HomeLiterasiFiksiKabar dari Sektor Utara

Kabar dari Sektor Utara

#CerpenJumat — Edisi 8: Suara dari Gaza


Khadija baru saja mengetuk kaleng bekas dengan sendok kayu—bel darurat yang selalu ia pakai untuk menandai kelas dimulai, bunyinya nyaring dan agak fals, tapi anak-anak sudah hafal artinya—ketika Abu Ramzi muncul di ambang pintu, napasnya terengah, wajahnya lebih pucat dari biasanya.

“Ustadzah,” katanya, tanpa basa-basi seperti biasa, suaranya tegang menahan diri agar tidak terdengar panik di depan anak-anak. “Ada kabar dari sektor utara. Tembakan semalam. Gencatan senjata di sana retak—orang-orang mulai mengungsi lagi ke arah selatan.”

Kelas yang baru saja mulai tenang langsung berubah gaduh. Beberapa anak saling berbisik, matanya membesar. Rana menggenggam lengan Bilal tanpa sadar. Dan di sudut ruangan, Khadija melihat Samir—yang baru dua hari lalu untuk pertama kalinya duduk di bangku, bukan lagi di ambang pintu—tiba-tiba membeku, tubuhnya menegang seperti kayu.


“Apa itu artinya sampai ke sini juga?” tanya Widad, suaranya berusaha terdengar tenang meski matanya menyapu ke arah pintu, seolah menghitung jarak tercepat untuk lari kalau perlu.

“Belum tentu,” jawab Abu Ramzi, kali ini suaranya sedikit melunak, sadar tatapan anak-anak tertuju padanya. “Tapi orang tua kalian pasti dengar kabar ini juga. Mereka akan datang menjemput.”

Benar saja, tak sampai lima menit kemudian, suara langkah tergesa mulai terdengar dari luar—Umm Bilal datang setengah berlari, wajahnya tegang, memanggil nama Rana dan Bilal sebelum benar-benar sampai ke pintu. Di belakangnya, dua orang tua lain menyusul, suara mereka bertumpuk, cemas, saling bertanya apakah harus segera pindah ke bagian kamp yang lebih jauh dari perbatasan utara.

Ruangan yang tadinya tenang oleh suara mengeja huruf, kini penuh suara langkah dan panggilan nama yang saling bersahutan.


Khadija berdiri di tengah keributan itu, merasakan dadanya berdebar kencang—bukan hanya karena kabar itu sendiri, tapi karena ia melihat Samir mulai merosot pelan dari bangkunya, tubuhnya bergerak refleks ke bawah meja, persis seperti yang mungkin ia lakukan delapan bulan lalu, di ruangan lain, dengan dua nama yang tak lagi bisa menjawab panggilan siapa pun.

“Samir.” Khadija berjongkok di dekatnya, suaranya sengaja ia buat rendah dan stabil, menahan getaran yang sebenarnya juga ia rasakan di dadanya sendiri. “Lihat Ibu.”

Samir tidak menjawab, tubuhnya gemetar di bawah meja, tangannya menutup telinga meski suara di luar tidak sekeras itu—lebih pada gema di kepalanya sendiri yang kembali menyala oleh kata “tembakan”, “mengungsi”, kata-kata yang pernah menjadi awal dari hari terburuk dalam hidupnya.


Umm Bilal sudah sampai di pintu, menarik tangan Rana dan Bilal, tapi berhenti sejenak melihat Khadija yang masih berjongkok di dekat Samir. “Ustadzah, sebaiknya semua pulang sekarang—”

“Sebentar,” potong Khadija, tidak kasar, tapi cukup tegas hingga Umm Bilal terdiam. “Beri aku semenit.”

Ia menggeser posisinya, duduk di lantai tepat di depan kolong meja tempat Samir bersembunyi, sejajar dengan matanya, tidak memaksanya keluar.

“Kau ingat bel kaleng tadi?” tanya Khadija, suaranya masih rendah, seolah hanya untuk Samir seorang, mengabaikan keributan di sekitarnya. “Setiap kali Ibu bunyikan itu di awal, itu artinya kita mulai. Ibu akan bunyikan sekali lagi sekarang—bukan untuk mulai pelajaran, tapi untuk bilang, kita akan pulang dengan tenang. Bukan lari. Pulang.”


Ia meraih kaleng dan sendok yang masih tergenggam di tangannya sejak tadi, dan mengetuknya sekali, pelan, bunyinya nyaring memecah sebentar keributan di ruangan itu. Beberapa orang tua yang sedang menarik anak mereka berhenti sejenak, menoleh, seolah bunyi itu entah bagaimana menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar suara logam.

“Anak-anak,” kata Khadija, berdiri, suaranya lebih keras sekarang, ditujukan ke seluruh ruangan, tapi matanya sesekali kembali ke kolong meja tempat Samir masih bersembunyi. “Kita akan pulang sekarang, seperti biasa kita akhiri kelas—satu per satu, tenang, bukan berebut pintu. Ibu janji, tidak ada yang akan tertinggal sendirian.”

Ruangan itu tidak langsung tenang sepenuhnya—bau debu yang terangkat oleh langkah-langkah tergesa masih memenuhi udara, bercampur keringat dingin ketakutan yang samar tercium dari orang-orang dewasa yang berusaha tidak terlihat panik di depan anak-anak mereka. Tapi ritme suara Khadija, dan ketukan kaleng yang familiar, perlahan membuat langkah-langkah yang tadi tergesa mulai melambat.


Perlahan, dari bawah meja, tangan kecil Samir terulur, menggenggam jari Khadija yang masih terjulur menunggu di sana sejak tadi. Ia keluar pelan-pelan, matanya masih basah, tapi kakinya sudah bisa berdiri sendiri.

“Aku mau pulang,” bisiknya, “tapi tidak mau lari.”

“Kau tidak akan lari,” kata Khadija, menggenggam tangannya erat. “Kau akan berjalan. Ada bedanya.”

Ia menuntun Samir keluar bersama anak-anak lain, satu per satu, memastikan tiap anak dijemput dengan tenang oleh orang tua mereka, meski jantungnya sendiri masih berdebar kencang, meski ia sendiri tidak tahu pasti apakah kabar dari sektor utara itu benar-benar tidak akan sampai ke Jalan Zaitun.


Ketika ruangan sudah kosong, Khadija berdiri sendirian di tengah bangku-bangku beton yang tertinggal berantakan, kaleng bekas masih di tangannya. Ia menatap keluar, ke arah utara, ke langit yang mulai gelap lebih cepat dari biasanya karena awan tebal berkumpul di sana—entah pertanda hujan, atau sesuatu yang lain yang tak berani ia pikirkan lebih jauh.

Ia tidak tahu apakah besok akan ada kelas lagi. Ia tidak tahu apakah kabar semalam ini akan reda seperti ketegangan-ketegangan sebelumnya, atau justru jadi awal dari sesuatu yang lebih buruk.

Tapi ia menyimpan kaleng dan sendok itu baik-baik di tasnya, bersama buku tulis Lina, seolah menaruh taruhan kecil pada keyakinannya sendiri: bahwa besok pagi, ia akan membunyikannya lagi.


Minggu depan, sementara kamp menahan napas menunggu kabar dari utara, seorang lelaki tua yang dulu nelayan akan bersikeras membuat kue ulang tahun dari tepung bantuan—untuk anak yang bahkan tidak tahu hari ulang tahunnya sendiri.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini