AMMAN – Dua personel militer Amerika Serikat tewas dan satu lainnya masih dinyatakan hilang setelah serangan rudal balistik dan drone Iran di Yordania pada Jumat (17/7), menurut pejabat militer AS dilansir dari BBC News.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan empat personel militer AS sempat dievakuasi ke rumah sakit di Yordania untuk mendapatkan perawatan medis, namun nyawa dua prajurit tak tertolong. Sementara personel lain yang mengalami luka ringan telah kembali bertugas.
Sebelumnya, militer Yordania mengatakan telah mencegat 10 rudal Iran yang memasuki wilayah udaranya pada malam hari, tanpa melaporkan adanya kerusakan.
Pejabat militer AS tidak mengungkap identitas dua korban tewas maupun memberikan rincian mengenai insiden tersebut atau lokasi pasti serangan terbaru di Yordania.
Dengan insiden ini, jumlah korban tewas dari pihak AS dalam konflik tersebut meningkat menjadi 16 orang, setelah seorang pilot Angkatan Laut AS yang sebelumnya dinyatakan hilang pada awal bulan ini dipastikan telah meninggal dunia. Ini merupakan kenaikan kedua jumlah korban tewas dalam pekan ini.
Dalam pernyataan pada Sabtu, CENTCOM mengatakan, “dua personel militer AS di Yordania tewas saat bertugas ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) bersama pasukan mitra mempertahankan diri dari serangan rudal balistik dan drone Iran. Selain itu, satu personel saat ini masih dinyatakan hilang.”
CENTCOM menambahkan, “sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga korban, CENTCOM akan menahan informasi tambahan, termasuk identitas para prajurit yang gugur, hingga 24 jam setelah keluarga terdekat diberi pemberitahuan.”
Menanggapi kabar tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menulis di platform X:
“Selamat jalan, para pahlawan. Pengorbanan mereka hanya semakin menguatkan tekad kami.”
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan sedikitnya dua pesawat tempur AS di Pangkalan Al-Azraq, Yordania, pada Sabtu (18/7) dini hari, menurut laporan media pemerintah Iran.
BBC telah menghubungi CENTCOM terkait klaim tersebut, namun pihak CENTCOM menolak memberikan rincian lebih lanjut.
Secara terpisah pada Sabtu, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan pemberitahuan kepada warga negaranya di kawasan Timur Tengah agar terus memantau perkembangan terbaru.
Pembaruan tersebut juga mengimbau seluruh warga Amerika di dunia untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, situasi keamanan tetap kompleks dengan potensi eskalasi yang tidak terduga.”
Kesepakatan Gencatan Senjata Gagal Bertahan
Washington dan Teheran sempat mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang pada Juni lalu. Namun, kesepakatan itu runtuh hanya dalam waktu kurang dari satu bulan setelah ditandatangani.
Media pemerintah Iran yang mengutip Kementerian Kesehatan menyebutkan sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat serangan AS selama tiga pekan terakhir.
Sementara itu, ribuan orang lainnya dilaporkan tewas di berbagai wilayah Timur Tengah sejak perang antara AS, Israel, dan Iran dimulai pada 28 Februari, menurut data resmi.
Tujuh Malam Berturut-turut Serangan AS
Jumat menandai malam ketujuh berturut-turut serangan militer AS terhadap Iran. Dalam sepekan terakhir, AS juga kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di sisi lain, Teheran melancarkan serangan balasan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Yordania, serta menyatakan Selat Hormuz ditutup.
Selain sasaran militer, kedua belah pihak saling menuduh menyerang infrastruktur penting dalam beberapa hari terakhir.
AS membantah tuduhan Iran yang menyebut Washington menyerang jembatan, stasiun kereta api, dan bandara pada awal pekan ini. Pemerintah AS menegaskan bahwa serangannya hanya menyasar target militer.
Namun, tim BBC Verify mengonfirmasi bahwa sebuah jembatan di Provinsi Hormozgan memang menjadi sasaran serangan.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam akan menyerang jembatan dan pembangkit listrik Iran pada pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran
Pada Sabtu malam waktu Iran, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan tertulis mengatakan bahwa:
“Pelanggaran berulang yang dilakukan Amerika terhadap perjanjian telah mengungkap satu kebenaran mendasar: tanda tangan Presiden AS sama sekali tidak bernilai dan tidak memiliki kredibilitas.”
Khamenei sendiri belum pernah tampil di depan publik sejak serangan yang menewaskan ayahnya, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, pada awal pecahnya perang.
