HomeLiterasiFiksiYang Menunggu di Reruntuhan

Yang Menunggu di Reruntuhan

#CerpenJumat — Edisi 5: Suara dari Gaza


Delapan bulan Rasha menghindari jalan itu. Ia akan memutar lebih jauh, melewati dua sektor tambahan, hanya untuk tidak harus berjalan di depan gundukan beton yang dulu adalah toko kelontong kecil milik pamannya—tempat terakhir kali seseorang melihat suaminya, Nidal, sebelum serangan yang mengubah bangunan itu jadi tumpukan yang bahkan tak lagi menyerupai apa pun.

Hari ini ia berjalan lurus ke sana.

Abu Naji berjalan di depannya, tongkat besi panjang di satu tangan, tas kain berisi alat-alat sederhana di bahu yang satunya—sebuah radio kecil rusak yang ia modifikasi jadi alat pendengar getaran, sepasang sarung tangan kulit yang sudah robek di ujung jari, dan sebuah buku catatan lusuh penuh nama-nama.

“Aku sudah cari di sini dua kali,” kata Abu Naji, suaranya datar, seperti orang yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat yang sama untuk terdengar berat lagi. “Tidak menemukan apa-apa yang bisa dipastikan. Tapi kau bilang mau lihat sendiri, jadi aku bawa kau.”

“Aku tidak butuh kau mencari untukku,” kata Rasha, meski suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. “Aku cuma butuh melihat tempatnya.”


Bilal ikut di belakang mereka, membawa jeriken kosong yang tidak ada gunanya di sana selain jadi alasan baginya untuk ikut—ibunya menyuruhnya mengantar air minum untuk Abu Naji yang bekerja seharian di bawah matahari, tapi Bilal tahu, sebenarnya ia hanya penasaran, dan sedikit merasa berutang pada Rasha sejak minggu lalu.

Reruntuhan itu lebih besar dari yang Bilal bayangkan—lempengan beton miring bertumpuk seperti kartu raksasa yang dijatuhkan sembarangan, besi tulangan mencuat ke segala arah seperti duri, dan di sela-selanya, potongan-potongan kehidupan yang dulu biasa: sendal karet, bingkai jendela, sepotong kain gorden bermotif bunga yang warnanya sudah pudar oleh matahari dan hujan.

Abu Naji berjalan mengelilingi gundukan itu perlahan, menekan tongkatnya ke celah-celah beton, sesekali berhenti, menempelkan telinga ke besi yang ia tancapkan dalam-dalam, mendengarkan sesuatu yang tak bisa didengar orang lain.

Rasha berdiri di tepi, tidak bergerak, matanya menyapu reruntuhan itu seperti mencari wajah yang ia tahu tidak akan pernah muncul begitu saja dari sana.


“Kau tahu,” kata Abu Naji, tanpa menoleh, tangannya masih sibuk menggeser puing kecil satu per satu, “aku sudah menggali di tempat-tempat seperti ini sejak awal perang. Orang-orang datang membawa harapan yang sama sepertimu. Sebagian menemukan jawaban. Sebagian tidak, dan tetap datang tiap minggu, bertahun-tahun, sampai mereka sendiri yang berhenti karena tubuh mereka lelah, bukan karena hati mereka sudah siap.”

“Aku tidak minta nasihat,” kata Rasha tajam.

“Aku juga tidak memberi nasihat,” balas Abu Naji, tenang, tidak tersinggung sama sekali—suaranya terdengar seperti orang yang sudah kehabisan energi untuk bereaksi pada kepahitan siapa pun lagi. “Aku cuma bilang apa yang aku lihat. Kau boleh mau dengar atau tidak.”


Matahari mulai condong ke barat ketika tongkat Abu Naji berhenti bergerak, tersangkut di sesuatu di antara dua lempengan beton. Ia berlutut, menggali dengan tangan telanjang, hati-hati, seperti mengangkat sesuatu yang bisa hancur kalau tergesa.

Rasha berlari mendekat, lututnya nyaris menyentuh tanah, napasnya tertahan.

Yang keluar dari sela beton itu bukan yang ia takutkan—bukan sesuatu yang membuat delapan bulan penantiannya berakhir dengan cara yang paling ia hindari untuk dibayangkan. Yang keluar adalah tasbih kayu, talinya sudah putus di beberapa bagian tapi butir-butirnya masih utuh, berlumur debu tebal yang menempel bertahun—Rasha mengenalinya seketika, karena ia sendiri yang membelikannya untuk Nidal tiga tahun lalu, hadiah kecil setelah pernikahan mereka.

Ia menggenggam tasbih itu erat-erat, debu menempel di telapak tangannya yang basah oleh keringat, dan untuk pertama kalinya sejak delapan bulan, air mata yang selama ini ia tahan pecah begitu saja, tanpa suara, hanya bahunya yang bergetar di tengah reruntuhan yang diam.


Bau debu basah dan karat besi bercampur di udara sore itu, dan suara azan Magrib mulai terdengar samar dari kejauhan, menggema di antara bangunan-bangunan yang tak lagi utuh. Bilal berdiri agak jauh, tidak tahu harus melakukan apa selain diam, memegangi jeriken kosongnya seperti satu-satunya hal nyata yang bisa ia pegang di tengah momen yang terlalu besar untuknya.

Abu Naji tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya duduk di atas puing, membiarkan Rasha menangis tanpa buru-buru menenangkannya, tanpa buru-buru menawarkan penjelasan yang tidak ia punya.

Setelah lama, Rasha bicara, suaranya serak, lebih ke tasbih di tangannya daripada ke siapa pun di sekitarnya. “Ini bukan jawaban. Aku tahu ini bukan jawaban.”

“Bukan,” kata Abu Naji jujur. “Tapi itu miliknya. Itu nyata. Kadang itu yang bisa kita bawa pulang, sebelum jawaban yang sesungguhnya datang—kalau memang akan datang.”


Rasha membuka buku catatan lusuh Abu Naji, tempat nama-nama orang hilang tertulis rapi baris demi baris, sebagian sudah dicoret dengan tanda ditemukan, sebagian masih polos menunggu. Ia meminjam pena dari sakunya, dan menuliskan nama Nidal di baris kosong berikutnya, tangannya tidak lagi gemetar seperti tadi pagi.

Ia tidak tahu apakah ini berarti ia berhenti berharap, atau justru cara baru untuk terus berharap—membiarkan namanya tercatat resmi sebagai yang dicari, bukan lagi hanya disimpan diam-diam di dada sendiri.

Ketika mereka berjalan pulang, langit sudah berubah jingga tua menjelang gelap. Tasbih itu melingkar di pergelangan tangan Rasha, menggantikan cincin yang sudah tak ada, dan untuk pertama kalinya sejak delapan bulan, ia berjalan tanpa memutar jalan menjauhi reruntuhan itu.


Minggu depan, di antara tenda-tenda yang mulai kedinginan menjelang musim hujan, seorang perempuan tua akan membuka kembali sebuah bangunan setengah runtuh—bukan untuk tinggal, tapi untuk mengajar.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini