GAZA – Dilansir dari Al Jazeera, Hassan Khalil Almukayed merupakan salah satu dari sedikitnya 15 dokter Palestina asal Gaza yang saat ini masih ditahan Israel tanpa dakwaan.
Terakhir kali Nadia Almukayed melihat suaminya, Dr. Hassan Khalil Almukayed, adalah di dalam rumah sakit di Gaza yang menolak ia tinggalkan.
Pada Oktober 2024, perang genosida yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza telah mengepung keluarga Almukayed, termasuk ayah Hassan dan anggota keluarga lainnya.
Ketika pasukan Israel meningkatkan serangan ke Gaza utara, keluarga itu terjebak di Rumah Sakit Kamal Adwan, tempat Hassan bekerja sebagai dokter spesialis bedah vaskular.
“Kami tidak dapat mengevakuasi Gaza utara dengan cepat,” kata Nadia kepada Al Jazeera. “Kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain di wilayah utara hingga akhirnya terjebak di dalam Rumah Sakit Kamal Adwan.”
Hassan Almukayed adalah satu dari sedikitnya 15 dokter Palestina dari Gaza yang kini masih ditahan Israel. Di antara mereka, nama yang paling dikenal adalah Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, Dr. Hussam Abu Safia.
Pekan lalu, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki menyerukan pembebasan segera terhadap Abu Safia, yang telah dipenjara Israel tanpa dakwaan selama lebih dari 18 bulan.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia dan pengacara Abu Safia menyatakan terdapat laporan yang dapat dipercaya bahwa ia mengalami penyiksaan berat dan perlakuan kejam secara berkelanjutan, sehingga nyawanya berada dalam bahaya serius.
Abu Safia dan Almukayed termasuk dokter Palestina yang menolak meninggalkan puluhan bayi baru lahir yang sedang mereka rawat, meskipun militer Israel memerintahkan evakuasi paksa dari Gaza utara.
“Kami Berdua Tahu Apa yang Akan Terjadi”
Nadia mengatakan suaminya tetap bekerja tanpa henti meski jumlah warga Palestina yang tewas dan terluka akibat serangan Israel, termasuk anak-anak, terus meningkat.
“Sejak awal perang hingga Hassan dibawa pergi, dia tidak pernah berhenti melayani pasien dan korban luka,” kenangnya.
Kini Nadia tinggal bersama ketiga anak mereka di sebuah tenda di kawasan Al-Mawasi, dekat Kota Khan Younis di Gaza selatan, tempat ribuan warga Palestina yang mengungsi secara paksa bertahan hidup.
Selama perang berlangsung, Hassan hanya sempat pulang beberapa jam setiap pekan untuk memastikan keluarganya baik-baik saja sebelum kembali ke rumah sakit.
Saat tank-tank Israel menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan pada Oktober 2024, tentara memerintahkan keluarga pasien dan tenaga medis keluar lalu berjalan kaki menuju Gaza selatan.
Menurut Nadia, tentara Israel saat itu menjanjikan para dokter tidak akan disakiti maupun ditangkap, lalu meminta mereka kembali ke ruang perawatan masing-masing.
“Pasukan pendudukan tentu saja tidak menepati janjinya,” ujar Nadia.
Saat mengucapkan salam perpisahan kepada suaminya dengan air mata, Nadia berkata:
“Kita berdua tahu apa yang akan terjadi. Tetapi kita harus menerima kehendak Allah dan bersabar agar Dia memberi kita kekuatan dan ketenangan.”
Hassan hanya menjawab:
“Insya Allah.”
Nadia kemudian pergi bersama ketiga anak mereka, yakni Muhammad (13 tahun), Malak (11 tahun), dan Hala (8 tahun).
“Saya masih berkomunikasi dengannya melalui telepon hingga tengah malam keesokan harinya. Setelah itu komunikasi tiba-tiba terputus,” tutur Nadia.
“Saat itulah saya tahu Hassan telah ditahan.”
Ditahan Berdasarkan Hukum yang Cacat
Naji Abbas dari organisasi Physicians for Human Rights-Israel (PHRI), yang menangani hampir seluruh kasus dokter Palestina yang ditahan Israel, menyebut Hassan ditangkap pada 25 Oktober 2024, sekitar dua bulan sebelum penangkapan Dr. Hussam Abu Safia.
Mereka ditahan berdasarkan Undang-Undang Kombatan Ilegal (Unlawful Combatants Law) milik Israel yang memungkinkan seseorang ditahan tanpa batas waktu dan tanpa melalui proses pengadilan.
Menurut Abbas, kategori hukum tersebut tidak dikenal dalam hukum internasional.
Hassan Belum Mengetahui Ayahnya Meninggal Dunia
Hingga kini, Hassan Almukayed telah menjalani hampir 21 bulan penahanan di Israel tanpa pernah didakwa atas tuduhan apa pun.
Pada awal penahanannya, ia dibawa ke kamp tahanan Sde Teiman, fasilitas yang dikenal luas karena dugaan pelanggaran terhadap para tahanan Palestina. Ia ditahan di sana selama tujuh bulan.
Bersamanya turut ditahan sang adik, Mahmoud Almukayed, yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Kamal Adwan.
Keluarga pertama kali mengetahui keberadaan keduanya melalui sebuah foto yang beredar di internet. Dalam foto tersebut, Mahmoud terlihat hanya mengenakan pakaian dalam saat dimasukkan ke truk militer menuju Israel.
Mahmoud kemudian dibebaskan dalam pertukaran tahanan Oktober 2025, yang merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Namun Hassan tidak termasuk dalam pembebasan tersebut.
Pada Juni tahun lalu, Hassan dipindahkan ke Penjara Ktziot atau Penjara Negev, tempat sebagian besar dokter Palestina yang ditahan Israel saat ini dipenjara.
Yang paling memilukan, hingga kini Hassan dan Mahmoud belum mengetahui bahwa ayah mereka, Khalil Almukayed, telah meninggal dunia.
Khalil Almukayed, ayah Hassan, juga terjebak di dalam Rumah Sakit Kamal Adwan bersama kedua putranya ketika rumah sakit tersebut dikepung pasukan Israel. Selama hampir sepekan, keluarga tidak mengetahui apakah pria yang telah berusia lebih dari 70 tahun itu juga ikut ditahan.
Baru setelah keluarga mengunggah informasi tentang hilangnya Khalil di media sosial, mereka mengetahui bahwa ia telah dibebaskan setelah sempat ditahan dalam waktu singkat. Menurut keluarga, tentara Israel menyita obat-obatan miliknya dan hanya memberinya sebotol air yang bagian bawahnya telah dilubangi.
Cucu Khalil sekaligus keponakan Hassan, Nemer Shaheen, mengatakan bahwa Khalil dibebaskan dalam kondisi yang “sangat buruk secara mental dan psikologis.”
Beberapa bulan kemudian, Khalil meninggal dunia.
“Ia meninggal karena kesedihan dan duka memikirkan anak-anaknya,” ujar Shaheen kepada Al Jazeera.
Dalam pesan-pesan singkat yang disampaikan kepada suaminya melalui pengacara, Nadia Almukayed mengaku belum pernah memberi tahu Hassan mengenai wafatnya sang ayah.
“Saya belum memberitahunya tentang kematian ayahnya karena khawatir terhadap kondisi dirinya,” kata Nadia.
Dokter dari Kamp Jabalia
Bagi warga Kamp Pengungsi Jabalia, tempat Hassan Almukayed lahir pada 1972, ia hanya dikenal dengan satu sebutan: “dokter.”
Sebagai anak sulung di keluarganya, Hassan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kedua orang tuanya.
“Bagi mereka, Hassan adalah napas kehidupan mereka,” kata Nadia.
Hassan menempuh pendidikan kedokteran di Rumania, kemudian sempat bekerja sebagai dokter di Swedia. Namun pada 2010, ia memutuskan kembali ke Gaza untuk merawat kedua orang tuanya yang telah lanjut usia sekaligus membangun kehidupan bersama keluarganya di Kamp Jabalia.
Selain bertugas di rumah sakit, Hassan juga membuka klinik sederhana di rumahnya.
“Kalau ada warga membutuhkan pengobatan, mereka tinggal mengetuk pintu rumahnya, dan semuanya dilakukan tanpa dipungut biaya,” kata Nemer Shaheen, yang selama perang dievakuasi ke Mesir sebelum melanjutkan studi doktoral di Jerman.
Nadia mengatakan suaminya tidak pernah menolak pasien, kapan pun mereka datang.
“Kalau ada pasien mengetuk pintu tengah malam atau dini hari dan mencari Dr. Hassan, dia akan bangun, membuka klinik, lalu langsung memeriksanya.”
Menurut Nadia, suaminya mengabdikan hidupnya untuk membantu siapa pun tanpa mengharapkan imbalan.
“Dia melayani semua orang tanpa mengharapkan balasan apa pun.”
Ia menambahkan bahwa Hassan adalah pribadi yang lembut dan tidak pernah menyimpan kebencian kepada siapa pun.
Tetap Bertugas Meski Gaza Digenosida
Ketika perang Israel membelah Jalur Gaza menjadi dua wilayah, Hassan Almukayed menjadi salah satu dari hanya dua dokter bedah yang masih bertugas di Gaza utara yang terkepung.
“Dia menjalankan sumpah profesinya sepenuh hati dan memilih tetap tinggal,” ujar Shaheen.
Setelah mobil Hassan hancur akibat serangan udara Israel, ia tetap berangkat bekerja ke rumah sakit menggunakan kereta yang ditarik keledai.
Di mata keluarganya, Hassan bukan hanya dokter yang berdedikasi, tetapi juga sosok suami yang penuh kasih.
“Dia adalah tipe suami yang sangat langka, baik hati dan lembut,” kata Nadia.
Ia mengaku sangat merindukan suaminya, bahkan dalam aktivitas sederhana sehari-hari.
“Saya sangat merindukannya dalam setiap hal yang saya lakukan, bahkan saat minum kopi atau menonton video pendek di ponsel.”
Setiap kali tetangga di Kamp Jabalia memanggil “dokter”, Nadia mengaku selalu merasa bangga berjalan berdampingan dengan suaminya.
Semua Ditahan dalam Kondisi Kelaparan
Menurut Naji Abbas dari organisasi Physicians for Human Rights-Israel (PHRI), apa yang terjadi di Rumah Sakit Kamal Adwan merupakan bagian dari upaya sistematis Israel untuk menargetkan rumah-rumah sakit di Gaza sekaligus mendorong warga Palestina meninggalkan wilayah tersebut.
“Setiap kali tentara Israel menyerbu fasilitas kesehatan, mereka menangkap puluhan tenaga medis.”
Abbas mengatakan lebih dari 350 tenaga kesehatan Palestina telah ditahan selama perang di Gaza.
Penangkapan tersebut, lanjutnya, membuat masyarakat Gaza utara kehilangan layanan kesehatan dan memaksa warga sipil mengungsi ke wilayah selatan.
PHRI menyebut sekitar 55 tenaga kesehatan Palestina hingga kini masih ditahan Israel, termasuk 15 dokter senior.
Organisasi tersebut mewakili 14 di antaranya, termasuk Dr. Hassan Almukayed dan Dr. Hussam Abu Safia, dalam gugatan yang diajukan ke Mahkamah Agung Israel untuk menuntut pembebasan mereka.
Penyiksaan dan Kelaparan di Penjara Israel
Abbas menggambarkan kondisi yang dialami para dokter selama berada dalam tahanan.
“Mereka semua mengalami kelaparan. Jika bukan setiap hari, mereka mengalami kekerasan fisik dari sipir penjara setidaknya setiap pekan.”
Di kamp tahanan Sde Teiman, lampu sel disebut tidak pernah dimatikan.
Melalui pengacaranya, Hassan dikabarkan mengatakan:
“Kami hanya diizinkan tidur pada malam hari, sekitar pukul 23.00, itu pun dengan lampu tetap menyala.”
Jika para tahanan tertidur pada siang hari, penjaga penjara disebut akan membangunkan mereka melalui pengeras suara.
Selain itu, Hassan yang menderita diabetes dan tekanan darah tinggi disebut beberapa kali tidak mendapatkan obat-obatan yang dibutuhkannya.
Abbas juga mengatakan Hassan sempat menderita kudis (scabies) selama berminggu-minggu tanpa mendapatkan pengobatan.
Dalam kunjungannya, Hassan juga mengeluhkan bahwa makanan yang diberikan di penjara sangat tidak mencukupi.
Nadia mengatakan sejumlah tahanan Palestina yang telah dibebaskan memberitahunya bahwa berat badan suaminya telah turun sekitar 40 kilogram selama berada dalam tahanan Israel.
