Jakarta — Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina kembali disuarakan di jalanan Ibu Kota. Konvoi Kemerdekaan untuk Palestina dijadwalkan berlangsung pada Selasa (3/11) mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, dengan rute dari Maqdisi AQL, Jalan Tebet Utara I Nomor 40, Jakarta Selatan, menuju kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
Konvoi yang mengusung tema “Menuju Konser Kemerdekaan Palestina” ini menampilkan sejumlah tokoh dalam materi publikasinya, yakni Ustaz Bachtiar Nasir selaku Pembina IPC, M. Husein Gaza, dan Kang Handy Bonny. Materi tersebut juga memuat logo Global Peace Convoy Indonesia, Indonesia Peace Convoy, KIBBM, dan SAJID.
Dalam orasinya, aktivis kemanusiaan Muhammad Husein menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang bagi penjajahan di Indonesia sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Ia juga menyerukan agar masyarakat Indonesia menolak segala bentuk normalisasi hubungan dengan Israel. Menurutnya, solidaritas terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada kecaman, tetapi harus diwujudkan melalui sikap nyata, termasuk menolak upaya normalisasi yang dikemas melalui berbagai kegiatan hiburan.
“Jangan sampai kita menormalisasikan hubungan dengan penjajah, dalam hal ini Israel, hanya karena iming-iming pentas hiburan musik. Jangan sampai hiburan membuat kita melupakan penderitaan rakyat Palestina dan mengaburkan sikap kita terhadap penjajahan,” tegas Muhammad Husein dalam orasinya.
Ia mengingatkan bahwa amanat konstitusi Indonesia harus menjadi pijakan dalam menentukan sikap terhadap segala bentuk penjajahan. Karena itu, menurutnya, tidak boleh ada kompromi terhadap praktik penjajahan maupun upaya membangun hubungan normal dengan pihak yang masih melakukan pendudukan atas Palestina.
Sementara itu, Ustadz Bachtiar Natsir dalam orasinya menyerukan masyarakat untuk memboikot pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan konser tersebut. Menurutnya, boikot merupakan salah satu bentuk ikhtiar dan sikap nyata masyarakat dalam menunjukkan keberpihakan terhadap rakyat Palestina.
“Boikot pihak yang terlibat dalam konser ini. Ini adalah ikhtiar kita. Penderitaan rakyat Palestina tidak bisa dihilangkan dengan konser musik, terlebih jika kegiatan tersebut justru mendukung pihak-pihak yang terlibat dalam genosida,” tegas Ustadz Bachtiar Natsir.
Berdasarkan peta rute yang disebarkan, peserta berangkat dari Jalan Tebet Utara I menuju Jalan KH Abdullah Syafei, lalu bergerak ke arah Karet. Dari sana, rombongan berbelok ke utara melalui Jalan Jenderal Sudirman, melewati Bundaran HI, dan melanjutkan perjalanan di sepanjang Jalan MH Thamrin. Konvoi berakhir di Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, yang berada di kawasan Monas.
Di tengah semangat aksi tersebut, peserta diingatkan untuk tetap tertib. Melalui imbauan berkendara yang dirilis untuk kegiatan ini, peserta diajak terlebih dahulu meluruskan niat, yaitu mengikuti konvoi dengan mengharap rida Allah untuk menyuarakan dukungan kepada Palestina.
Keselamatan di jalan juga menjadi perhatian utama. Pengendara sepeda motor dan penumpangnya wajib mengenakan helm, sementara seluruh peserta wajib mematuhi aturan lalu lintas yang berlaku dan menjaga jarak aman selama perjalanan. Peserta juga dianjurkan mengenakan sepatu.
Sebagai simbol persaudaraan kedua bangsa, peserta diimbau membawa bendera Indonesia dan Palestina serta mengenakan atribut Palestina, baik pada pakaian maupun kendaraan. Meski demikian, atribut yang dibawa atau dipasang harus dipastikan aman sehingga tidak membahayakan diri sendiri maupun pengendara lain.
Ajakan konvoi ini sebelumnya mengangkat amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Amanat itu menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap Palestina berakar pada sikap bangsa Indonesia dalam menentang segala bentuk penjajahan.


