ASHDOD – Penangkapan ratusan aktivis kemanusiaan internasional yang tergabung dalam misi pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Jalur Gaza menuai sorotan tajam. Para aktivis, termasuk sembilan Warga Negara Indonesia (WNI), dilaporkan mendapat perlakuan tidak manusiawi setelah dicegat otoritas Israel di perairan internasional laut mediterania menuju Gaza.
Informasi yang dihimpun dari sejumlah relawan dan jaringan solidaritas internasional menyebutkan, para peserta misi kemanusiaan tersebut diperlakukan layaknya pelaku teroris, kriminal berbahaya padahal mereka menjalankan misi tanpa kekerasan (non-violence) dan membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza.
Beberapa aktivis dilaporkan diikat tangannya, dipaksa berlutut hingga menundukkan kepala di bawah pengawasan aparat bersenjata. Perlakuan tersebut memicu kecaman dari berbagai pihak karena dianggap merendahkan martabat manusia dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia internasional.
Misi Global Sumud Flotilla sendiri merupakan pelayaran solidaritas internasional yang bertujuan menembus blokade Gaza dan menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina. Para peserta berasal dari berbagai negara dengan latar belakang aktivis kemanusiaan, tenaga medis, jurnalis, hingga relawan sipil.
Sembilan WNI diketahui turut berada dalam rombongan pelayaran tersebut. Hingga kini, kondisi para relawan Indonesia masih terus dipantau oleh jaringan kemanusiaan dan berbagai organisasi solidaritas Palestina di Tanah Air.
Menurut laporan terakhir, ratusan aktivis saat ini berada di wilayah Ashdod, Israel, setelah kapal mereka dicegat dan diarahkan oleh otoritas Israel. Belum ada kejelasan mengenai proses hukum maupun kemungkinan deportasi terhadap para peserta misi kemanusiaan tersebut.

Penahanan terhadap para aktivis ini kembali memunculkan kritik internasional terhadap kebijakan blokade Israel atas Jalur Gaza yang telah berlangsung bertahun-tahun. Banyak pihak menilai blokade tersebut telah memperparah krisis kemanusiaan di wilayah Palestina, terutama setelah meningkatnya serangan dan pembatasan bantuan kemanusiaan.
Sejumlah organisasi kemanusiaan internasional menegaskan bahwa pelayaran Global Sumud Flotilla dilakukan secara damai dan tidak membawa senjata. Bantuan yang dibawa dalam misi tersebut disebut berisi kebutuhan dasar dan dukungan kemanusiaan bagi warga Gaza yang selama ini hidup di tengah keterbatasan akibat blokade dan konflik berkepanjangan.
Kecaman juga datang dari berbagai elemen masyarakat sipil yang mendesak komunitas internasional segera turun tangan memastikan keselamatan para aktivis, termasuk para relawan asal Indonesia. Mereka meminta agar seluruh peserta misi dibebaskan dan diperlakukan sesuai standar hukum internasional serta prinsip kemanusiaan universal.
Situasi di Gaza sendiri hingga kini masih menjadi perhatian dunia internasional akibat memburuknya kondisi kemanusiaan, terbatasnya akses bantuan, serta tingginya jumlah korban sipil dalam konflik yang terus berlangsung. (cky)


