GAZA MEDIA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan memangkas secara drastis rencana pemulihan Gaza yang sebelumnya digagas oleh Board of Peace. Proyek yang semula dipromosikan sebagai pembangunan kembali Gaza kini berubah menjadi rencana mendirikan kamp sementara berisi kabin-kabin portabel yang akan dikelola oleh pemerintahan Palestina, kepolisian Palestina, dan pasukan keamanan internasional berskala kecil.
Menurut investigasi The Guardian yang dipublikasikan pada Kamis (16/7), proyek percontohan tersebut akan dibangun di kawasan yang disebut sebagai zona penyangga di sepanjang garis gencatan senjata dekat Rafah.
Rancangan terbaru ini sangat berbeda dengan presentasi yang pernah disampaikan Jared Kushner, menantu Trump sekaligus utusan khusus AS, dalam forum Davos pada Januari 2025. Saat itu, Kushner mempromosikan konsep Gaza Pasar Bebas yang menjanjikan tersedianya infrastruktur dasar dalam waktu 100 hari.
Belum Ada Pembangunan Dimulai
Hingga kini belum ada pekerjaan konstruksi maupun persiapan proyek yang dimulai melalui International Stabilisation Force (ISF), pasukan penjaga perdamaian multinasional yang dibentuk berdasarkan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui rencana perdamaian Gaza tahun 2025.
Namun, pangkalan logistik ISF di perlintasan Kerem Shalom, yang menghubungkan Israel dan Gaza, dilaporkan hampir selesai dibangun.
Pasukan ISF direncanakan menjalani pelatihan di Mesir dengan personel yang berasal dari Maroko, Kosovo, serta kemungkinan Albania dan Kazakhstan.
Meski demikian, proses pelatihan diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Selain itu, kerangka hukum mengenai keberadaan pasukan tersebut masih dalam tahap negosiasi dengan pemerintah Israel.
Disusun Bersama Tony Blair Institute
Skema percontohan itu dirancang sekitar dua pekan lalu dalam pertemuan di Siprus yang melibatkan anggota Board of Peace, pejabat pemerintahan Trump, Tony Blair Institute, dan Komite Nasional Administrasi Gaza.
Dalam rancangan tersebut, pasukan Israel akan mundur dari garis gencatan senjata, sementara kamp sementara akan diawasi oleh ISF bersama kepolisian Palestina yang telah menerima pelatihan khusus.
Dana Belum Tersedia
Laporan tersebut juga menyebutkan pendanaan proyek masih belum jelas.
Sebagian besar dari dana 17 miliar dolar AS (sekitar 12,6 miliar poundsterling) yang sebelumnya dijanjikan untuk mendukung rencana perdamaian 20 poin Trump bagi Gaza hingga kini belum terealisasi.
Board of Peace juga dikabarkan berupaya mengakses sekitar 11 miliar dolar AS berupa pendapatan pajak Palestina dan aset perbankan yang dibekukan serta ditahan oleh Israel.
Upaya tersebut memicu kemarahan Otoritas Palestina, yang menilai dana tersebut merupakan hak rakyat Palestina.
Menunggu Pemilu Israel
The Guardian melaporkan pembangunan kemungkinan tidak akan berjalan signifikan sebelum pemilu Israel pada 27 Oktober mendatang.
Pemilu tersebut berpotensi mengakhiri pemerintahan koalisi sayap kanan yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Sejumlah pejabat Israel bahkan memperkirakan operasi militer di Gaza akan terus meningkat, baik Netanyahu menang maupun kalah dalam pemilu, dengan alasan Hamas belum melucuti persenjataannya.
Padahal, Hamas berulang kali menyatakan bersedia menyerahkan senjatanya dalam kondisi tertentu dan baru-baru ini juga mengikuti perundingan di Kairo.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Sejak Israel melancarkan perang di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, lebih dari 73.000 warga Palestina telah terbunuh.
Sejumlah pakar genosida, ahli hak asasi manusia, dan berbagai organisasi internasional telah menyimpulkan tindakan Israel di Gaza memenuhi unsur genosida.
Afrika Selatan juga telah menggugat Israel ke Mahkamah Internasional (ICJ) atas dugaan genosida.
Sementara itu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
ICC juga sempat menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap sejumlah pemimpin Hamas terkait dugaan kejahatan dalam serangan 7 Oktober 2023. Para pemimpin tersebut kemudian dilaporkan tewas dalam serangan Israel.
Pelucutan Senjata Hamas Masih Buntu
Perundingan yang berlangsung di Kairo juga membahas kemungkinan pelucutan senjata Hamas, termasuk siapa yang akan menerima senjata tersebut, bagaimana mekanisme penyimpanannya, hingga definisi jenis senjata yang harus diserahkan.
Namun, berbagai laporan dari Kairo menunjukkan pelucutan senjata sulit diwujudkan selama Israel masih terus melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza.
Komite Gaza Terbelah
Menurut The Guardian, seorang pejabat yang mengetahui jalannya pertemuan di Siprus mengatakan Komite Nasional Administrasi Gaza terpecah mengenai rencana proyek percontohan di Rafah.
Sebagian anggota komite khawatir proyek tersebut akan memicu perpecahan di tengah 2,1 juta penduduk Gaza, karena hanya sebagian kecil warga yang akan memperoleh akses lebih dahulu terhadap bantuan kemanusiaan, sementara mayoritas lainnya berisiko berada pada prioritas yang lebih rendah.
