Pada sore Rabu tanggal 22 Juli 1987, di trotoar distrik Knightsbridge London, seorang lelaki Arab berusia empat puluh sembilan tahun bernama Naji al-Ali ditembak di wajahnya dari jarak dekat. Eksekutornya — pria muda Timur Tengah dengan jaket denim pudar dan rambut hitam bergelombang sepanjang kerah — telah membuntuti targetnya selama empat puluh detik sebelum melepaskan satu tembakan kaliber 7,62 mm dari pistol Tokarev buatan Soviet. Al-Ali — kartunis politik paling berpengaruh dalam sejarah pers Arab modern, pencipta karakter Handala yang fotonya kini menghias tembok-tembok dari Ramallah ke Tahran ke Tahrir — ambruk di trotoar Ives Street. Lima minggu kemudian, pada 29 Agustus 1987, ia tutup usia tanpa pernah mendapatkan kesadarannya kembali.
Lima belas tahun sebelumnya, pada pagi Sabtu tanggal 8 Juli 1972, di sebuah jalan di Beirut, seorang Palestina lain ditargetkan dengan logika yang sama. Mobil Austin 1100-nya meledak. Tiga kilogram bahan peledak plastik. Namanya Ghassan Kanafani. Dan di antara dua kematian itu — antara mobil Beirut yang hancur dan trotoar London yang berdarah — terbentang sebuah garis lurus yang harus dipahami oleh siapa pun yang ingin mengerti harga sebenarnya dari Sastra Perlawanan Palestina.
Karena yang menghubungkan Kanafani dan al-Ali bukan hanya kebetulan kebangsaan. Pada 1961, ketika al-Ali masih pemuda pengungsi tak dikenal yang mencoret-coret dinding kamp Ain al-Hilweh dengan kapur dan arang, Kanafani-lah yang berkunjung ke kamp itu, melihat kartun-kartunnya, dan menerbitkan gambar pertamanya secara resmi di edisi 88 majalah Al-Hurriya. Sebelas tahun kemudian, Kanafani dibunuh di Beirut. Lima belas tahun kemudian, al-Ali dibunuh di London. Dua tinta. Dua peluru. Satu warisan.
Tetapi al-Ali punya satu hal yang tidak dimiliki Kanafani: musuhnya bukan hanya rezim Zionis. Musuhnya juga adalah saudaranya sendiri.
Anak yang Selamanya Berusia Sepuluh Tahun
Naji Salim Hussain al-Ali lahir sekitar 1938 di Al-Shajara, sebuah desa agraris di Galilea timur antara Tiberias dan Nazareth. Pada usia sepuluh tahun, ia mengalami Nakba 1948. Al-Shajara adalah salah satu dari sekitar 480 desa Palestina yang dihancurkan oleh pasukan Zionis. Keluarganya melarikan diri ke utara menuju kamp pengungsi Ain al-Hilweh di pinggiran Sidon, Lebanon. Di kamp inilah al-Ali tumbuh — dalam kemiskinan struktural, sanitasi buruk, dan marginalisasi politik.
Pada 13 Juli 1969, di halaman surat kabar Al-Siyasa Kuwait, al-Ali yang sudah menjadi kartunis profesional memperkenalkan karakter yang akan mengubah sejarah seni visual Timur Tengah. Karakter itu seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Rambut hitamnya tegak mencuat seperti duri landak. Pakaiannya compang-camping. Kakinya telanjang. Namanya Handala — diambil dari hanzal, tanaman gurun pahit yang akarnya menghujam dalam ke tanah kering Levant dan tumbuh kembali setiap kali sulurnya dipotong.
“Handala dilahirkan pada usia sepuluh tahun, dan ia akan selamanya berusia sepuluh tahun. Saya meninggalkan tanah air saya pada usia itu. Ketika Handala kembali ke tanah airnya, barulah ia akan mulai tumbuh. Hukum biologi tidak berlaku bagi Handala. Hanya ketika kita kembali ke tanah air, jam waktu kehidupan akan kembali berdetak.”
