HomeBaitul MaqdisKetika Gaza Baik-baik Saja: Buku Selamatkan Memori Gaza Utuh

Ketika Gaza Baik-baik Saja: Buku Selamatkan Memori Gaza Utuh

Bayangkan sebuah sore yang hangat di tepi Laut Tengah. Anak-anak berlarian mengejar ombak, tertawa lepas sambil menikmati es krim rasa lemon yang manis. Di halaman rumah, seorang kakek duduk tenang sambil meminum kopi beraroma kapulaga, ditemani cucunya yang asyik menggambar. Di pasar, para pedagang bernyanyi kecil menawarkan buah zaitun yang segar. Semua terasa damai dan sangat indah. Begitulah suasana yang sering dituliskan dalam banyak cerita. Sebuah suasana yang memperlihatkan saat Gaza masih baik-baik saja.

Namun, jika kita menyalakan televisi atau melihat internet hari ini, pemandangan indah itu seolah lenyap seketika. Kita hanya melihat puing puing bangunan, asap tebal, dan wajah orang orang yang kehilangan rumahnya. Gaza saat ini sedang terluka akibat penjajahan yang merusak kota mereka.

Dua pemuda sedang mengevakuasi buku-buku dari rak ke dalam kantong plastik hitam besar di dalam ruangan perpustakaan yang hancur dipenuhi puing-puing bangunan dan atap yang runtuh.
Menyelamatkan ingatan yang tersisa. Warga mengevakuasi buku-buku dari rak bangunan yang hancur, sebuah bukti nyata bahwa literatur dan cerita tidak boleh ikut terkubur di bawah puing-puing penjajahan.

Pertanyaannya, di tengah semua kehancuran ini, mengapa membaca cerita, puisi, atau novel tentang Palestina menjadi sangat penting? Bukankah itu hanya cerita karangan? Ternyata, cerita fiksi memiliki kekuatan super yang luar biasa.

Menyimpan Ingatan di Dalam Mesin Waktu

Buku cerita dan puisi bekerja seperti mesin waktu yang ajaib. Penulis Palestina bernama Susan Abulhawa pernah menulis sebuah novel berjudul “Mornings in Jenin” atau “Pagi di Jenin”. Dalam buku itu, ia menceritakan betapa indahnya kebun zaitun dan hangatnya keluarga yang sedang sarapan bersama. Ada juga pahlawan pena bernama Ghassan Kanafani yang menulis banyak cerita pendek, seperti “Menengok Kembali Masa Lalu”, agar anak anak Palestina selalu mengingat betapa cantiknya kampung halaman mereka.

Ketika sebuah kota dihancurkan, rumah dan taman bermain bisa saja runtuh ke tanah. Akan tetapi, sebuah tulisan tidak bisa dihancurkan semudah itu. Penjajahan sering kali berusaha menghapus bukti bahwa rakyat Palestina pernah hidup damai. Karya sastra seperti buku Susan dan Ghassan bertugas sebagai penjaga ingatan. Dengan membaca karya mereka, kita membantu menjaga agar sejarah kehidupan mereka yang normal tidak pernah terhapus oleh zaman.

Menembus Tembok Besar dengan Sayap Kata-kata

Saat ini, Gaza seperti dikurung oleh tembok beton yang sangat tinggi dan penjagaan militer yang sangat ketat. Kondisi ini sering disebut sebagai blokade. Makanan, obat obatan, dan buku pelajaran sangat sulit untuk dikirim ke sana. Mereka terjebak di dalam kota mereka sendiri.

Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa dikurung oleh tembok setinggi apa pun. Hal itu adalah ide, harapan, dan kata kata. Seorang guru bahasa Inggris dan penyair dari Gaza bernama Refaat Alareer membuktikan hal ini. Ia menulis sebuah puisi yang sangat terkenal berjudul “Jika Aku Harus Mati” (If I Must Die).

Dalam puisinya, Pak Refaat berpesan bahwa jika ia tiada, ceritanya harus tetap hidup seperti layang layang putih yang membawa harapan. Benar saja, puisi buatan Pak Refaat berhasil terbang menembus penjagaan militer Gaza. Puisinya dibaca oleh jutaan orang, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan dibacakan di jalan jalan di Eropa hingga Amerika. Melalui puisi itu, suara rakyat Gaza berhasil keluar menembus blokade.

Mengubah Angka Menjadi Sahabat Baru

Di berita televisi, kita sangat sering mendengar angka angka. Penyiar berita mungkin berkata bahwa ada ribuan rumah yang hancur. Lama kelamaan, mendengar angka sebanyak itu bisa membuat kita terbiasa dan lupa bahwa satu angka itu mewakili satu nyawa manusia.

Di sinilah letak kehebatan sastra. Penyair besar Palestina, Mahmoud Darwish, mengingatkan kita melalui puisinya yang berjudul “Pikirkanlah Orang Lain”. Puisi ini dengan sangat lembut mengajak kita untuk mengingat anak anak yang butuh kedamaian saat kita sedang tidur nyenyak di kasur yang empuk.

Saat membaca karya karya ini, kita berkenalan dengan manusia, bukan angka. Kita jadi mengerti bahwa mereka adalah anak anak biasa yang ingin bersekolah dengan tenang, bermain sepak bola di lapangan, dan tidur tanpa rasa takut. Sastra menyentuh hati kita dan membuat kita peduli dengan tulus. Kisah fiksi mengubah angka angka di televisi menjadi sahabat baru yang kita sayangi.

Kemerdekaan Lewat Membaca

Kemerdekaan sebuah bangsa bukan hanya tentang merebut kembali wilayah atau mendirikan gedung pemerintahan. Kemerdekaan juga berarti cerita mereka didengar, diakui, dan diingat oleh masyarakat di seluruh dunia. Saat kita memutuskan untuk membaca buku puisi Refaat Alareer atau novel Susan Abulhawa, kita sebenarnya sedang ikut berjuang bersama mereka.

Kita menolak untuk diam. Kita membantu menjaga harapan bahwa suatu hari nanti, matahari akan kembali bersinar cerah di atas kota itu. Puisi, cerpen, dan novel adalah cara kita memeluk teman teman kita di Gaza dari kejauhan. Mari kita mulai membaca cerita mereka, karena dari sanalah kita menjaga agar memori tentang Gaza yang baik baik saja akan selalu hidup abadi di dalam hati kita.

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler