HomeBeritaWHO: Nitrat dalam Air Minum Picu Kanker, Warga Gaza Berjuang Dapatkan...

WHO: Nitrat dalam Air Minum Picu Kanker, Warga Gaza Berjuang Dapatkan Air Bersih

JENEWA — Ketika 85 organisasi internasional mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meninjau ulang standar keamanan nitrat dalam air minum karena potensi ancaman kanker usus dan gangguan kehamilan, jutaan warga Palestina di Jalur Gaza justru masih berjuang mendapatkan air bersih yang layak dikonsumsi.

Bagi masyarakat Gaza, persoalan air bukan sekadar menyangkut kualitas, tetapi juga ketersediaan. Di tengah kehancuran infrastruktur akibat perang berkepanjangan, air bersih menjadi kebutuhan dasar yang semakin sulit dijangkau, terutama bagi anak-anak, perempuan, dan keluarga yang tinggal di pengungsian.

Dalam laporan yang dilansir Arab News, sebanyak 85 organisasi internasional mendesak WHO mengevaluasi kembali ambang batas nitrat dalam air minum. Mereka menilai perkembangan penelitian ilmiah menunjukkan adanya potensi hubungan antara paparan nitrat berkadar rendah dalam jangka panjang dengan kanker kolorektal atau kanker usus besar dan rektum, serta kelahiran prematur.

Desakan tersebut memperlihatkan bahwa keamanan air minum kini menjadi perhatian kesehatan global. Namun, situasi di Gaza menunjukkan persoalan yang jauh lebih kompleks: masyarakat bukan hanya menghadapi ancaman pencemaran, tetapi juga kesulitan memperoleh air yang cukup untuk bertahan hidup.

WHO Ungkap Pencemaran Air Gaza Meningkat

Kondisi kualitas air di Gaza mendapat perhatian serius WHO. Dalam pengarahan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 1 September 2026, perwakilan WHO untuk wilayah Palestina, Reinhilde Van De Weerdt, mengungkapkan bahwa pencemaran mikrobiologis pada sampel air di Gaza meningkat hampir tiga kali lipat selama Januari hingga Agustus 2026.

Dari lebih 6.700 sampel air yang diperiksa, tingkat pencemaran mikrobiologis meningkat dari kurang dari 6 persen pada Januari menjadi lebih dari 18 persen pada Agustus.

WHO juga melaporkan peningkatan kasus diare cair akut yang hampir dua kali lipat dalam periode yang sama.

Menurut Van De Weerdt, persoalan pencemaran air tidak dapat dipisahkan dari buruknya sistem pengelolaan limbah dan sanitasi. Air tercemar, limbah, dan sampah dapat menyebar hingga ke tempat-tempat warga tidur, memasak, dan merawat anak-anak mereka.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air, terutama di kawasan pengungsian yang padat penduduk.

Laporan UNICEF pada Mei 2026 menggambarkan betapa beratnya krisis air yang dialami masyarakat Gaza.

Sebanyak 82 persen keluarga di Gaza dikategorikan mengalami kerawanan air. Bahkan, hingga 70 persen keluarga tidak mampu memperoleh enam liter air per orang setiap hari untuk kebutuhan minum dan memasak.

Situasi ini berdampak langsung terhadap sekitar 1,1 juta anak di Gaza yang setiap hari menghadapi ketidakpastian akses air.

UNICEF juga mencatat bahwa produksi air dari fasilitas desalinasi air laut mengalami penurunan. Pada Maret 2026, produksi mencapai 20.000 meter kubik per hari, tetapi kemudian turun menjadi 16.000 meter kubik akibat kekurangan bahan kimia dan suku cadang.

Sementara itu, laporan UNICEF pada Juli 2026 menyebutkan hampir 90 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza telah rusak atau hancur.

Kerusakan tersebut membuat sistem distribusi air, pengolahan limbah, dan fasilitas sanitasi tidak mampu berfungsi secara optimal.

Air Bersih Menjadi Perjuangan Hidup Warga Palestina

Di tengah kondisi tersebut, distribusi air melalui truk tangki menjadi salah satu tumpuan utama masyarakat Gaza.

Namun, ketergantungan terhadap bantuan darurat tidak dapat menjadi solusi jangka panjang. Keterbatasan bahan bakar, kerusakan fasilitas pengolahan air, kekurangan bahan kimia, serta sulitnya memperoleh suku cadang membuat pasokan air bersih terus menghadapi hambatan.

Bagi keluarga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian, keterbatasan air memaksa mereka menghadapi pilihan sulit antara memenuhi kebutuhan minum, memasak, mandi, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Kekurangan air bersih dan buruknya sanitasi meningkatkan risiko dehidrasi, diare, infeksi, serta berbagai penyakit yang berkaitan dengan lingkungan tidak sehat.

Krisis ini juga memperlihatkan bahwa persoalan air bersih di Gaza bukan hanya persoalan kemanusiaan sesaat, melainkan ancaman kesehatan masyarakat yang dapat meninggalkan dampak jangka panjang.

Desakan 85 organisasi internasional kepada WHO untuk meninjau standar nitrat memperlihatkan pentingnya perlindungan kualitas air minum berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.

WHO selama ini menetapkan batas maksimum nitrat dalam air minum sebesar 50 miligram per liter. Sejumlah organisasi menilai standar tersebut perlu dievaluasi dengan mempertimbangkan penelitian terbaru mengenai dampak paparan nitrat dalam jangka panjang.

Namun, perlu dipahami bahwa pencemaran nitrat dan pencemaran mikrobiologis merupakan dua persoalan berbeda. Data WHO mengenai Gaza yang disampaikan pada September 2026 secara khusus menyoroti pencemaran mikrobiologis, bukan peningkatan kadar nitrat.

Meski demikian, keduanya memperlihatkan satu persoalan mendasar: masyarakat membutuhkan air yang bukan hanya tersedia, tetapi juga aman untuk dikonsumsi.

Di Gaza, kebutuhan tersebut masih menjadi perjuangan sehari-hari. Ketika dunia memperdebatkan standar keamanan air minum, jutaan warga Palestina bahkan belum memiliki jaminan untuk memperoleh air bersih dalam jumlah yang mencukupi.

Air adalah sumber kehidupan. Karena itu, pemulihan infrastruktur air, sanitasi, pengolahan limbah, serta kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan harus menjadi bagian penting dari upaya pemulihan Gaza.

Sebab, bagi anak-anak Palestina, seteguk air bersih bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Itu adalah bagian dari hak untuk hidup sehat dan bertahan di tengah krisis kemanusiaan. (cky)

Ahmad Tasori
Ahmad Tasori
Aktif sebagai koresponden jurnalis iNews dan bagian dari jaringan MNC Group yang memiliki pengalaman dalam peliputan berbagai isu nasional, keagamaan, dan internasional. Berpengalaman meliput penyelenggaraan ibadah haji di Makkah serta isu Palestina dan Gaza. Pada 2025, pernah melaporkan langsung dari Tunis, Tunisia, mengenai misi Global Freedom Flotilla menuju Gaza.
ARTIKEL TERKAIT

Terkini