#CerpenJumat — Edisi 11: Suara dari Gaza
Widad tahu cara menghitung risiko. Itu satu-satunya pelajaran yang ia kuasai lebih baik dari huruf dan angka: berapa lama antrean, berapa potong kertas untuk sepotong sabun, berapa langkah dari tenda ke tempat berlindung.
Jadi ketika Yusuf mengetuk tiang tendanya sebelum matahari naik, membawa selembar kertas sobek dan tatapan yang tidak bisa ditawar, Widad langsung menghitung. Dua anak. Satu halaman rusak. Tanah lama keluarga Yusuf, yang temboknya masih berdiri setengah dan lantainya sudah lama tidak dipercaya siapa pun.
“Ibumu bilang jangan pergi sendirian,” kata Widad.
“Makanya aku ke sini.” Yusuf menahan senyum yang bukan senyum. “Kau tidak sendirian. Aku juga tidak.”
Widad menghela napas, mengambil pensil pendeknya, dan ikut. Ia memberi dirinya satu aturan: kalau hitungannya berubah, ia boleh berhenti. Yusuf tidak tahu aturan itu.
Tanah lama keluarga Yusuf berbau besi dingin dan debu yang tidak pernah benar-benar kering. Di sela dua lempengan beton, tumbuh rumput pendek yang entah bagaimana tidak peduli pada apa pun.
“Surat itu bilang ‘di belakang rumah’,” kata Yusuf, berjongkok, jarinya menyusuri garis tepi kertas yang robek. “Berarti sebelah sini. Tembok dapur ada di sana, jadi belakang itu…”
“Arah sini,” Widad menunjuk, setelah menghitung langkah dari sisa kusen pintu.
Mereka mulai menggeser pecahan bata. Satu per satu, tanpa suara selain napas dan gesekan kasar tangan pada beton. Widad mengamati tiap batu sebelum Yusuf menyentuhnya, seperti pengasuh yang tak pernah ditugasi.
Satu jam berlalu. Mereka menemukan sepotong panci penyok, sebuah sendok, dan boneka kain yang sudah kehilangan wajahnya. Yusuf meletakkan boneka itu di atas batu rata, hati-hati sekali, seolah masih ada yang memilikinya.
Lalu Yusuf menemukan lingkaran batu.
Hanya batu-batu sebesar kepalan yang disusun melingkar, setengahnya sudah miring, di bawah sisa dinding belakang yang nyaris roboh. Di tengah lingkaran itu, tanah tampak sedikit lebih gelap, sedikit lebih gembur dari sekitarnya.
“Di sini,” bisik Yusuf. Suaranya hilang separuh. “Widad, ini dia.”
Widad mendongak. Dinding di atas lingkaran itu miring ke arah mereka, retaknya merambat seperti urat dari atas ke bawah, dan di ujungnya sebongkah beton menggantung dengan sudut yang tidak masuk akal. Satu embusan angin saja, dan ia tahu hitungannya.
“Yusuf, mundur.”
“Aku hanya mau gali sedikit—”
“Mundur.”
Yusuf sudah berlutut di dalam lingkaran, dua tangannya di tanah. Sebongkah kerikil kecil jatuh dari dinding, memantul di bahu kirinya, menggelinding diam.
Widad mendengar sesuatu di atas mereka: bunyi halus, seperti kayu retak pelan. Perutnya mengencang.
Ada dua pilihan, dan keduanya buruk.
Ia bisa menyeret Yusuf pergi, dan Yusuf tidak akan memaafkannya, karena anak itu sudah menunggu sembilan tahun untuk satu kalimat. Atau ia bisa membiarkannya menggali, menghormati janji yang tak pernah diucapkan, sambil menahan napas dan berharap dinding itu sabar.
Atau pilihan ketiga, yang paling ia benci: berlari mencari orang dewasa, dan dengan begitu membuka rahasia yang Yusuf titipkan padanya.
“Yusuf.” Widad menurunkan suaranya, supaya tidak terdengar seperti perintah. “Aku akan panggil Abu Naji.”
“Tidak.” Yusuf tidak menoleh. Tangannya terus bergerak. “Kalau orang dewasa datang, mereka bilang ini berbahaya, lalu kita tidak boleh kembali.”
“Kalau dinding itu jatuh, kau tidak akan kembali juga.”
Sunyi. Dari kejauhan terdengar bunyi kaleng dipukul sendok, ketukan sebuah kelas yang baru mulai, jernih dan fals. Yusuf akhirnya berhenti, bahunya naik turun.
“Kau tidak akan bilang soal suratnya?” tanyanya, hampir tak terdengar.
“Aku akan bilang soal dindingnya saja.”
Widad berlari. Pasir dan pecahan menggerus telapak sandalnya, dan setiap langkah terasa seperti menghitung mundur. Ia menemukan Abu Naji di tepi sektor, sedang menyandarkan tongkat besinya pada tiang, dan ia hanya sempat berkata, terengah, “Dinding. Belakang rumah Yusuf. Miring. Dia di bawahnya.”
Abu Naji tidak bertanya apa-apa. Ia mengambil tongkatnya, dan untuk pertama kalinya Widad melihat lelaki yang selalu datar itu berjalan dengan cepat.
Ketika mereka sampai, Yusuf masih berlutut. Abu Naji mengamati dinding itu sekali, lama, lalu berkata pelan, “Kau, mundur sekarang. Pelan. Satu langkah. Jangan berbalik.”
Yusuf mundur. Satu langkah. Lalu satu lagi. Begitu kakinya melewati batas lingkaran batu, dinding itu mengeluh panjang dan merontokkan separuh sisi atasnya ke tempat Yusuf berlutut tadi.
Debu naik tebal, berbau kapur dan tanah tua. Ketiganya terbatuk. Yusuf menatap ke arah gundukan baru itu dengan mulut terbuka, dan Widad menyadari tangannya sendiri sedang mencengkeram baju Yusuf sampai kusut.
Setelah debunya turun, Abu Naji bicara tanpa nada menyalahkan, hanya fakta. “Tempat itu tidak boleh digali sebelum dindingnya dirobohkan dengan benar. Aku bisa mengaturnya. Butuh waktu.”
“Berapa lama?” Suara Yusuf serak.
“Beberapa minggu. Mungkin lebih.”
Yusuf mengangguk perlahan. Ia tidak marah. Itu yang membuat Widad lebih gelisah daripada kalau ia berteriak. Anak itu hanya berjongkok di tepi gundukan, mengintip celah di antara beton, dan tiba-tiba terdiam.
“Widad,” bisiknya. “Lihat.”
Di celah paling bawah, di antara dua bongkah beton yang tidak sepenuhnya menutup, ada sesuatu yang hijau. Hanya satu helai, sepanjang jari kelingking, bergetar kecil oleh angin yang menyusup dari sisi kiri.
Mungkin zaitun. Mungkin rumput liar yang kebetulan nekat tumbuh di tempat yang salah. Dari jarak itu, tidak ada yang bisa memastikan.
Abu Naji menatap helai itu agak lama, lalu menatap Widad, dan tidak berkata apa-apa.
Widad tahu persis apa yang akan ia hitung malam ini: bukan risiko, bukan sabun, bukan kertas. Hanya satu pertanyaan kecil yang tak punya jawaban.
Minggu depan, sementara Abu Naji bersiap merobohkan dinding yang menjaga rahasia itu, Ummu Khalil akan mengaku pada seseorang bahwa ia juga pernah menanam sesuatu, dan memilih tidak pernah kembali melihatnya.


