GAZA CITY — Pada musim panas 1948, di tengah gencatan senjata sementara Perang Arab-Israel, seorang profesor sejarah di American University of Beirut menerbitkan sebuah risalah tipis berjudul Ma’na al-Nakba — “Makna Bencana”. Buku itu terjual habis dalam beberapa minggu dan dicetak ulang pada Oktober tahun yang sama karena permintaan tinggi. Penulisnya, Constantin Zureiq, menjadi salah satu orang pertama yang menggunakan istilah “Nakba” untuk menggambarkan perkembangan perang tahun itu.
Sejak saat itu, satu peristiwa yang sama memiliki dua nama yang berseberangan: bagi Israel dan sebagian besar dunia Barat, itu adalah “Perang Kemerdekaan”. Bagi warga Palestina — termasuk ratusan ribu yang mengungsi ke Jalur Gaza — itu adalah Nakba, bencana yang mengubah demografi dan identitas jalur pantai sempit ini secara permanen.
Satu Peristiwa, Dua Narasi
Menariknya, makna asli istilah Nakba pada 1948 tidak sepenuhnya sama dengan pemakaiannya hari ini. Zureiq menulis risalahnya pada Agustus 1948, beberapa minggu setelah pembersihan kota al-Tira, dan istilah itu awalnya lebih menekankan kegagalan politik dan militer dunia Arab dalam menghadapi Zionisme, ketimbang secara spesifik merujuk pengusiran warga sipil Palestina. Baru dalam dekade-dekade berikutnya, terutama sejak peringatan tahunan 15 Mei mulai dirayakan secara luas, istilah ini bergeser menjadi payung untuk seluruh pengalaman pengusiran, kehilangan tanah, dan penghancuran masyarakat Palestina pada 1947–1949.
Setiap 15 Mei, sekitar 12,4 juta warga Palestina di seluruh dunia memperingati Nakba — hari setelah negara Israel berdiri. Data yang lebih luas mencatat sekitar 750.000 dari populasi 1,9 juta warga Palestina menjadi pengungsi antara 1947 dan 1949, sementara lebih dari empat ratus desa dan kota dihancurkan atau dikosongkan, dengan sekitar 13.000 orang tewas.
Dari Isdud dan al-Majdal ke Gaza
Bagi Gaza secara khusus, gelombang pengungsi terbesar datang dari kota-kota pesisir selatan yang jaraknya hanya puluhan kilometer. Dua nama paling menonjol adalah Isdud dan al-Majdal — dua kota yang kelak menjadi Ashdod dan Ashkelon di Israel.
Pada November 1948, pasukan Israel menduduki kota-kota selatan Isdud dan al-Majdal, mengusir penduduknya ke Jalur Gaza. Operasi militer yang menjadi penyebabnya bernama Operasi Yoav, yang dimulai Oktober 1948. Al-Majdal, yang populasinya sekitar 10.000 jiwa di awal 1948 dan bertambah menjadi lebih banyak lagi akibat pengungsi dari daerah lain, dibom dan ditembaki berulang kali oleh pasukan Israel selama Operasi Yoav sebelum jatuh pada 4 November 1948.
Yang tak banyak diketahui: pengusiran dari al-Majdal tidak berakhir pada 1948. Sebagian besar penduduknya terusir akibat pengeboman udara dan laut selama Operasi Yoav, sementara mereka yang bertahan kemudian didorong keluar melalui kombinasi kekuatan militer dan aturan darurat Israel. Pengusiran itu baru benar-benar tuntas pada Juni 1950, ketika penduduk yang tersisa dideportasi ke Gaza — lebih dari satu setengah tahun setelah perang secara resmi usai.
Beersheba dan Suku Badui yang Terusir
Gelombang lain datang dari arah Negev. Pasukan Israel memasuki wilayah Negev setelah jatuhnya Isdud dan al-Majdal, dan pada Desember 1948 memaksa suku-suku Badui yang tinggal di sana untuk mengungsi. Operasi Yoav sendiri berujung pada jatuhnya Beersheba, kota utama Negev, ke tangan Israel, memutus salah satu pusat perdagangan dan pertanian utama warga Arab di selatan Palestina.
Ribuan warga dari Beersheba dan desa-desa sekitarnya — termasuk komunitas petani dan penggembala — bergerak ke arah barat daya, menuju satu-satunya kantong wilayah yang belum diduduki militer Israel maupun Mesir sepenuhnya: Jalur Gaza.
Delapan Kamp, Satu Jalur yang Menampung Sejarah
Dampak demografisnya luar biasa cepat. Sekitar 27 persen dari 750.000 warga Palestina yang terusir mencari perlindungan di Gaza, menjadikan populasinya melonjak tiga kali lipat dalam waktu singkat. Kebanyakan dari mereka adalah petani yang mengira akan segera kembali ke tanah dan mata pencaharian mereka — harapan yang tak pernah terwujud.
Menurut catatan pendaftaran UNRWA pada 1951, jumlah pengungsi Palestina yang terdaftar di Gaza mencapai 199.789 orang, jauh melampaui jumlah pengungsi yang tercatat di Lebanon maupun Suriah pada periode yang sama. Delapan kamp pengungsian dibentuk untuk menampung mereka — sebuah struktur yang bertahan hingga hari ini sebagai bagian permanen lanskap sosial Gaza.
Hingga kini, 1,7 juta pengungsi Palestina di Gaza berasal dari lebih dari 190 desa di seluruh Palestina historis, dan sebagian besar desa asal mereka terletak hanya 30–40 kilometer dari Gaza. Para penyintas Nakba 1948 dan keturunan mereka kini membentuk sekitar 70 persen populasi Gaza.
Jejak yang Tak Terhapus
Silsilah pengungsi 1948 bukan sekadar statistik. Ia menjelaskan mengapa banyak tokoh yang kelak membentuk sejarah politik Gaza berakar dari kota-kota yang hilang itu. Orang tua Yahya Sinwar mengungsi dari al-Majdal pada 1948 dan berakhir di Kamp Pengungsi Khan Younis, sementara pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, lahir tak jauh dari daerah yang sama.
Pola ini berulang di banyak keluarga Gaza: identitas kampung halaman di pesisir selatan Palestina yang kini menjadi Israel, diwariskan lintas generasi meski tak pernah bisa diinjak kembali. Kunci rumah lama, akta tanah, dan nama desa yang sudah rata dengan tanah tetap disimpan sebagai penanda bahwa Gaza, bagi mayoritas penduduknya, bukanlah tanah asal — melainkan tempat pengungsian yang menetap menjadi rumah kedua selama tujuh dekade lebih.
Ketika pada Oktober 2023 ratusan ribu warga Gaza kembali harus berjalan kaki meninggalkan rumah mereka, banyak pengamat dan pejabat internasional — termasuk pejabat UNRWA sendiri — menyebutnya sebagai pengulangan pengusiran 1948, dengan sebagian warga Gaza membaca berita tentang usulan pemindahan mereka ke Sinai sebagai gema langsung dari apa yang terjadi kepada kakek-nenek mereka. Sejarah 1948 dengan demikian bukan sekadar catatan masa lalu bagi Gaza — ia adalah kerangka rujukan yang terus dipakai untuk memahami apa yang terjadi pada jalur ini hingga hari ini


