Oleh: Aqlam OFR
Pertandingan Mesir melawan Argentina selalu lebih dari sekadar 90 menit sepak bola bagi banyak pendukung Palestina. Setiap laga yang melibatkan negara-negara yang dianggap memiliki posisi politik berbeda sering kali dibaca melalui lensa kemanusiaan, bukan semata statistik pertandingan.
Argentina memastikan lolos ke perempat final Piala Dunia 2026 setelah bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Mesir 3-2 di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Rabu (8/7) dini hari WIB. Mesir sempat unggul lewat gol Yasser Ibrahim pada babak pertama dan Mostafa Zico di babak kedua, sementara Lionel Messi juga gagal mengeksekusi penalti setelah tendangannya ditepis Mostafa Shoubir.
Namun, Albiceleste membalikkan keadaan pada menit-menit akhir melalui gol Cristian Romero dan dua gol penentu lainnya, setelah sebelumnya gol kedua Mesir sempat dianulir VAR karena pelanggaran dalam proses terjadinya gol. Kemenangan dramatis ini mengantarkan Argentina melaju ke babak perempat final.
Bagi banyak pendukung Palestina, keberpihakan kepada Mesir bukan sekadar karena sama-sama berasal dari kawasan Arab. Keberpihakan itu lahir dari kenyataan bahwa rakyat Palestina hingga hari ini masih hidup di bawah penjajahan, blokade, dan serangan militer Israel yang terus menelan korban sipil. Dalam situasi seperti itu, sepak bola menjadi ruang ekspresi yang tak dapat dipisahkan dari realitas politik dan kemanusiaan.
Di luar hasil pertandingan, reaksi publik dunia maya memperlihatkan bagaimana sepak bola telah menjadi bagian dari pertarungan narasi global. Banyak pendukung Palestina menjadikan kemenangan atau kekalahan tim tertentu sebagai simbol sikap terhadap situasi kemanusiaan yang masih berlangsung di Palestina. Bagi mereka, dukungan kepada Mesir merupakan bentuk keberpihakan kepada pihak yang mereka pandang sebagai korban dari kekerasan Israel yang belum berakhir.
Standar Ganda FIFA
Perdebatan tersebut juga kembali memunculkan kritik terhadap FIFA mengenai standar yang dianggap tidak konsisten dalam menerapkan sanksi terhadap negara yang terlibat dalam perang.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, FIFA bersama UEFA menjatuhkan sanksi penuh kepada Rusia. Tim nasional Rusia dan seluruh klub Rusia dilarang mengikuti kompetisi internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan turnamen antarklub Eropa. Keputusan itu diumumkan FIFA pada 28 Februari 2022 dengan alasan menjaga integritas kompetisi serta mempertimbangkan tekanan dari berbagai asosiasi sepak bola dunia.
Sebaliknya, hingga saat ini Israel tetap diizinkan mengikuti seluruh kompetisi FIFA dan UEFA meskipun perang di Gaza telah menimbulkan kehancuran besar. Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan puluhan ribu warga Palestina telah meninggal sejak Oktober 2023, sementara berbagai lembaga internasional seperti Mahkamah Internasional (ICJ) telah memerintahkan langkah-langkah sementara terkait dugaan pelanggaran Konvensi Genosida.
Di sisi lain, Majelis Umum PBB juga berulang kali mengeluarkan resolusi yang menyerukan penghentian agresi dan perlindungan warga sipil.
Perbedaan perlakuan itu menjadi dasar kritik banyak kalangan yang mempertanyakan konsistensi FIFA. Jika invasi Rusia menjadi alasan untuk menjatuhkan larangan bertanding demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan, mengapa pendekatan yang sama belum diterapkan terhadap Israel?
Pertanyaan tersebut terus bergema, bukan hanya di ruang politik internasional, tetapi juga di tribun sepak bola dan media sosial, ketika olahraga semakin sulit dipisahkan dari keadilan global.
