#CerpenJumat — Edisi 10: Suara dari Gaza
Sudah sebulan amplop itu tidur di bawah bantal Sana, dan sudah sebulan pula Yusuf bertanya hal yang sama setiap malam, dengan nada yang makin sabar dan justru makin sulit ditolak.
“Ummi, kapan kita buka?”
“Nanti.”
“Nanti itu kapan?”
Sana tidak menjawab. Ia berpura-pura merapikan selimut, padahal yang sebenarnya ia rapikan adalah napasnya sendiri. Ia sudah menceritakan segalanya pada Yusuf: bahwa surat itu ditulis Ayah sebelum Yusuf lahir, bahwa Widad menemukannya di antara seng bekas atap, bahwa tulisan di sampulnya memang tulisan Ayah. Satu hal yang tidak ia ceritakan adalah alasan kenapa amplop itu belum juga dibuka.
Alasannya sederhana dan memalukan. Selama amplop itu tertutup, suaminya masih punya satu hal lagi yang belum sempat ia katakan. Begitu amplop itu terbuka, hal itu akan menjadi kata terakhir.
Pagi itu Ummu Khalil datang tanpa diundang, tongkatnya mengetuk tanah dua kali sebelum ia berdiri di depan tenda.
“Anakmu bertanya padaku,” katanya tanpa salam. “Katanya ibunya takut pada selembar kertas.”
“Aku tidak takut,” bantah Sana, terlalu cepat.
“Kau takut.” Ummu Khalil duduk di atas balok beton, mengatur napas, lalu menatap Sana dengan mata yang tajam tapi tidak kejam. “Aku juga pernah menyimpan surat dua puluh tahun, Sana. Tidak pernah kubuka. Lalu suatu hari aku sadar, yang kujaga bukan suratnya. Yang kujaga adalah alasan untuk tidak pernah selesai berduka.”
Sana menggenggam ujung kerudungnya. “Bagaimana kalau isinya sesuatu yang tidak bisa didengar anak sembilan tahun?”
“Maka kau yang baca dulu, sendirian, lalu putuskan apa yang pantas ia dengar.” Ummu Khalil mengangkat bahu. “Itu hakmu. Tidak ada yang akan menyalahkanmu.”
Tawaran itu menggantung di udara, terdengar masuk akal, aman, dan sedikit curang.
Sana memikirkannya sepanjang siang. Ia bisa membaca lebih dulu di balik tenda, menyaring yang berat, lalu menyampaikan yang ringan. Yusuf tidak akan pernah tahu. Tapi ia teringat tangan kecil yang lecet oleh benang jahit di malam layangan itu, tangan anak yang tidak pernah bertanya soal benang yang hilang, hanya menggenggam lebih erat.
Anak itu sudah belajar menahan terlalu banyak hal. Menyaring kata-kata ayahnya berarti ikut memilih kenangan mana yang boleh ia punya.
Sore harinya, ketika Yusuf pulang dari lapangan bekas sekolah dengan layangan merahnya terkulai di bahu, Sana sudah duduk di depan tenda dengan amplop di pangkuannya.
“Duduklah,” katanya. “Kita buka sekarang. Bersama.”
Mata Yusuf membesar, lalu ia menurut tanpa satu kata pun, seperti takut sebuah keajaiban akan batal kalau ia bersuara.
Amplop itu terasa rapuh di jari Sana. Lipatannya sudah mengeras, dan ketika ia menyelipkan kuku di bawah tepinya, terdengar bunyi retak kecil, seperti ranting kering diinjak. Bau kertas tua naik ke hidungnya, apak, manis, dan samar-samar berbau asap, bau yang entah bagaimana langsung membawanya ke dapur lama mereka, pada pagi-pagi ketika suaminya bersiul sambil menyeduh teh.
Ia nyaris menjatuhkannya.
“Ummi?” Yusuf menyentuh lengannya.
“Tidak apa-apa.” Sana menarik napas panjang. “Ummi bacakan.”
Di dalamnya ada dua lembar, tulisan tangan yang miring ke kanan dengan tinta yang sudah cokelat. Ia membaca pelan, dengan suara yang bergetar di kalimat pertama lalu perlahan mantap.
