GAZA STRIP – Lima warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan di Jalur Gaza, ketika Israel terus melanggar kesepakatan “gencatan senjata” yang dicapai pada Oktober lalu hampir setiap hari.
Pejabat kesehatan Palestina dilansir dari Al-Jazeera melaporkan sejumlah serangan udara dan artileri di berbagai wilayah Gaza pada Kamis (16/7). Salah satunya serangan udara Israel di kawasan Tuffah, Kota Gaza bagian utara, yang menewaskan dua orang.
Serangan lainnya menghantam kamp tenda yang menampung warga Palestina yang mengungsi di bagian barat Kota Gaza. Serangan itu menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.
Di lokasi lain, satu orang tewas akibat tembakan tank Israel di bagian timur Kota Gaza, sementara korban kelima tewas di Khan Younis, Gaza selatan, setelah sebuah mobil menjadi sasaran serangan.
Serangan-serangan tersebut kembali menyoroti lemahnya pelaksanaan gencatan senjata.
Sejak Israel dan Hamas menandatangani perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat untuk mengakhiri perang, hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam pelaksanaan kesepakatan tersebut. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kredibilitas perjanjian itu.
Serangan Israel terus berlanjut tanpa henti, dengan lebih dari 1.100 warga Palestina dilaporkan tewas sejak gencatan senjata dimulai. Sementara itu, krisis kemanusiaan di Gaza juga belum mengalami perubahan karena pembatasan Israel terhadap jumlah bantuan yang masuk ke wilayah tersebut, yang dinilai kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Jibril Khattab, yang kehilangan seorang anggota keluarganya selama masa gencatan senjata, mengatakan kepada kantor berita Reuters, penghentian perang hanyalah “ilusi”.
“Seluruh rakyat Gaza tidak pernah merasakan satu hari pun, bahkan satu saat pun, gencatan senjata. Gencatan senjata ini hanyalah ilusi,” kata Khattab.
“Tidak ada satu tempat pun di seluruh Gaza yang aman.”
Netanyahu Berjuang Mempertahankan Kekuasaan
Pemerintahan koalisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga disebut belum mengizinkan dimulainya pekerjaan rekonstruksi di Gaza meski gencatan senjata telah diberlakukan.
Israel dijadwalkan menggelar pemilu pada 27 Oktober. Netanyahu, yang merupakan perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, menghadapi risiko kehilangan kekuasaan. Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa politisi berusia 76 tahun tersebut dapat meningkatkan serangan ke Gaza demi meraih dukungan pemilih.
Di bawah kepemimpinan Netanyahu, citra internasional Israel disebut mengalami kemerosotan tajam seiring bertambahnya tuduhan kejahatan perang di Gaza, Lebanon, dan Iran.
Meski telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina di Gaza, Netanyahu dinilai belum berhasil mencapai tujuan yang dinyatakannya, yakni menghancurkan Hamas.
Sementara itu, perang dengan Iran—yang menurut laporan didorong Netanyahu agar melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump—telah memicu dampak ekonomi di berbagai belahan dunia.
Sejumlah analis menilai perang tersebut justru memperkuat posisi strategis Iran, bukan melemahkannya, sekaligus memperlihatkan semakin lebarnya perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Israel.
Rekonstruksi Gaza Diperkirakan Memakan Waktu Lebih dari 10 Tahun
Proses pembangunan kembali Gaza diperkirakan membutuhkan setidaknya 10 tahun dengan biaya lebih dari 70 miliar dolar AS.
Namun, rekonstruksi diperkirakan tidak akan dimulai sebelum pemilu Israel berlangsung. Bahkan setelah itu, prosesnya kemungkinan masih akan tertunda karena hingga kini belum ada tokoh politik utama Israel yang mendukung pembentukan negara Palestina yang merdeka atau memiliki peta jalan menuju tujuan tersebut.