Israel Belum Memberikan Tanggapan
Al Jazeera telah meminta tanggapan kepada Dinas Penjara Israel dan militer Israel mengenai berbagai tuduhan yang disampaikan keluarga tahanan dan para pengacara mereka. Namun hingga laporan ini diterbitkan, kedua pihak belum memberikan respons.
Menanggapi pertanyaan mengapa para dokter Palestina masih ditahan tanpa dakwaan meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel telah berlangsung selama berbulan-bulan, Abbas mengatakan:
“Kami percaya negara Israel takut pada suara Dr. Abu Safia, Dr. Hassan Almukayed, dan para dokter Palestina lainnya.”
Pada sidang pengadilan pada Juni lalu, sebuah foto Dr. Hussam Abu Safia yang juga beredar luas di internet menunjukkan bahwa ia dipukuli oleh penjaga penjara Israel “secara brutal menggunakan palu dan tongkat”, kata Abbas.
Pengacara Hassan Almukayed mengatakan mereka baru dapat bertemu dengannya empat kali sejak ia ditangkap 18 bulan lalu. Pertemuan terakhir berlangsung pada Januari. Setelah itu, seluruh kunjungan dihentikan menyusul pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari.
Gaza yang Hancur Disebut “Surga” Dibanding “Neraka” Penjara
Setelah saudara Hassan, Mahmoud Almukayed, dibebaskan, ia kembali ke rumahnya yang telah hancur, sementara keluarganya terpaksa tinggal di sebuah tenda, kata Nemer Shaheen, keponakan Almukayed, kepada Al Jazeera.
Meski terkejut melihat besarnya kehancuran di Gaza, Mahmoud tetap menggambarkan penjara Israel sebagai “kehidupan di neraka”, sedangkan Gaza—meski luluh lantak—masih merupakan “surga” jika dibandingkan dengan kondisi di dalam penjara.
Namun, Gaza yang akan ditemui Hassan Almukayed kelak bukan lagi Gaza yang ia tinggalkan saat ditangkap.
Sebelum Hassan dipenjara, ibunya meninggal dunia akibat stroke di dalam pelukannya karena pertempuran di Jabalia membuat mereka tidak mungkin mencapai rumah sakit. Rumah keluarga mereka di Jabalia kini telah hancur. Nadia Almukayed bersama ketiga anaknya tinggal di sebuah tenda di Al-Mawasi, berdampingan dengan tenda keluarga Shaheen.
Untuk menghidupi keluarganya, Nadia bekerja sebagai guru matematika di UNRWA, badan PBB yang dibentuk pada 1949 untuk membantu warga Palestina yang terusir dari rumah mereka saat Israel didirikan.
Menurut Nadia, tantangan hidup di tenda bukan terutama soal ekonomi, melainkan tekanan psikologis.
“Saya kelelahan menjalani kehidupan ini dan memikul semua tanggung jawab yang ada di pundak saya,” katanya kepada Al Jazeera.
Ia mengaku terkadang kehilangan kesabaran menghadapi anak-anaknya karena suaminya tidak berada di sisi mereka.
Bagian yang paling berat, lanjut Nadia, adalah melihat putra sulung mereka, Muhammad, memasuki masa remaja tanpa kehadiran seorang ayah yang membimbingnya.
Nadia menjelaskan bahwa setiap kali pengacara mengunjungi Hassan di penjara, ia menitipkan pesan melalui mereka. Hassan pun selalu membalas surat-surat tersebut dengan menyinggung berbagai momen penting keluarga yang terlewatkan selama ia dipenjara.
Dalam kunjungan terakhir, Hassan menyampaikan pesan kepada istrinya:
“Bisakah kamu membuatkan kue untuk Hala? Ulang tahunnya tinggal dua hari lagi.”
Setiap kali Abbas bertemu kliennya, ketiga anak Hassan selalu menunggu dengan penuh antusias.
“Mereka akan memutar rekaman suara laporan yang dikirim pengacara setiap selesai berkunjung, lalu mendengarkannya bersama-sama,” kata Nadia Almukayed.
Setiap kali ulang tahun mereka tiba, anak-anak Hassan mengenang pesta-pesta yang dahulu biasa diadakan keluarga sebelum perang genosida.
“Mereka selalu berkata, ‘Seandainya Ayah bersama kami, pasti beliau akan membuat pesta untuk kami. Seandainya Ayah bersama kami, pasti beliau akan mengajak kami ke laut. Seandainya… seandainya…'”