Anakku, aku belum tahu namamu. Ibumu mau menamaimu Yusuf kalau kau laki-laki. Aku mau Idris, tapi aku tahu aku akan kalah, karena ibumu selalu menang dengan cara yang tidak membuatmu sadar kau sedang kalah.
Yusuf tertawa kecil, kaget oleh suaranya sendiri. Sana menggigit bibir. Itu persis suaminya. Persis.
Hari ini aku menanam satu bibit zaitun di tanah belakang rumah kita. Orang bilang pohon zaitun baru berbuah setelah bertahun-tahun, dan kadang pohonnya lebih sabar daripada penanamnya. Tapi aku ingin kau punya sesuatu yang tumbuh dari hari sebelum kau datang. Kalau suatu hari kau lelah menunggu apa pun, ingatlah bahwa ada yang sudah menunggumu lebih dulu.
Sana berhenti. Dadanya naik turun. Dari kejauhan, ketukan tongkat Ummu Khalil terdengar mendekat, lalu berhenti, seolah perempuan tua itu tahu ia tidak boleh masuk ke dalam momen ini.
“Teruskan, Ummi,” bisik Yusuf.
Halaman kedua lebih pendek. Angin sore menyibak ujung kertasnya, dan Sana menahannya dengan ibu jari yang basah oleh keringat.
Aku tidak tahu apakah aku akan sempat mengajarimu menerbangkan layangan seperti ayahku mengajariku. Kalau tidak sempat, dengarkan ini saja: yang menentukan bukan angin yang kuat, tapi tangan yang sabar. Ibumu punya tangan seperti itu. Aku sudah melihatnya. Dan satu lagi, tentang bibit tadi, aku menanamnya di bawah…
Sana berhenti.
Bagian bawah halaman itu sobek. Bukan terpotong rapi, tapi tercabik diagonal, dengan tepi berbulu dan noda air yang sudah mengering menjadi cincin cokelat. Beberapa huruf terakhir kalimat itu tinggal separuh, tidak terbaca.
“Ummi?” suara Yusuf mengecil. “Di bawah apa?”
Sana mengangkat kertas itu ke arah cahaya, memiringkannya, menyipit. Ada coretan tinta di sisa tepi, mungkin huruf, mungkin hanya bekas goresan pena. Ia tidak bisa memastikan.
“Ummi tidak tahu,” katanya jujur, dan kejujuran itu terasa seperti kehilangan kedua. Ia sudah siap kehilangan satu kata terakhir. Tidak siap kehilangan satu kata yang bahkan belum selesai.
Yusuf diam lama. Ia mengambil lembar itu dari tangan ibunya, hati-hati, seperti memegang sayap, dan mengusap bagian yang sobek dengan ujung jari.
“Ayah menanam sesuatu,” katanya akhirnya. “Untukku.”
“Ya.”
“Berarti masih ada, ya? Mungkin.” Matanya naik, mencari mata ibunya. “Kalau ada yang menanam, berarti ada yang tumbuh.”
Sana ingin menjawab bahwa jalan itu sudah menjadi reruntuhan, bahwa Jalan Zaitun sudah lama tidak punya satu pohon pun, bahwa harapan seperti itu bisa melukai lebih dalam dari tidak berharap sama sekali. Tapi ia menatap wajah anaknya, dan tidak ada satu pun kalimat itu yang keluar.
Ia hanya melipat kembali kedua lembar itu, pelan, mengikuti lipatan lamanya, dan menyelipkannya ke tangan Yusuf.
“Simpan,” katanya. “Tapi jangan pergi mencarinya sendirian.”
Yusuf mengangguk. Matanya sudah menatap ke arah barat, ke arah tanah lama, tempat langit mulai jingga di atas puing, dan Sana tahu persis bahwa janji itu belum tentu akan bertahan sampai besok pagi.
Minggu depan, Yusuf dan Widad akan menyusuri reruntuhan pada jam ketika orang dewasa tak melihat, membawa satu halaman sobek dan satu pertanyaan: di bawah apa?


