Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon selatan pada Sabtu (20/6) meningkat menjadi sedikitnya 28 orang, meskipun gencatan senjata telah diumumkan dan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran telah tercapai. Informasi tersebut dilaporkan oleh Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) dan dikutip oleh Anadolu Agency.
Sejak dini hari Sabtu (20/6), militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan, termasuk kota Nabatieh, Tyre (Sur), dan Sidon (Saida).
Salah satu serangan yang menargetkan kota Qanarit di wilayah Sidon menewaskan tujuh orang dan melukai 13 lainnya, berdasarkan data awal yang dirilis otoritas setempat.
Direktorat Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan bahwa 16 orang tewas dalam serangan Israel yang menghantam wilayah Nabatieh.
Sebelumnya, serangan udara Israel di kota Barish, wilayah Tyre, menewaskan empat anggota keluarga, termasuk dua anak-anak, menurut laporan NNA.
Korban jiwa lainnya dilaporkan berasal dari kota Suhmur di Lebanon timur, di mana satu orang tewas akibat serangan terpisah.
Direktorat Pertahanan Sipil Lebanon menyatakan tim penyelamat telah mengevakuasi 47 warga ke lokasi yang lebih aman, serta mengevakuasi 16 jenazah dan membawa 12 korban luka ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Menurut data pemerintah Lebanon, sejak dimulainya agresi militer Israel pada 2 Maret 2026, serangan-serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 3.980 orang tewas, melukai lebih dari 12.000 orang, dan memaksa lebih dari 1 juta warga mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Gelombang serangan terbaru ini terjadi sehari setelah Channel 12 Israel mengutip seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya, yang mengonfirmasi bahwa perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku pada pukul 16.00 waktu setempat (13.00 GMT) pada Jumat (19/6).
Seorang pejabat senior Amerika Serikat juga mengonfirmasi adanya kesepakatan gencatan senjata tersebut dalam pernyataannya kepada Anadolu Agency. Hingga berita ini ditulis, Hizbullah belum memberikan tanggapan resmi terkait pengumuman tersebut.
Serangan terbaru Israel di Lebanon menambah daftar panjang pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan, sekaligus memperburuk krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di wilayah tersebut.
