HomeSejarah Indonesia-Palestina25 Juni dan Aritmetika Nyawa: Apa yang Diajarkan Satu Pertukaran Tahanan tentang...

25 Juni dan Aritmetika Nyawa: Apa yang Diajarkan Satu Pertukaran Tahanan tentang Nilai Manusia Palestina

Mengenang sebuah peristiwa yang terjadi pada hari ini di tahun 2006 — dan menelusuri pertanyaan yang ditinggalkannya: mengapa pembebasan satu orang menuntut harga lebih dari seribu orang lain, dan apa makna ketimpangan itu bagi kita yang menjunjung kesetaraan martabat manusia

Pada pagi hari Minggu, 25 Juni 2006, sekitar pukul setengah enam, sekelompok pejuang Palestina dari Gaza menembus perbatasan melalui sebuah terowongan sepanjang tiga ratus meter di dekat perlintasan Kerem Shalom. Mereka menyerang sebuah pos militer Israel. Ketika debu mengendap, dua tentara Israel dan dua pejuang Palestina tewas, dan seorang tentara muda bernama Gilad Shalit ditawan dan dibawa ke Gaza. Peristiwa hari itu, yang terjadi tepat pada tanggal ini bertahun-tahun lalu, akan memicu sebuah rangkaian peristiwa yang pada akhirnya mengungkap salah satu kebenaran paling memilukan tentang konflik ini: betapa timpangnya dunia menilai nyawa seorang Israel dibandingkan nyawa rakyat Palestina.

Lima tahun kemudian, pada Oktober 2011, Gilad Shalit dibebaskan. Harga kebebasannya: lebih dari seribu tahanan Palestina — tepatnya 1.027 orang — dilepaskan dari penjara Israel. Satu tentara, ditukar dengan lebih dari seribu jiwa. Angka ini bukan sekadar statistik perundingan; ia adalah cermin yang memantulkan sebuah ketimpangan yang jauh lebih dalam, sebuah aritmetika nyawa yang mengusik nurani siapa pun yang percaya pada kesetaraan martabat manusia.

Kolom ini hendak menelusuri peristiwa 25 Juni 2006 itu bukan untuk merayakan kekerasan dari pihak mana pun — dua tentara tewas hari itu, dan setiap nyawa adalah kehilangan — melainkan untuk membaca apa yang diungkapkan oleh rangkaian peristiwa sesudahnya. Sebab di balik kisah satu tentara yang ditawan, tersembunyi kisah ribuan warga Palestina yang ditahan, banyak di antaranya tanpa pernah diadili, dan sebuah pertanyaan yang menggantung hingga hari ini: berapa sebenarnya nilai sebuah nyawa Palestina di mata dunia?

Satu Nama yang Dikenal Dunia

Selama lima tahun penawanannya, nama Gilad Shalit dikenal seluruh dunia. Wajahnya muncul di sampul majalah, namanya diserukan dalam demonstrasi, orang tuanya melakukan pawai dua belas hari yang berakhir dengan aksi duduk di depan kediaman Perdana Menteri Israel. Pemerintah Israel mengerahkan segala daya — diplomatik, militer, dan media — untuk membebaskannya. Ada operasi militer besar bernama “Hujan Musim Panas” yang diluncurkan pada 28 Juni 2006, hanya tiga hari setelah penawanannya, yang menewaskan lebih dari empat ratus warga Palestina.

Tidak ada yang salah dengan sebuah bangsa yang memperjuangkan warganya. Kepedulian Israel terhadap satu tentaranya, dalam dirinya sendiri, adalah hal yang manusiawi. Persoalannya bukan terletak pada perhatian yang diberikan kepada Shalit, melainkan pada kontras yang menganga: ketika satu nama Israel dikenal seluruh dunia, ribuan nama Palestina yang mendekam di penjara tetap anonim, tak terucap, tak terhitung. Dunia hafal nama Gilad Shalit; berapa banyak yang bisa menyebut satu saja nama dari seribu tahanan yang ditukar untuk kebebasannya?

Dunia mengenal satu nama dengan begitu baik, dan melupakan seribu nama dengan begitu mudah. Di situlah ketimpangan itu bermula.

Asimetri perhatian ini bukanlah kebetulan, melainkan cerminan dari bagaimana sebuah narasi dibangun dan disebarkan. Cerita tentang satu tentara yang ditawan mudah dipahami, mudah disimpati, dan punya wajah yang jelas. Sementara penderitaan yang tersebar di antara ribuan orang, yang berlangsung perlahan selama bertahun-tahun di balik tembok penjara, jauh lebih sulit diceritakan dan karena itu lebih mudah diabaikan. Pemikir Noam Chomsky pernah menyoroti perbedaan mencolok dalam cara media Barat memperlakukan peristiwa-peristiwa di sekitar penawanan Shalit — betapa satu penawanan menjadi berita global, sementara penahanan warga Palestina yang terjadi sehari sebelumnya nyaris tak disebut. Ketimpangan perhatian, pada akhirnya, adalah bentuk lain dari ketimpangan nilai.

Seribu Nama yang Tak Terucap

Mari kita tatap angka itu lebih dekat, sebab di baliknya ada manusia. Dari 1.027 tahanan Palestina yang dibebaskan dalam pertukaran itu, banyak yang telah mendekam bertahun-tahun. Sebagian besar dari mereka adalah warga Palestina dan Arab-Israel. Yang penting untuk dipahami: sejumlah besar tahanan Palestina di penjara Israel ditahan di bawah apa yang disebut “penahanan administratif” (administrative detention) — sebuah mekanisme yang memungkinkan Israel menahan seseorang tanpa batas waktu, tanpa dakwaan, dan tanpa pengadilan, berdasarkan “bukti rahasia” yang bahkan tidak bisa dilihat oleh si tertahan maupun pengacaranya.

Inilah jantung ketidakadilan yang sering luput. Seorang warga Palestina bisa diambil dari rumahnya, dijebloskan ke penjara, dan ditahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun — tanpa pernah tahu persis apa yang dituduhkan kepadanya, tanpa kesempatan membela diri di pengadilan yang adil. Praktik ini, yang merupakan warisan dari hukum darurat era kolonial, telah dikritik keras oleh berbagai organisasi hak asasi manusia sebagai pelanggaran terhadap prinsip dasar peradilan. Di antara seribu yang dibebaskan untuk Shalit, ada mereka yang bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian hukum semacam ini.

Ditahan tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, tanpa batas waktu. Itulah nasib yang menimpa ribuan warga Palestina, jauh dari sorotan dunia.

Sebuah Pengalaman Kolektif Satu Bangsa

Untuk memahami mengapa isu tahanan begitu sentral bagi Palestina, kita perlu memahami skalanya. Penahanan bukanlah pengalaman segelintir orang; ia adalah pengalaman kolektif yang menyentuh hampir setiap keluarga Palestina lintas generasi. Sepanjang dekade-dekade pendudukan, ratusan ribu warga Palestina telah melewati sistem penjara dan penahanan Israel — dari aktivis, pelajar, hingga warga biasa yang ditangkap dalam razia malam. Penjara, dalam pengalaman Palestina, bukanlah tempat yang jauh dan asing; ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang nyaris universal.

Karena itulah, ketika seribu lebih tahanan dibebaskan demi satu tentara, peristiwa itu menyentuh saraf kolektif yang sangat dalam. Setiap keluarga yang menyambut kepulangan orang terkasihnya adalah representasi dari jutaan yang masih menunggu, atau yang pernah menunggu. Tahanan, bagi Palestina, bukanlah angka abstrak dalam berita; mereka adalah anak, suami, ayah, dan saudara yang wajahnya dikenal di lingkungan masing-masing. Inilah yang membuat anonimitas mereka di mata dunia terasa begitu menyakitkan: yang bagi dunia hanyalah “seribu tahanan”, bagi Palestina adalah seribu kisah yang utuh dan dikenal.

Aritmetika yang Mengungkap Segalanya

Apa makna dari rasio satu berbanding seribu lebih itu? Sebagian orang membacanya sebagai bukti betapa tingginya Israel menghargai nyawa warganya — dan itu benar. Tetapi ada pembacaan lain yang tak kalah jujur: bahwa rasio itu juga mencerminkan betapa rendahnya nilai yang, secara struktural, diberikan kepada nyawa Palestina. Jika dibutuhkan lebih dari seribu orang Palestina untuk menyetarakan satu orang Israel dalam logika pertukaran, maka logika itu sendiri telah mengandung sebuah penilaian yang tidak setara tentang kemanusiaan.

Ironisnya, pertukaran ini justru memperlihatkan satu hal yang sering disangkal: bahwa kebebasan ribuan tahanan Palestina, yang seharusnya menjadi hak berdasarkan keadilan, pada kenyataannya hanya bisa diraih melalui pertukaran — seolah-olah kebebasan dari penahanan yang sewenang-wenang adalah komoditas yang harus dibeli, bukan hak yang harus dipenuhi. Para keluarga Palestina yang menyambut kepulangan orang-orang terkasih mereka pada Oktober 2011 itu berbahagia, tentu saja. Tetapi kebahagiaan itu bercampur dengan kepahitan: bahwa orang-orang yang ditahan tanpa keadilan baru bisa pulang setelah menjadi bagian dari sebuah transaksi.

