwa dengan cukup banyak bom, cukup banyak buldoser, cukup banyak pengusiran, sebuah bangsa bisa dihapus. Tetapi sebuah bangsa bukanlah bangunan yang bisa dirobohkan; ia adalah akar yang menjalar di bawah tanah, tak terlihat namun hidup, siap bertunas kembali di musim yang paling tak terduga. Selama masih ada satu orang Palestina yang menanam zaitun, mengajari anaknya nama desa leluhurnya, atau sekadar menolak untuk pergi, maka penghapusan itu telah gagal.

Sumud mengajarkan kita bahwa bentuk perlawanan yang paling tahan lama bukanlah yang paling keras, melainkan yang paling berakar. Bahwa terkadang, tindakan paling revolusioner adalah sekadar bertahan: bangun pagi, menyiram tanaman, membesarkan anak, dan menolak menyerah pada keputusasaan yang dirancang untuk menelanmu. Dalam dunia yang memuja kekuatan dan kecepatan, keteguhan yang sabar dan berakar adalah sejenis keajaiban.

Maka pertanyaan yang ditinggalkan kepada kita bukanlah tentang siapa yang punya senjata lebih banyak, sebab pertanyaan itu sudah terlalu sering ditanyakan dan jawabannya tak pernah mengakhiri ketidakadilan. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: ketika sebuah bangsa memilih untuk berakar sedalam pohon zaitun dan menolak untuk lenyap, kekuatan apa di dunia ini yang benar-benar mampu mencabutnya — dan beranikah kita ikut menjaga agar akar itu tetap hidup? (IW)

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler