Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik publik yang jarang terjadi terhadap tindakan militer Israel di Lebanon. Ia memperingatkan bahwa Israel telah menewaskan terlalu banyak warga sipil dalam perang melawan Hezbollah dan tidak perlu menghancurkan seluruh bangunan apartemen hanya untuk memburu satu target tertentu, dilansir dari lama Middle East Monitor, Rabu (17/6).
Berbicara kepada wartawan dalam KTT G7 di Prancis, Trump mengatakan, “Israel telah terlalu lama memerangi Hezbollah, dan terlalu banyak orang yang terbunuh. Anda tidak perlu merobohkan sebuah gedung apartemen setiap kali mencari seseorang. Karena ada banyak orang di gedung-gedung apartemen itu, dan saya bisa memastikan bahwa tidak semuanya anggota Hezbollah.”
Pernyataan tersebut dipandang sebagai kritik yang luar biasa tegas dari seorang presiden AS yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu terkuat Israel. Komentar itu juga dianggap mengakui apa yang selama ini disampaikan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan para pakar hukum internasional, yakni bahwa praktik Israel mengebom bangunan permukiman dengan alasan menargetkan pejuang bersenjata merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional.
Berdasarkan Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional (ICC), serangan yang secara sengaja diarahkan kepada warga sipil atau objek sipil yang bukan sasaran militer merupakan kejahatan perang. Hukum perang juga melarang serangan yang diperkirakan akan menyebabkan kerugian terhadap warga sipil secara berlebihan dibandingkan keuntungan militer yang diharapkan.
Trump kemudian mengungkapkan bahwa dirinya telah menyarankan Israel untuk membiarkan Suriah menangani Hezbollah.
“Saya menyarankan kepada Israel agar membiarkan Suriah menangani Hezbollah, karena sejujurnya saya pikir mereka akan melakukan pekerjaan yang lebih baik,” ujarnya.
Komentar Trump secara luas dipandang sebagai bentuk frustrasi terhadap serangan-serangan Israel di Lebanon yang menurutnya berisiko mengganggu upaya lebih luas pemerintahannya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.
Pernyataan tersebut menjadi pukulan politik bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang selama ini bersikeras bahwa operasi militer Israel di Lebanon diperlukan demi keamanan nasional. Ucapan Trump mengindikasikan bahwa Washington tidak lagi bersedia memberikan pembelaan tanpa batas terhadap serangan-serangan Israel yang menyebabkan kematian warga sipil dan penghancuran infrastruktur sipil.
Trump juga memberikan pukulan terhadap narasi propaganda Israel mengenai Iran. Saat berbicara tentang para pejabat Iran, ia mengatakan:
“Kami sedang berurusan dengan orang-orang yang menurut saya sangat rasional, dan mereka menyenangkan untuk diajak berunding. Mereka adalah orang-orang yang kuat, cerdas… Namun mereka bukan kaum radikal dan mereka ingin membantu negara mereka.”
Selama beberapa dekade, para pemimpin Israel menggambarkan Iran sebagai musuh yang irasional dan fanatik yang hanya memahami bahasa kekuatan. Deskripsi Trump yang menyebut pejabat Iran sebagai pihak yang “rasional”, “kuat”, dan “cerdas” dinilai melemahkan narasi tersebut pada saat yang krusial, ketika pemerintahannya terus mendorong tercapainya pemahaman antara AS dan Iran meskipun mendapat keberatan dari Israel.
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya tanda-tanda ketegangan dalam hubungan AS-Israel setelah tercapainya kesepakatan dengan Iran. Sejumlah analis menggambarkan hubungan kedua negara saat ini berada di “persimpangan jalan”, dengan Trump mendesak Netanyahu agar tidak menggagalkan kerangka gencatan senjata, sementara para pejabat Israel khawatir kesepakatan tersebut dapat membatasi kebebasan mereka untuk bertindak di Lebanon dan wilayah lainnya.
Komentar Trump juga tampak memperkuat kekhawatiran Israel yang semakin besar terhadap kemungkinan ditinggalkan oleh Amerika Serikat.
Menurut laporan The National, Trump mengatakan kepada wartawan dalam KTT tersebut:
“Tanpa kami, tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel.”
Pernyataan itu menjadi salah satu sinyal paling jelas mengenai ketegangan yang berkembang antara pemerintahan Trump dan pemerintah Netanyahu, terutama terkait perang di Lebanon dan pendekatan Washington terhadap Iran.
