GAZA MEDIA – Data yang bersumber dari media berbahasa Ibrani pada Minggu (4/10) menyebutkan  1.318 personel militer dan aparat keamanan Israel tewas sejak 7 Oktober 2023 dalam berbagai perang dan operasi militer yang dilakukan Israel di Jalur Gaza, Lebanon, Tepi Barat yang diduduki, serta sejumlah wilayah lainnya.
Situs berbahasa Ibrani, Walla, mengutip data dari Kementerian Pertahanan Israel yang menyebutkan  angka tersebut mencakup personel militer, kepolisian, Shin Bet, petugas layanan pemasyarakatan, petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan, serta petugas keamanan di permukiman dan anggota tim kesiapsiagaan lokal.
Menurut stasiun televisi Kan, total warga Israel yang tewas selama tiga tahun terakhir mencapai 2.347 orang. Dari jumlah tersebut, 1.318 orang merupakan personel militer dan aparat keamanan, sementara 1.029 lainnya berasal dari kelompok sipil atau kategori lainnya.
Data tersebut menunjukkan jumlah personel militer dan aparat keamanan yang tewas meningkat dari 1.152 orang setelah dua tahun perang menjadi 1.318 orang saat ini. Artinya, terdapat tambahan 166 kematian pada tahun ketiga.
Departemen Keluarga, Peringatan dan Warisan di Kementerian Pertahanan Israel juga menyatakan  lebih dari 7.150 orang telah masuk dalam kategori yang disebut sebagai “keluarga yang berduka” sejak 7 Oktober 2023.
Angka tersebut mencakup mereka yang tewas selama operasi militer di Jalur Gaza, wilayah perbatasan utara dan Lebanon, Tepi Barat, serta operasi yang berkaitan dengan front lainnya.
Namun, data tersebut muncul di tengah pembatasan militer Israel terhadap publikasi informasi mengenai korban dan operasi militer. Kondisi ini membatasi kemungkinan verifikasi independen terhadap jumlah korban sebenarnya, terutama karena statistik resmi hanya mencakup kategori tertentu.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah menjalankan berbagai operasi dan perang militer yang terutama berlangsung di Jalur Gaza, Lebanon, dan Tepi Barat, selain konfrontasi dengan Iran.