Itu kalimat al-Ali sendiri. Inovasi paling radikal dari Handala adalah stasis biologisnya yang permanen — sang anak akan tidak pernah menua. Penolakan terhadap pertumbuhan ini adalah dakwaan filosofis: bahwa kehidupan di pengasingan adalah deviasi yang mengganggu tatanan alam, sebuah realitas membeku yang secara moral tidak boleh diterima sebagai kenormalan permanen. Selama eksil belum teranulir, kedewasaan anak-anak Palestina dicuri.
Empat tahun setelah penciptaannya, pada 1973 — tahun Perang Yom Kippur dan eskalasi pengkhianatan diplomatik Arab terhadap Palestina — al-Ali mengambil keputusan visual yang mengubah dinamika karyanya. Handala, yang sebelumnya menghadap pembaca, membalikkan punggungnya secara permanen. Tangannya dilipat kaku di belakang. Sejak hari itu, sang anak tidak pernah lagi menatap audiensnya. Pembaca dipaksa berdiri di belakang Handala, menatap dunia yang busuk di hadapan mereka melalui mata seorang anak yang sudah memilih untuk tidak berbicara lagi pada kita.
Tiga Grup di Tembok Jabaliya
Pada awal 1988 — beberapa bulan setelah al-Ali ditembak, di tengah meletusnya Intifada Pertama — seorang pemuda Palestina berusia awal dua puluhan bernama Hassan al-Wali mulai melukis Handala di dinding-dinding kamp pengungsi Jabaliya, Gaza Utara. Dua dekade kemudian, dalam wawancara dengan jurnal Electronic Intifada, al-Wali yang kini berusia lima puluh empat tahun mengingat kembali metode kerja generasinya.
“Kami membagi diri menjadi tiga grup. Satu untuk melukis. Satu untuk berjaga. Satu untuk perlindungan jika tentara mengejutkan kami.”
Itulah cara Handala menyebar di Gaza pada akhir 1980-an: bukan melalui galeri seni, bukan melalui kurator, bukan melalui museum yang dikelola otoritas. Melalui tiga pemuda di malam hari, satu memegang kuas, satu memegang lampu senter, satu memegang batu untuk berjaga. Al-Wali sendiri, yang saat itu aktif di Popular Front for the Liberation of Palestine, menyebut Handala sebagai salah satu motif paling favorit — berdampingan dengan peta Palestina dan kunci rumah yang ditinggalkan saat Nakba 1948.
Inilah yang harus dipahami pelan-pelan oleh siapa pun yang melihat Handala hari ini sebagai simbol global. Sebelum karakter itu menjadi pin yang dipakai Javier Bardem di karpet merah Oscar Maret 2026, sebelum ia menjadi maskot kapal Global Sumud Flotilla yang berlayar dari Marmaris pada Juli 2025, sebelum ia menjadi tato di lengan aktivis BDS dari Cape Town ke Kuala Lumpur — ia adalah goresan kapur dan cat semprot yang dilukis oleh pemuda Palestina yang berisiko ditembak setiap kali keluar setelah jam malam. Setiap garis di dinding Jabaliya, Rafah, dan Khan Younis adalah pelanggaran hukum darurat militer rezim Zionis. Setiap pemuda yang melukis adalah kandidat berikutnya untuk peluru karet, gas air mata, atau penangkapan sewenang-wenang.
Hassan al-Wali bertahan. Dua dekade kemudian ia masih tinggal di kamp Jabaliya yang sama, masih melihat Handala-nya menghuni tembok yang sama, masih hidup di Gaza yang sama tetapi di bawah pengepungan yang lebih brutal.
Mengapa al-Ali Punya Lebih Banyak Musuh daripada Kanafani
Yang membedakan al-Ali dari hampir setiap seniman politik di kawasan adalah penolakannya yang keras kepala terhadap loyalitas faksional. Pada awal 1960-an, ia sempat bergabung dengan Arab Nationalist Movement, tetapi karakter anti-otoritariannya membuatnya dikeluarkan dari keanggotaan partai empat kali dalam satu tahun. Pelajaran yang ia tarik sederhana dan keras: kebebasan berekspresi sejati tidak dapat dicapai di bawah naungan struktur birokrasi politik mana pun, termasuk yang mengaku berjuang untuk pembebasan.
Selama dua puluh enam tahun kariernya, al-Ali memproduksi lebih dari empat puluh ribu kartun. Ia menolak menggambar wajah nyata para diktator atau politisi tertentu, berargumen bahwa karikatur pemimpin individu cenderung mengerdilkan masalah menjadi soal kepribadian, padahal penindasan sesungguhnya bersemayam dalam struktur kelas. Sebagai gantinya, ia menciptakan teater semiotik yang dihuni entitas arketipal: Pria Kurus (rakyat jelata Palestina), Pria Gemuk (elit Arab korup, sering teramputasi untuk menunjukkan kelumpuhan moral), Fatima (perempuan Palestina dalam gaun bersulam tradisional, pilar matriarkal), motif penyaliban yang dipadukan dengan kawat berduri, dan Handala sebagai saksi bisu.
Pena al-Ali tidak pandang bulu. Ia menyerang pasukan rezim Zionis yang menginvasi Lebanon 1982 — invasi yang ia rasakan langsung ketika sempat ditahan oleh IDF di Ain al-Hilweh. Ia menyerang monarki minyak Teluk yang membangun istana marmer sementara Palestina kelaparan. Ia menyerang rezim Mesir yang menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv. Tetapi yang paling fatal — yang akhirnya membuat tiga kilogram bahan peledak harus diganti dengan peluru Tokarev di trotoar London — adalah serangannya yang terus-menerus terhadap kepemimpinan Yasser Arafat dan PLO.
“Selama tiga puluh tahun sejak saya mulai menggambar, saya merasa telah melewati setiap penjara Arab. Saya siap mati demi mempertahankan satu gambar, karena setiap gambar adalah bagaikan tetesan air yang menembus pikiran masyarakat.”
Selama kariernya, al-Ali tercatat menerima lebih dari seratus ancaman pembunuhan — sebagian dari intelijen rezim Zionis, sebagian dari rezim Arab, dan sebagian, sangat menyakitkan, dari saudara-saudaranya sendiri di PLO. Klimaks fatal meletus pada pertengahan 1987. Pemicunya: kartun Handala yang menelanjangi nepotisme Arafat dalam mengangkat seorang akademisi Mesir bernama Rashida Mahran sebagai anggota Sekretariat Jenderal Persatuan Penulis Palestina — imbalan atas buku pemujaan terhadap Arafat yang baru ia terbitkan. Dalam strip itu, Handala mewawancarai seorang pelamar buta huruf yang mengaku tidak bisa membaca atau menulis. Handala kemudian bertanya satir: “Sialan, jika kamu bahkan tidak bisa membaca, tidak bisa menulis, dan tidak tahu siapa Rashida Mahran, dengan metode magis apa kamu bercita-cita dipromosikan menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Penulis Palestina?”
Pertengahan Juni 1987, seorang pejabat milisi PLO menghubungi al-Ali dengan ancaman eksplisit: “Jika kamu tidak mengoreksi sikapmu, kami telah menyiapkan prosedur operasi khusus untuk menyelesaikan perkara denganmu.” Al-Ali tidak mengoreksi sikapnya. Lima minggu kemudian, ia ditembak di Knightsbridge.
Skandal Mossad-Thatcher
Tetapi cerita ini, tak terduga, baru benar-benar dimulai di hari pemakaman. Dalam hitungan hari setelah penembakan, detektif Scotland Yard menahan seorang mahasiswa Palestina berusia dua puluh delapan tahun bernama Ismail Sowan di Universitas Hull, Inggris utara. Ketika polisi menggeledah apartemennya, mereka menemukan timbunan senjata militer dan bahan peledak. Di bawah tekanan interogasi, Sowan mengeluarkan pengakuan yang mengubah seluruh paradigma penyelidikan: ia adalah agen ganda. Dan bosnya bukan PLO. Bosnya adalah Mossad.
Sejak akhir 1977, ketika Sowan masih remaja di Tepi Barat, perwira intelijen rezim Zionis telah merekrutnya. Selama sepuluh tahun, ia dikendalikan oleh dua perwira Mossad bernama Arie Regev dan Jacob Barad. Misinya: menyusup jaringan Force 17 — unit paramiliter elite perlindungan Arafat — dari dalam. Berdasarkan informasi silang ini, penyidik mengidentifikasi seorang figur bernama Abd al-Rahim Mustapha, komandan Force 17 yang diyakini sebagai dalang lapangan pembunuhan al-Ali. Mustapha berhasil terbang keluar Inggris menuju markas PLO di Tunis pada keesokan harinya setelah penembakan.
“Mossad mengetahui Mustapha sudah masuk ke Inggris. Mossad mengetahui target Mustapha adalah Naji al-Ali. Mossad memilih untuk tidak memberi tahu MI5. Karena bagi mereka, kematian seorang kartunis Palestina yang ditembak oleh PLO adalah panen ganda — musuh kritis tersingkir, dan musuh utama mendapat aib internasional.”
Ketika fakta ini sampai ke meja Perdana Menteri Margaret Thatcher — selama hampir satu dekade salah satu pembela paling konsisten rezim Zionis di forum Barat — ia meledak. Pada Juni 1988, Thatcher memberikan dekrit diplomatik yang mengguncang aliansi Inggris-Israel: penutupan permanen stasiun Mossad London di Kensington Palace Green, pengusiran lima perwira Mossad lapangan, pengusiran seorang atase resmi Kedutaan Besar Israel, dan pendeportasian anggota Force 17 yang berhasil dilacak. Stasiun Mossad London lumpuh total dan tidak beroperasi kembali hingga pertengahan 1990-an.
Seorang kartunis tak bersenjata yang dibunuh dengan satu peluru di trotoar London berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh diplomasi Arab selama empat dekade: mengusir kantor Mossad dari ibu kota negara sekutu paling setia rezim Zionis di Eropa. Tiga puluh sembilan tahun setelah peluru itu, eksekutor lapangannya — yang menarik pelatuk di Ives Street — belum pernah duduk di kursi pengadilan. Pada Agustus 2017, kepolisian Inggris secara resmi membuka kembali kasus ini sebagai cold case. Hingga hari ini, tidak ada penangkapan definitif.
Hala Shoman dan Gambar di Rak Bukunya
Pada akhir Juli 2024, seorang penulis Palestina muda bernama Hala Shoman menulis sebuah esai untuk publikasi diaspora We Are Not Numbers. Esai itu dimulai dengan pemandangan yang sangat sederhana: ia duduk di sofa rumahnya, dan di rak buku di seberangnya tergantung sebuah gambar Handala. Karakter ikonik itu, ditulis Shoman, “melambangkan perjuangan Palestina yang abadi — punggungnya membelakangi, diam mengamati ketidakadilan dunia.”
Tetapi Shoman menulis esai itu di tengah krisis baru. Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja menonton sebuah rekaman yang ditayangkan Channel 12 rezim Zionis, yang memperlihatkan sekelompok tentara Zionis memerkosa seorang tahanan Palestina di kamp deteni Sde Teiman. Korban diikat dan ditutup matanya. Para tentara membuat perisai dari riot shield untuk menyembunyikan apa yang mereka lakukan di baliknya. Ratusan kasus serupa telah didokumentasikan oleh berbagai organisasi HAM selama lebih dari tiga ratus hari perang.
Di tengah trauma menonton rekaman itu, Shoman menemukan dirinya menatap kembali ke gambar Handala di rak. Selama lima puluh lima tahun sejak al-Ali menciptakannya, Handala selalu dibaca sebagai anak yang memilih menolak — anak yang membelakangi dunia. Tetapi pada hari itu, untuk pertama kalinya, Shoman tidak bisa lagi membaca postur Handala sebagai pilihan. Anak yang berdiri tegak dengan tangan dilipat di belakang punggung itu, tiba-tiba terlihat seperti seseorang yang **diikat**. Punggung yang membelakangi penonton itu, tiba-tiba terlihat seperti punggung yang **diserang dari belakang ketika ia tidak bisa membela diri**.
Inilah yang dilakukan Handala selama hampir enam dekade. Ia tetap diam, tetapi tidak diam. Postur membelakanginya yang sama bisa dibaca sebagai penolakan diplomatik pada satu dekade dan sebagai luka traumatis di dekade berikutnya. Ia adalah cermin. Ia memantulkan apa pun yang sedang dialami rakyat Palestina pada momen tertentu dalam sejarah. Pada 1973, ia adalah penolakan terhadap perundingan Camp David. Pada 1987, ia adalah saksi bagi Intifada Pertama. Pada 2024, di rak buku Hala Shoman, ia adalah saksi bisu bagi tubuh-tubuh Palestina yang dilanggar di Sde Teiman tanpa bisa melawan.
Mengapa Handala Tidak Pernah Bisa Dibunuh
Naji al-Ali ditembak di pelipis kanan oleh pistol Tokarev 7,62 mm pada 22 Juli 1987 di trotoar London. Tetapi yang ditembak hari itu adalah tubuh seorang lelaki empat puluh sembilan tahun. Yang tidak ditembak — yang tidak bisa ditembak oleh peluru mana pun — adalah karakter anak laki-laki berusia sepuluh tahun dengan rambut tegak seperti landak, kaki telanjang, tangan dilipat di belakang punggung, dan wajah yang selamanya membelakangi audiens.
Handala hidup di tembok beton blokade Tepi Barat, di sisi Palestina dari Tembok Apartheid. Ia hidup di kalung yang dipakai aktivis BDS dari Cape Town ke Jakarta. Ia hidup di mural Tahrir Square Mesir selama Revolusi 2011. Ia menjadi maskot Gerakan Hijau Iran pada 2009. Ia menjadi nama kapal di armada Global Sumud Flotilla pada Juli 2025. Pada Maret 2026, ia berdiri di lapel jas Javier Bardem di karpet merah Academy Awards, ditonton oleh ratusan juta orang di seluruh dunia. Yang dilukis Hassan al-Wali di tembok Jabaliya pada akhir 1980-an, kini berdiri di panggung Hollywood. Garis itu lurus.
Ironinya: Otoritas Palestina di Ramallah tidak pernah mendirikan museum untuknya. Tidak pernah mengarsipkan empat puluh ribu karyanya. Tidak pernah memasukkan kartun-kartunnya ke dalam kurikulum sekolah Tepi Barat. Ini bukan kelalaian; ini ketakutan. Karena bahkan tiga puluh sembilan tahun setelah kematiannya, kritik al-Ali terhadap hegemoni Fatah-PLO masih terlalu tajam untuk dijadikan kanon resmi negara. Maka warisan al-Ali, dipaksa kembali ke akar paling murninya: jalanan, dinding kamp, tato di kulit, sticker di buritan mobil, gambar di rak buku rumah-rumah Palestina di diaspora. Sebagaimana ia memulai karyanya empat puluh tahun yang lalu dengan kapur di dinding penjara Lebanon, demikian pula ia bertahan hidup hari ini — bukan di museum yang dikuratori birokrat, melainkan di jalanan yang tidak bisa dikuratori oleh siapa pun.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Ada pelajaran yang sangat relevan dari trajektori hidup al-Ali bagi siapa pun yang masih percaya bahwa pena lebih kuat daripada peluru.
Pertama, kritik yang sejati tidak memilih sisi. Yang menjadikan al-Ali musuh bersama Mossad dan PLO sekaligus adalah penolakannya meredam pena ketika yang menindas adalah saudaranya sendiri. Solidaritas dengan Palestina tidak boleh berarti menutup mata terhadap kebusukan internal di kepemimpinan. Justru sebaliknya — cinta pada perjuangan menuntut keberanian mengkritik mereka yang mengeksploitasi perjuangan untuk kepentingan faksional.
Kedua, ingat preseden Thatcher 1988. Aliansi paling setia rezim Zionis di Eropa pun punya batas. Ketika Mossad mengkhianati protokol intelijen bersama dan membiarkan kartunis tak bersenjata dibunuh di tanah Inggris, stasiun mereka ditutup. Diplomat diusir. Ini preseden yang harus diingat di setiap forum diplomatik. Tugas diplomasi negara-negara yang masih punya hati nurani adalah terus mendorong sekutu-sekutu Tel Aviv mencapai batas mereka sendiri.
Ketiga, lukis Handala di mana pun Anda bisa. Bukan sebagai aksesori estetik, tetapi sebagai kompas moral. Pasang di profil media sosial. Pakai sebagai pin di jas. Tulis di buku catatan. Lukis di tembok kafe. Karena setiap reproduksi Handala adalah satu pukulan kecil terhadap kekuatan yang membayar tujuh juta dolar untuk membunuh penciptanya — dan masih gagal.
Pada sore Rabu tanggal 22 Juli 1987, di trotoar Ives Street di distrik Knightsbridge London, peluru Tokarev menembus pelipis Naji al-Ali. Lima belas tahun sebelumnya, di Hazimieh Beirut, tiga kilogram bahan peledak menghancurkan mobil Ghassan Kanafani. Dua nama. Dua kota. Dua peluru di bulan Juli. Satu warisan.
Yang menarik dari semua kalkulasi pembunuhan itu — dari Austin 1100 Kanafani sampai Tokarev di tangan eksekutor Force 17 — adalah keduanya gagal pada tujuan utamanya. Karya Kanafani tetap dicetak ulang dalam dua puluh bahasa. Handala tetap dilukis di tembok dari Jabaliya ke Tahran ke Tahrir. Hassan al-Wali masih hidup di Jabaliya. Hala Shoman masih menatap gambar Handala di rak bukunya di diaspora. Postur anak yang membelakangi kita tetap menolak — menolak menua, menolak menyerah, menolak menatap dunia yang masih saja abai.
Bagi rezim yang mengandalkan monopoli kekerasan militer, ada satu hal yang tidak pernah bisa mereka kalahkan. Bukan tank lawan. Bukan rudal lawan. Yang tidak pernah bisa mereka kalahkan adalah seorang anak laki-laki kurus berkaki telanjang yang dilukis dengan tinta hitam di atas kertas murahan oleh seorang pengungsi yang sudah lama mati — yang masih berdiri tegak di tembok beton mereka sendiri, membelakangi kita semua, menolak berbalik.
Pertanyaan yang harus kita ajukan, sebelum peluru berikutnya menembus pelipis pelukis berikutnya di kota berikutnya, sederhana sekali: jika seorang anak yang dilukis dengan tinta hitam di atas kertas saja bisa bertahan lebih lama daripada Tokarev yang menembak penciptanya, apa lagi yang menghalangi kita untuk terus melukis?
Tulisan ini adalah analisis editorial yang diturunkan pada 22 Mei 2026. Data biografis Naji al-Ali (lahir Al-Shajara 1938, Nakba 1948, ditembak 22 Juli 1987, gugur 29 Agustus 1987) dirujuk dari Middle East Eye, Faces of Palestine, Toons Mag, dan The Jerusalem Fund. Detail forensik pembunuhan (pistol Tokarev 7,62 mm, profil Ismail Sowan, perwira Mossad Arie Regev dan Jacob Barad, komandan Force 17 Abd al-Rahim Mustapha) dirujuk dari Murder Map UK, The Guardian, dan The Hull Story. Kronologi Handala (Al-Siyasa Kuwait, 13 Juli 1969; postur membelakangi audiens sejak 1973) dirujuk dari Wikipedia dan The Jerusalem Fund. Kesaksian Hassan al-Wali tentang taktik melukis grafiti di kamp Jabaliya dirujuk dari Electronic Intifada. Esai Hala Shoman tentang Handala sebagai saksi bisu kekerasan Sde Teiman dirujuk dari We Are Not Numbers (Juli 2024). Detail Javier Bardem mengenakan pin Handala di Oscar 2026 dirujuk dari The National (16 Maret 2026). Konteks skandal Thatcher-Mossad (penutupan stasiun London, pengusiran lima perwira Mossad Juni 1988) dirujuk dari Middle East Eye. Pembukaan kembali cold case oleh Komandan Dean Haydon dirujuk dari The Guardian (Agustus 2017). Tulisan ini didedikasikan untuk Naji al-Ali yang menolak dimakamkan di tanah selain Palestina dan akhirnya dimakamkan di pinggiran London; untuk Ghassan Kanafani yang lima belas tahun sebelumnya membuka pintu jurnalistik bagi al-Ali; untuk Hassan al-Wali dan ribuan pelukis grafiti tanpa nama yang menjaga Handala tetap hidup di tembok-tembok Gaza; untuk Hala Shoman dan generasi penulis Palestina diaspora yang terus menafsirkan ulang Handala di setiap dekade baru penindasan; dan untuk sembilan WNI flotilla yang saat tulisan ini diturunkan telah dibebaskan.


