GAZA – Sedikitnya delapan warga Palestina gugur dan 15 lainnya terluka akibat serangan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza, menurut sumber medis kepada Al Jazeera, Selasa (14/7). Serangan tersebut kembali terjadi meskipun perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berlaku sejak Oktober 2025.
Salah satu korban tewas pada Senin berasal dari serangan drone Israel yang menghantam sebuah sepeda motor di kawasan Tal al-Hawa, selatan Kota Gaza. Serangan itu juga melukai sembilan warga sipil setelah dua rudal ditembakkan ke lokasi.
Kantor berita Anadolu mengidentifikasi korban tewas sebagai Osama Naim Shamlakh (28 tahun).
Serangan Israel lainnya menghantam sebuah pos polisi di dekat bundaran At-Twam, barat laut Kota Gaza, menyebabkan empat petugas polisi terluka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.
Anadolu kemudian melaporkan bahwa salah satu korban luka, Thaer Ramzi Fayyad (36 tahun), meninggal dunia akibat luka yang dideritanya.
Hingga kini, identitas korban tewas ketiga belum diumumkan.
Serangan Terus Berlanjut di Berbagai Wilayah Gaza
Israel kembali melancarkan sejumlah serangan di berbagai wilayah Gaza pada hari yang sama, menunjukkan tidak adanya tanda-tanda penghentian operasi militer meski gencatan senjata masih berlaku.
Di wilayah selatan Gaza, serangan udara Israel menghantam sebuah tenda yang menjadi tempat pengungsian warga Palestina di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis. Korban luka dievakuasi ke Rumah Sakit Nasser.
Serangan lain menyasar sebuah kendaraan di Jalan Al-Rashid, Kota Az-Zawayda, Gaza tengah. Para korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah.
Seorang pemuda juga mengalami luka ringan setelah sebuah apartemen di Kamp Pengungsi Maghazi dihantam serangan Israel.
Kendaraan militer Israel juga melepaskan tembakan ke arah rumah-rumah warga di timur Kamp Pengungsi Bureij dan dekat Kamp Pengungsian Halawa di timur Jabalia. Tidak ada korban yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Anak Perempuan Berusia 9 Tahun Termasuk Korban
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa sedikitnya lima warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan berusia 9 tahun, tewas akibat serangan drone dan tembakan pasukan Israel.
Anak tersebut, Tala Abu Matar, meninggal dunia setelah tembakan Israel menghantam kawasan pengungsian di sisi timur Kamp Pengungsi Al-Bureij, Gaza tengah.
Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober 2025, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.098 warga Palestina di Jalur Gaza.
Pada Minggu sebelumnya, serangan drone Israel terhadap sebuah bengkel pandai besi di kawasan Sabra, Kota Gaza, menewaskan sedikitnya empat warga Palestina dan melukai satu orang lainnya. Seluruh korban dilarikan ke Rumah Sakit Al-Shifa.
Militer Israel mengakui telah melakukan serangan tersebut dengan alasan menargetkan apa yang mereka sebut sebagai “infrastruktur teroris”, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Sementara itu, seorang warga Palestina meninggal akibat luka yang dideritanya setelah ditembak pasukan Israel di dekat Kamp Pengungsi Al-Bureij pada Jumat lalu. Korban lainnya meninggal akibat luka dari serangan drone Israel di timur Khan Younis.
Israel Perluas Wilayah yang Dikuasai di Gaza
Di sisi lain, pasukan Israel terus memperluas wilayah yang berada di bawah kendalinya di Jalur Gaza.
Balok-balok beton yang menandai area kendali militer Israel kini dipindahkan hingga sekitar 200 meter dari Jalan Salah al-Din, jalur utama yang menghubungkan Gaza utara dan selatan, tepatnya di kawasan Shujaiya, Kota Gaza.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran warga Palestina karena siapa pun yang melintas di sekitar kawasan itu berisiko menjadi sasaran tembakan.
Perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada Oktober lalu berulang kali dilanggar Israel, yang sejak Oktober 2023 melancarkan agresi militer di Jalur Gaza. Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 73.000 warga Palestina telah gugur sejak perang dimulai.
Dalam ketentuan gencatan senjata, Israel seharusnya hanya menguasai wilayah di belakang garis demarkasi yang dikenal sebagai “Yellow Line” di bagian timur Gaza. Militer Israel mengklaim garis tersebut mencakup sekitar 58 persen wilayah Gaza, namun dalam beberapa bulan terakhir wilayah itu terus diperluas.
Warga Palestina melaporkan bahwa sejumlah warga ditembak dan tewas karena dianggap terlalu dekat dengan garis tersebut, yang posisinya juga terus bergeser.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, hingga kini 1.108 warga Palestina gugur dan 3.578 lainnya terluka akibat pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel.