Gema yang Sampai ke Hari Ini

Peristiwa 25 Juni 2006 itu tidak berhenti di tahun 2011. Gemanya terus terdengar hingga hari ini, dalam banyak cara. Isu tahanan Palestina tetap menjadi salah satu luka paling dalam dan paling konstan dalam konflik ini. Hingga kini, ribuan warga Palestina — termasuk anak-anak — berada dalam tahanan Israel, banyak di antaranya tanpa dakwaan yang jelas. Setiap keluarga Palestina, dalam arti tertentu, adalah keluarga yang tersentuh oleh isu penahanan: seorang anak, ayah, saudara, atau tetangga yang pernah atau sedang mendekam di balik jeruji.

Pola pertukaran tahanan pun terus berulang dalam sejarah konflik ini, termasuk dalam perang yang berkecamuk sejak 2023, di mana isu sandera dan tahanan kembali menjadi pusat perundingan. Setiap kali, aritmetika yang sama muncul kembali ke permukaan: ketimpangan jumlah, ketimpangan perhatian, ketimpangan nilai yang diberikan dunia kepada nyawa yang berbeda. Sejarah, sebagaimana sering terjadi dalam kasus Palestina, tidak benar-benar berlalu; ia berulang dengan nama dan tanggal yang berbeda.

Pertukaran berganti, nama berganti, tahun berganti. Yang tetap sama adalah ketimpangan nilai yang diberikan kepada nyawa Palestina.

Mengapa Ini Penting bagi Kita

Bagi kita di Indonesia, yang konstitusinya menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan yang menjunjung tinggi peri-kemanusiaan, aritmetika nyawa ini seharusnya mengusik. Sebab inti dari nilai kemanusiaan adalah keyakinan bahwa setiap nyawa memiliki bobot yang sama — bahwa nyawa seorang anak Palestina tidak kurang berharga daripada nyawa siapa pun di dunia ini. Ketika dunia memperlakukan satu nyawa sebagai setara dengan seribu nyawa lain, ia sedang mengkhianati prinsip paling mendasar dari kemanusiaan itu sendiri.

Mengenang 25 Juni, dengan demikian, bukanlah tentang memihak kekerasan atau merayakan penawanan. Ia adalah tentang menolak ketimpangan penilaian. Ia adalah tentang bersikeras bahwa setiap tahanan Palestina yang ditahan tanpa keadilan memiliki nama, wajah, dan keluarga — sama seperti Gilad Shalit memiliki nama, wajah, dan keluarga. Keadilan menuntut agar kita melihat semua, bukan hanya sebagian; menghitung semua, bukan hanya yang diperhatikan dunia.

Nyawa yang Tak Bisa Ditimbang

Mari kita kembali pada angka itu: satu berbanding seribu dua puluh tujuh. Dalam matematika, itu adalah rasio yang timpang. Tetapi dalam moralitas, ia mengandung sebuah kekeliruan yang lebih dalam: anggapan bahwa nyawa manusia bisa ditimbang sama sekali, bahwa satu jiwa bisa dipertukarkan dengan jumlah tertentu jiwa lain seolah-olah mereka adalah mata uang. Kemanusiaan sejati menolak penimbangan semacam itu. Ia bersikeras bahwa setiap nyawa — baik Gilad Shalit maupun setiap dari seribu tahanan yang ditukar untuknya — adalah tak ternilai, tak tergantikan, dan setara.

Yang diajarkan peristiwa 25 Juni kepada kita, pada akhirnya, bukanlah pelajaran tentang strategi atau perundingan, melainkan tentang penglihatan moral. Ia menantang kita untuk melihat apa yang sering tidak terlihat: ribuan manusia di balik jeruji yang namanya tidak pernah menjadi tajuk berita, keluarga-keluarga yang menunggu tanpa kepastian, nyawa-nyawa yang oleh logika kekuasaan dianggap kurang berharga. Melihat mereka, mengakui kesetaraan martabat mereka, adalah tindakan moral yang paling mendasar sekaligus paling subversif.

Sebab pada akhirnya, perjuangan keadilan bagi Palestina adalah perjuangan melawan sebuah dunia yang telah terbiasa menimbang nyawa secara tidak setara — yang menghitung sebagian dengan teliti dan mengabaikan sebagian yang lain. Dan selama masih ada di antara kita yang menolak aritmetika itu, yang bersikeras bahwa seribu nyawa tidak kurang berharga daripada satu, maka harapan akan keadilan yang sejati belum padam.

Maka pertanyaan yang ditinggalkan tanggal hari ini, 25 Juni, kepada kita bukanlah tentang siapa yang menang atau kalah dalam pertukaran itu. Pertanyaannya jauh lebih mendasar dan menyentuh nurani kita masing-masing: di dunia yang begitu terbiasa menimbang nyawa secara timpang, beranikah kita menjadi orang-orang yang menolak menimbang sama sekali — dan memandang setiap manusia, tanpa kecuali, sebagai sama-sama tak ternilai? (IW)

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler