Pada pagi hari Sabtu tanggal 8 Juli 1972, di sebuah jalan di lingkungan Hazimieh, Beirut, sebuah mobil Austin 1100 berwarna abu-abu meledak. Di dalamnya, seorang lelaki berusia tiga puluh enam tahun bernama Ghassan Kanafani — novelis, jurnalis, dan editor surat kabar Al-Hadaf — hancur bersama keponakannya Lamees Najim yang baru berusia tujuh belas tahun. Tiga kilogram bahan peledak plastik telah dipasang oleh Mossad di bawah sasis mobil itu. Detonator dipicu dari jarak jauh. Yang tersisa adalah satu mesin tik di apartemennya, beberapa manuskrip yang belum selesai, dan empat ratus halaman cerita pendek, novel, dan opini yang sudah terlanjur beredar ke seluruh dunia.
Sebuah negara dengan tank, jet tempur, dan dukungan tak terbatas dari kekuatan adidaya, merasa cukup terancam oleh seorang novelis tiga puluh enam tahun sehingga harus membunuhnya. Bukan dengan misi penangkapan. Bukan dengan tuduhan hukum. Tetapi dengan tiga kilogram bahan peledak di bawah mobil yang membawa keponakannya pulang dari sekolah.
Lima puluh empat tahun kemudian, pada April 2026, di Kota Gaza, seorang jurnalis Palestina muda bernama Mohammed Wishah — koresponden Al Jazeera Mubasher — tewas dalam serangan udara presisi yang menargetkan kendaraan tempat ia berada. Kantor Media Pemerintah Gaza mengumumkan bahwa kematian Wishah membawa total jurnalis Palestina yang menjadi syuhada sejak Oktober 2023 menjadi dua ratus enam puluh dua orang. Dua ratus enam puluh dua pena. Dua ratus enam puluh dua mobil yang diledakkan, kantor yang dibom, kamera yang dihancurkan. Lima puluh empat tahun setelah Beirut, tiga kilogram bahan peledak yang sama — dengan logika operasional yang sama — masih meledak di setiap minggu, di setiap bulan, di setiap reruntuhan Gaza.
Yang berubah hanyalah skalanya. Yang tidak berubah adalah pertanyaan yang sama: mengapa sebuah rezim yang memiliki monopoli kekerasan militer di seluruh kawasan begitu konsisten menargetkan orang-orang yang senjatanya hanyalah kata?
Yang Diledakkan Bukan Tubuh, tetapi Cerita
Ghassan Kanafani lahir di Acre, Palestina, pada 1936. Pada usia dua belas tahun, ia mengalami pengusiran massal Nakba 1948 bersama keluarganya — perjalanan panjang dari rumah leluhur ke kamp pengungsi di Lebanon, lalu Suriah. Pengalaman traumatis menjadi pengungsi tidak memadamkan agensinya. Justru sebaliknya: ia menjadikan kehilangan tanah sebagai pondasi intelektual untuk merumuskan ulang siapa rakyat Palestina.
Karya-karyanya — Men in the Sun (1962), Return to Haifa (1969), All That’s Left to You, Umm Saad — bukan literatur ratapan. Mereka adalah dekonstruksi ulang identitas manusia Palestina yang selama itu diobjektifikasi, dibungkam, dan direduksi menjadi statistik pengungsi oleh media Barat. Karya yang paling sering dipanggil kembali ketika orang berbicara tentang warisan Kanafani adalah Men in the Sun. Plotnya sederhana: tiga pengungsi Palestina dari kamp di Irak — Abu Qais yang tua, Assad yang muda, dan Marwan yang remaja — menyewa sopir truk untuk menyelundupkan mereka melintasi padang pasir menuju Kuwait demi mencari pekerjaan, bersembunyi di dalam tangki air kosong untuk melewati pos perbatasan. Sopir mereka, Abul Khaizuran (juga pengungsi Palestina, mantan pejuang yang impoten akibat luka perang lama), terlibat percakapan terlalu lama dengan petugas perbatasan yang menggoda dirinya; di bawah matahari gurun Irak, di dalam tangki logam yang membakar, ketiga pengungsi mati lemas dalam diam. Novel ditutup dengan pertanyaan retoris yang dilontarkan sopir kepada mayat-mayat di tangki — pertanyaan yang sejak 1962 menjadi kalimat paling sering dikutip dalam seluruh sastra Palestina modern: “Mengapa kalian tidak mengetuk dinding tangki? Mengapa kalian tidak mengetuk? Mengapa?” Pembaca Arab seketika memahami alegorinya: tangki adalah pengungsian itu sendiri, sopir yang impoten adalah kepemimpinan Palestina yang lumpuh, petugas yang tertawa adalah rezim-rezim Arab tetangga yang abai, dan ketuk yang tidak pernah datang adalah suara perlawanan yang tidak dipilih oleh mereka yang lebih nyaman menunggu diselamatkan. Mereka tidak boleh lagi mati dalam diam. Mereka harus mendobrak dinding tangki.
“Sebuah negara dengan tank, jet tempur, dan dukungan tak terbatas dari kekuatan adidaya, merasa cukup terancam oleh seorang novelis tiga puluh enam tahun sehingga harus membunuhnya.”
Yang dilakukan Kanafani melalui pena bukan sekadar menulis sastra yang indah. Ia melakukan pergeseran ontologis: dari konstruksi “korban tak berdaya yang membutuhkan belas kasihan dunia” menjadi “subjek historis yang merebut kembali suaranya sendiri.” Untuk pertama kalinya sejak Nakba, manusia Palestina muncul di halaman sastra dunia bukan sebagai angka di laporan UNRWA, melainkan sebagai protagonis dengan nama, sejarah keluarga, dan kehendak politik. Itulah yang ditargetkan Mossad pada 8 Juli 1972. Yang mereka ingin ledakkan bukan tubuh berusia tiga puluh enam tahun — itu hanya kebetulan sejarah. Yang mereka ingin musnahkan adalah cerita yang sedang ia tulis tentang bangsanya.
Mereka gagal. Cerita itu, hingga hari ini, dicetak ulang dalam dua puluh bahasa, diajarkan di universitas-universitas dunia, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit-penerbit independen yang mengenali resonansi langsungnya dengan sejarah perjuangan anti-kolonial Nusantara. Cerita yang tidak bisa dimusnahkan oleh tiga kilogram bahan peledak.
Anas, Hossam, Mariam: Pewaris Pena Beirut
Tetapi setiap warisan mempunyai pewarisnya. Dan pewaris Kanafani di Gaza hari ini bukan tokoh tunggal yang gemilang. Mereka adalah dua ratus enam puluh dua nama, sebagian besar di bawah tiga puluh tahun, sebagian besar tidak akan dikenal oleh pembaca di Barat, semuanya menulis dengan kesadaran penuh bahwa apa yang mereka tulis kemungkinan besar adalah hal terakhir yang akan mereka tulis.
Pada malam 23 Maret 2025, di Beit Lahiya, Hossam Shabat — koresponden Al Jazeera Mubasher berusia dua puluh empat tahun — berkendara melalui jalan yang dihancurkan menuju lokasi liputan berikutnya. Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja melaporkan kematian seorang jurnalis lain, Mohammed Mansour, yang tewas bersama istri dan anaknya di Khan Younis. Hossam tidak sempat menyelesaikan liputan malam itu. Rudal rezim Zionis menghantam mobilnya. Tetapi di rekening media sosialnya, sebuah pesan terjadwal otomatis terpublikasi pada hari berikutnya, ditulis berbulan-bulan sebelumnya untuk momen seperti ini:
“Ketika semua ini dimulai, saya baru berusia dua puluh satu tahun — seorang mahasiswa dengan mimpi-mimpi seperti siapa pun. Selama delapan belas bulan terakhir, saya mendedikasikan setiap detik hidup saya untuk rakyat saya. Saya mendokumentasikan kengerian di Gaza utara menit demi menit, bertekad untuk menunjukkan kepada dunia kebenaran yang mereka coba kubur. Saya tidur di trotoar, di sekolah, di tenda — di mana pun saya bisa. Saya kelaparan berbulan-bulan, namun saya tidak pernah meninggalkan sisi rakyat saya.”
Empat bulan kemudian, pada 10 Agustus 2025, di sebuah tenda jurnalis di seberang Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza, Anas al-Sharif — koresponden Al Jazeera berusia dua puluh delapan tahun yang dibesarkan di kamp pengungsi Jabalia — tewas bersama empat rekannya: Mohammed Qreiqeh, Ibrahim Al-Thaher, Moamen Aliwa, dan Mohammed Noufal, ditambah seorang jurnalis lepas Mohammad al-Khaldi. Lima syuhada dalam satu serangan, di satu tenda. Anas al-Sharif juga meninggalkan wasiat yang dipublikasikan posthum oleh timnya: “Ini adalah wasiatku dan pesanku yang terakhir. Jika kata-kata ini sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Israel telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku.”
Pada bulan Agustus 2025, di Rumah Sakit Nasser, jurnalis perempuan Mariam Abu Daqqa juga menjadi syuhada — meninggalkan sepucuk surat untuk anak laki-lakinya yang masih balita, bernama Gaith. Surat itu kemudian dinarasikan oleh sesama jurnalis Palestina di video Al Jazeera yang ditonton jutaan orang di seluruh dunia.
Empat nama. Empat wasiat. Empat pena yang patah. Dan ini hanya empat dari dua ratus enam puluh dua syuhada jurnalis. Pola yang muncul dari kesaksian-kesaksian ini sangat konsisten dengan apa yang dilakukan Kanafani lima dekade sebelumnya. Mereka semua — Anas, Hossam, Mariam, Mohammed Wishah — menulis dengan kesadaran penuh bahwa pena mereka adalah ancaman terhadap proyek penindasan, dan bahwa dunia di luar Gaza tidak boleh dibiarkan melupakan.
Mengetuk Dinding Tangki di Era Algoritma
Tetapi ada satu perbedaan struktural antara dunia Kanafani dan dunia Anas al-Sharif. Pada 1972, ledakan tiga kilogram bahan peledak di bawah mobil Austin 1100 cukup untuk membungkam satu suara. Hari ini, di era informasi digital, pembungkaman dilakukan dengan instrumen yang jauh lebih licin: penyensoran algoritmik.
Pada berbagai momen sepanjang 2024 hingga 2026, akun-akun jurnalis warga Palestina dan agregator berita seperti “Eye on Palestine” di Instagram telah berulang kali ditangguhkan, dihapus, atau di-shadowban oleh Meta. Konten yang menunjukkan tubuh-tubuh anak-anak Palestina yang dihancurkan rezim Zionis disebut sebagai “graphic violence” dan diturunkan dari linimasa publik, sementara konten propaganda militer dari akun resmi IDF dibiarkan beredar tanpa intervensi. Foto-foto dari Gaza diberi label “sensitif” yang membuat pengguna harus mengklik tambahan untuk melihatnya — hambatan kecil yang, dalam ekonomi perhatian algoritmik, sudah cukup untuk membunuh jangkauan informasi.
Ini adalah versi abad ke-21 dari tiga kilogram bahan peledak di bawah mobil Kanafani. Tujuannya tetap sama: memutus rantai transmisi narasi perlawanan sebelum ia menyentuh kesadaran opini publik dunia. Yang berbeda hanyalah instrumennya. Bom plastik diganti dengan baris kode. Pelaku tunggal diganti dengan korporasi global. Tetapi logika operasionalnya identik. Rezim yang tidak mampu memenangkan argumen di ruang publik akan selalu mencoba menghapus ruang publik itu sendiri.
“Bom plastik diganti dengan baris kode. Pelaku tunggal diganti dengan korporasi global. Tetapi logika operasionalnya identik. Rezim yang tidak mampu memenangkan argumen di ruang publik akan selalu mencoba menghapus ruang publik itu sendiri.”
Dampaknya bagi pembaca pro-Palestina di luar Gaza — termasuk dan terutama di Indonesia — bersifat ganda dan paradoksal. Di satu sisi, paparan visual tanpa henti melalui Instagram, X, dan TikTok mendokumentasikan kehancuran dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah konflik bersenjata. Di sisi lain, konsumsi kompulsif terhadap gambar grafis — anak-anak yang terpotong, pasien yang dioperasi tanpa anestesi, ibu yang menangisi tubuh bayi yang sudah dingin — menciptakan kondisi psikologis yang oleh para psikolog sosial disebut sebagai doomscrolling. Kita menggulir, menggulir, menggulir, dan di ujung perjalanan kognitif itu, kita merasa lumpuh.
Inilah jebakan yang dilihat Kanafani lima dekade sebelum Instagram lahir. Ketika rakyat yang menyaksikan penindasan menjadi terlalu kelelahan untuk mendobrak dinding tangki, penindasan menang — bukan karena ia lebih benar, tetapi karena yang melihatnya sudah terlalu lelah untuk berbuat apa-apa. Pengetahuan tanpa kerangka pemaknaan adalah racun yang melumpuhkan. Penderitaan tanpa narasi sejarah adalah pornografi tragedi yang akhirnya mendemobilisasi solidaritas.
Mengapa Pembaca Indonesia adalah Pewaris Yang Sama
Inilah titik di mana relevansi Kanafani bagi pembaca Indonesia menjadi paling konkret. Bukan karena kita kebetulan beragama mayoritas Muslim. Bukan karena kita kebetulan mengirim donasi ke Baznas atau kapal ke Global Sumud Flotilla. Tetapi karena kita, dari semua bangsa di dunia, memiliki memori sejarah kolonial yang masih cukup segar untuk mengenali pola yang sama ketika ia berulang.
Pembukaan UUD 1945, dokumen yang ditulis pada Agustus yang sama ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dari kolonialisme Belanda, mengatakan dengan tegas: “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Kalimat ini bukan retorika diplomatik. Ia adalah DNA konstitusional bangsa yang menulis sendiri sejarahnya keluar dari blokade informasi kolonial Belanda — yang selama tiga setengah abad menggambarkan rakyat Nusantara sebagai “pribumi yang malas,” “inlander yang tidak bisa memerintah dirinya sendiri,” dan kategori-kategori dehumanisasi lain yang sangat akrab bagi siapa pun yang membaca tulisan media Barat tentang Gaza hari ini.
Para pendiri republik ini — Soekarno, Hatta, Sjahrir, Natsir, Tan Malaka — adalah pewaris langsung dari tradisi Sastra Perlawanan jauh sebelum istilah itu diakademisasi. Mohammad Hatta menulis buku-buku ekonomi dan politik dari pengasingan di Boven Digoel dan Banda Neira. Mohammad Natsir, tokoh Masyumi yang sempat menjabat sebagai Perdana Menteri Republik, menulis surat-surat politik dari penjara Soekarno yang kini menjadi rujukan pemikiran Islam Indonesia. Mereka tahu bahwa pena yang konsisten lebih lama bertahan daripada bedil yang berkarat. Ketika mereka akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, yang mereka proklamasikan bukan sekadar kedaulatan teritorial — mereka memproklamasikan hak setiap bangsa yang masih dijajah untuk menulis sejarahnya sendiri.
Tetapi figur yang paling sempurna mewakili paralelisme dengan jurnalis-jurnalis Palestina hari ini adalah Buya Hamka. Pada 27 Januari 1964, ulama-sastrawan-jurnalis kelahiran Maninjau ini ditangkap oleh rezim Soekarno atas tuduhan “gerakan subversif” yang tidak pernah terbukti, dan dipenjara selama dua tahun empat bulan. Di sel itulah — dengan akses terbatas pada buku, dengan pengawasan rutin, dengan ketidakpastian apakah ia akan keluar hidup-hidup — Hamka menyelesaikan salah satu mahakarya tafsir Al-Quran berbahasa Indonesia: Tafsir Al-Azhar lima belas jilid. Yang lebih luar biasa dari karya itu sendiri adalah sikap yang ia tinggalkan setelah dibebaskan.
“Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Quran 30 Juzuk. Jika tidak di dalam tahanan, tidak mungkin ada saya mempunyai waktu mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”
Itulah kalimat Buya Hamka, sebagaimana direkam putranya Irfan Hamka dalam biografi Ayah. Bandingkan dengan wasiat Hossam Shabat yang ditulis lima dekade kemudian dari Beit Lahiya: “Saya tidur di trotoar, di sekolah, di tenda — di mana pun saya bisa. Saya kelaparan berbulan-bulan, namun saya tidak pernah meninggalkan sisi rakyat saya.” Dua suara dari dua benua, dua agama yang berbeda secara formal, dua era yang dipisahkan oleh setengah abad — tetapi satu kesadaran yang sama tentang fungsi pena di hadapan penindasan. Bahwa ia tidak bisa dipatahkan oleh sel penjara. Tidak bisa dipatahkan oleh tiga kilogram bahan peledak. Tidak bisa dipatahkan oleh tenda yang dibom di seberang Al-Shifa.
Dan ketika Wiji Thukul — penyair buruh dari Solo yang dihilangkan paksa oleh rezim Orde Baru pada 1998 karena puisi-puisinya — menulis baris yang kini menjadi mazmur perjuangan demokrasi Indonesia, “hanya ada satu kata: lawan,” ia sedang menyalakan obor yang sama. Obor yang dipegang Hamka di sel Megamendung. Obor yang dipegang Hatta di Banda Neira. Obor yang dipegang Kanafani di Beirut. Obor yang dipegang Anas al-Sharif di Jabalia. Bahasa, dialek, dan medan boleh berbeda. Yang dinyalakan, sama.
Pembaca Indonesia yang membaca laporan dari Gaza hari ini bukan sedang mengonsumsi berita asing. Mereka sedang membaca kelanjutan dari kalimat yang dimulai di Boven Digoel, dilanjutkan di Megamendung, dipersembunyikan oleh Wiji Thukul di tahun 1998, dan kini ditulis ulang di reruntuhan Beit Lahiya. Bagi siapa pun yang mengenal sejarah perlawanan intelektual Indonesia, narasi Kanafani bukan kosakata asing. Ia adalah dialek yang kita pernah ucapkan sendiri. Yang sedang ditunggu adalah pengakuan kolektif kita bahwa bahasa itu masih hidup, dan masih dibutuhkan.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Rasa frustrasi yang menggumpal setelah membaca sampai titik ini bukan tanda kelemahan. Ia adalah respons yang sehat dari kesadaran moral. Tetapi rasa itu harus dialirkan ke tindakan konkret, bukan dibiarkan terkubur dalam doomscrolling yang menyiksa.
Pertama, sebut nama mereka. Anas al-Sharif. Hossam Shabat. Mariam Abu Daqqa. Mohammed Wishah. Mohammed Qreiqeh. Ibrahim Al-Thaher. Moamen Aliwa. Mohammed Noufal. Mohammad al-Khaldi. Mohammed Mansour. Ghassan Kanafani. Lamees Najim. Dua ratus lima puluh nama lain yang tidak muat di artikel ini. Setiap kali Anda berbagi berita dari Gaza, sebut salah satu nama. Nama yang dihafal adalah nama yang tidak bisa dihapus oleh algoritma. Algoritma bisa menangguhkan akun, tetapi tidak bisa menangguhkan ingatan kolektif yang sudah terdistribusi.
Kedua, baca Kanafani. Men in the Sun tersedia dalam terjemahan Indonesia di penerbit-penerbit independen. Return to Haifa, All That’s Left to You, dan kumpulan cerita pendeknya bisa diakses dalam bahasa Inggris secara digital. Membaca Kanafani bukan kegiatan akademik nostalgia — ia adalah pelatihan kognitif untuk mengenali pola penindasan dan pola perlawanan yang melintasi generasi. Setiap kali Anda membaca Men in the Sun, Anda menerima vaksin terhadap pembingkaian media hegemoni yang akan Anda jumpai di linimasa berikutnya.
Ketiga, dukung jurnalisme independen yang menolak narasi penjajah. Bukan dengan kata-kata di kolom komentar. Dengan rupiah yang nyata, dengan langganan yang nyata, dengan distribusi yang nyata. Jurnalisme yang tidak bergantung pada iklan korporat dan tidak bergantung pada algoritma platform global adalah satu-satunya bentuk jurnalisme yang bisa secara konsisten menulis kebenaran tentang Gaza. Tradisi yang dimulai Kanafani di Al-Hadaf pada 1969, yang dilanjutkan Hossam Shabat di Al Jazeera Mubasher pada 2025, harus dilanjutkan oleh kita yang mampu membayarnya.
Pada pagi hari Sabtu tanggal 8 Juli 1972, sebuah mobil Austin 1100 meledak di Beirut. Tiga kilogram bahan peledak menghancurkan tubuh seorang novelis tiga puluh enam tahun dan keponakannya yang berusia tujuh belas tahun. Empat ratus halaman cerita pendek dan novel yang sudah ia tulis tetap beredar.
Lima puluh empat tahun kemudian, di Gaza, dua ratus enam puluh dua jurnalis Palestina telah menjadi syuhada dengan logika operasional yang sama. Yang menarik dari semua ledakan itu — dari Austin 1100 Kanafani sampai tenda jurnalis Anas al-Sharif di seberang Al-Shifa — adalah bahwa mereka semua gagal pada tujuan utamanya. Cerita yang mereka tulis tetap beredar. Wasiat yang mereka tinggalkan tetap dibaca. Pesan yang mereka kirim tetap sampai. Termasuk — dan ini yang harus kita rayakan dengan rendah hati — sampai ke pembaca di sebuah kota di Indonesia yang sedang menyeruput kopi pagi sambil membaca tulisan ini.
Inilah ironi paling mendalam dari proyek pembungkaman: ia tidak pernah benar-benar berhasil. Setiap pena yang dipatahkan menghasilkan sepuluh pena baru yang menulis dengan kesadaran lebih tajam tentang mengapa mereka harus menulis. Setiap wasiat yang dipublikasikan posthum mengundang sepuluh pembaca baru yang sebelumnya tidak peduli. Setiap akun yang ditangguhkan Instagram menciptakan sepuluh aktivis baru yang belajar membangun jaringan distribusi alternatif. Rezim yang membunuh penulis selalu lupa satu hal sederhana: penulis bisa dibunuh, tetapi tulisan, setelah meninggalkan tangan penulisnya, sudah menjadi milik bersama seluruh kemanusiaan yang masih membaca.
Kanafani memahami ini lima puluh empat tahun yang lalu, di apartemennya di Beirut, sebelum ia naik ke mobil yang akan meledak. Anas al-Sharif memahaminya pada Agustus 2025, ketika ia merekam pesan terjadwalnya untuk dipublikasikan setelah kematiannya. Hossam Shabat memahaminya pada Maret 2025, ketika ia menulis: “Selama delapan belas bulan terakhir, saya mendedikasikan setiap detik hidup saya untuk rakyat saya… saya tidak pernah meninggalkan sisi rakyat saya.”
Pertanyaan yang harus kita ajukan, sebelum jurnalis ke-263 menjadi syuhada di Gaza, sangat sederhana: jika mereka tetap menulis di bawah ancaman tiga kilogram bahan peledak, apa lagi yang menahan kita untuk tetap membaca, tetap menyebut nama mereka, dan tetap meneruskan apa yang mereka kirim? (IW)
Tulisan ini adalah analisis editorial yang diturunkan pada 24 Mei 2026. Data pembunuhan Ghassan Kanafani (8 Juli 1972, Beirut) dan keponakannya Lamees Najim dirujuk dari arsip Institute for Palestine Studies dan biografi yang ditulis Anni Kanafani. Data 262 jurnalis Palestina syuhada sejak Oktober 2023 dirujuk dari Government Media Office Gaza, sebagaimana dilaporkan oleh CGTN, TRT World, dan Anadolu Agency. Wasiat akhir Hossam Shabat (24 Maret 2025, Beit Lahiya) dan Anas al-Sharif (10 Agustus 2025, Kota Gaza) dirujuk dari TIME Magazine, Huffington Post, Deccan Herald, dan publikasi resmi Al Jazeera. Surat Mariam Abu Daqqa untuk anaknya Gaith dirujuk dari Al Jazeera (26 Agustus 2025). Kematian Mohammed Wishah (April 2026) dirujuk dari TRT World. Kutipan Buya Hamka dirujuk dari biografi Ayah karya Irfan Hamka (Republika Penerbit), sebagaimana dikutip Merdeka.com dan PTS Malaysia; data penahanan Hamka 27 Januari 1964 hingga Mei 1966 dirujuk dari LPMQ Kementerian Agama RI. Tulisan ini didedikasikan untuk dua ratus enam puluh dua jurnalis Palestina syuhada sejak Oktober 2023; untuk Ghassan Kanafani dan Lamees Najim yang lebih dari setengah abad lalu mengajarkan bahwa pena lebih lama bertahan daripada tiga kilogram bahan peledak; untuk Buya Hamka, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, dan Wiji Thukul yang membuktikan bahwa tradisi yang sama hidup di tanah air kita sendiri; dan untuk sembilan WNI — termasuk empat jurnalis Bambang Noroyono, Thoudy Badai, Andre Prasetyo, dan Rahendro Herubowo — yang saat tulisan ini diturunkan masih ditahan di Pelabuhan Ashdod karena mereka memilih melanjutkan tradisi yang sama.


