Oleh: Eytan Gilboa, Yedioth Ahronout
Israel saat ini mengalami tingkat isolasi internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang terlihat dalam pidato Netanyahu di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, Israel juga sedang kehilangan Amerika Serikat, negara yang tanpanya Israel tidak dapat bertahan.
Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat dan Israel membangun sebuah “hubungan istimewa” yang didasarkan pada kombinasi unsur-unsur “keras”, seperti kepentingan strategis, dan unsur-unsur “lunak”, termasuk sejarah pembangunan negara yang serupa melalui gelombang imigrasi, semangat perintisan dan pemukiman di wilayah perbatasan, nilai-nilai bersama seperti pemerintahan liberal-demokratis, dukungan dari komunitas Yahudi, dukungan dari dua partai besar Amerika Serikat—Demokrat dan Republik—serta opini publik yang selama ini menguntungkan Israel.
Meskipun beberapa fondasi hubungan tersebut mulai retak bahkan sebelum perang, fondasi itu mulai terurai selama berlangsungnya perang.
Mundurnya Trump dari kepemimpinan Barat dan fokusnya terhadap kawasan Amerika telah mengurangi pentingnya Israel sebagai sekutu strategis di tingkat global. Kepentingan bisnis Trump di Timur Tengah juga telah mengurangi posisi penting Israel di kawasan, sekaligus meningkatkan arti penting negara-negara Teluk yang kaya.
Arab Saudi memperoleh perjanjian pertahanan dengan Amerika Serikat, termasuk infrastruktur nuklir, tanpa menormalisasi hubungan dengan Israel. Trump memandang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai teman dan mitra, sembari mengabaikan identitas Islamisnya, ambisi regionalnya, serta serangan kerasnya terhadap Netanyahu.
Fakta bahwa Israel merupakan satu-satunya negara demokrasi di kawasan selama ini memainkan peran besar dalam membentuk “hubungan istimewa” tersebut. Namun, perombakan sistem peradilan dan konstitusi yang didorong Yariv Levin telah merusak salah satu dari dua nilai bersama yang paling penting antara kedua negara.
Kehilangan Dukungan Bipartisan di AS
Israel juga telah kehilangan dukungan bipartisan di Kongres Amerika Serikat. Menyadari pentingnya menjaga hubungan baik dengan Partai Demokrat maupun Partai Republik, para pemimpin Israel secara tradisional menghindari campur tangan dalam politik domestik Amerika.
Netanyahu memutus praktik tersebut ketika secara terbuka mendukung kandidat presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, dalam pemilu 2012. Kemudian pada 2015, Netanyahu berpidato di hadapan sidang gabungan Kongres dan menyerang Presiden Barack Obama terkait kesepakatan nuklir yang sedang diupayakannya dengan Iran.
Dalam setiap pemilihan presiden AS sejak saat itu, Netanyahu mendukung Trump, yang semakin memperdalam keterasingan kalangan Demokrat terhadap dirinya maupun Israel.
Pada saat yang sama, sayap progresif Partai Demokrat yang sangat kritis terhadap Israel semakin menguat. Koalisi kelompok progresif, Muslim, dan pemilih kulit hitam telah meraih sejumlah keberhasilan politik, termasuk terpilihnya Zohran Mamdani sebagai wali kota New York City.
Kandidat-kandidat progresif telah memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat menjelang pemilu sela November mendatang, sembari melontarkan kritik terhadap Israel dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Belum pernah sebelumnya pemilih progresif dan pemilih muda mengaitkan dukungan mereka terhadap kandidat dengan tuntutan agar kandidat tersebut mengecam Israel dan berjanji untuk menentang bantuan militer yang diterima Israel dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, terdapat pula tokoh-tokoh berpengaruh dari sayap kanan Partai Republik, beberapa di antaranya dituduh antisemit, yang secara tajam mengkritik Israel dan berpendapat bahwa Israel justru menjadi beban bagi Amerika Serikat.
Dukungan Publik di Amerika Menurun
Selama perang di Gaza, dukungan publik Amerika terhadap Israel anjlok secara drastis. Sebelum perang, sekitar dua pertiga masyarakat Amerika memandang Israel dan perjuangannya dalam konflik dengan Palestina secara positif. Kini, gambaran tersebut telah berbalik.
Mayoritas besar masyarakat Amerika kini memandang Israel secara negatif dan mendukung Palestina. Tren tersebut terutama terlihat di kalangan Demokrat, kelompok minoritas, dan generasi muda, yang cenderung menentang perang serta memberikan perhatian lebih besar terhadap nilai-nilai liberal dan keadilan sosial.
Penurunan tersebut terus berlanjut bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata dicapai. Citra negatif Israel merusak “hubungan istimewa” karena perubahan tersebut tercermin baik di Kongres maupun pemerintahan Amerika Serikat.
Selain kehilangan dukungan dari partai politik dan opini publik, Israel juga telah kehilangan sebagian besar dukungan dari komunitas Yahudi Amerika yang selama beberapa generasi berdiri di belakang Israel.
Komunitas Yahudi Amerika merasa ngeri atas serangan 7 Oktober dan pada awalnya menyatakan solidaritas kepada Israel. Namun, cara perang di Gaza dijalankan secara bertahap membuat banyak dari mereka menjauh.
Pada saat yang sama, upaya kelompok-kelompok anti-Israel untuk mengaitkan komunitas Yahudi Amerika dengan tindakan pemerintahan Netanyahu dan IDF telah memicu gelombang antisemitisme dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat.
Hubungan “istimewa” dengan Amerika Serikat telah melewati berbagai periode krisis dan perang. Namun, saat ini muncul keraguan mengenai apakah tren tersebut masih dapat dibalikkan.
Sangat mungkin Biden dan Trump akan dikenang sebagai presiden pro-Israel terakhir yang pernah menduduki Gedung Putih.
Tanpa Amerika Serikat, Israel tidak dapat bertahan. Netanyahu dan koalisi pemerintahan saat ini tidak mampu menghentikan terkikisnya “hubungan istimewa” tersebut. Melalui perkataan dan tindakan mereka, mereka justru mempercepat proses tersebut.
Memulihkan hubungan dengan Washington akan membutuhkan perbaikan hubungan dengan kelompok Demokrat moderat dan pembangunan kembali dukungan bipartisan, menghadapi kelompok ekstremis dan anti-Israel di kedua partai, bekerja lebih efektif dengan komunitas Yahudi, generasi muda, dan kelompok minoritas, serta mempertahankan demokrasi dan pemisahan kekuasaan di Israel.


