Oleh: David Hearst
Hubungan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu mengalami perubahan drastis. Trump yang sebelumnya dianggap sebagai presiden paling pro-Israel kini justru menjadi sasaran kritik keras dari kalangan kanan Israel setelah dianggap terlalu lunak terhadap Iran dan menyerukan penghentian perang.
Menurut Hearst, perubahan sikap para komentator pro-Netanyahu menunjukkan bahwa dukungan Israel terhadap pemimpin asing sangat bergantung pada sejauh mana mereka mendukung agenda perang dan ekspansi Israel.
Padahal Trump memberikan hampir semua yang diinginkan Israel: pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, pengakuan aneksasi Dataran Tinggi Golan, penunjukan duta besar pro-pemukim David Friedman, serta dukungan penuh terhadap operasi militer Israel di Gaza.
Hearst menyebut kedekatan Trump dan Netanyahu belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan Netanyahu disebut memiliki akses langsung ke lingkaran dalam Gedung Putih melalui Jared Kushner dan tokoh-tokoh lain yang dekat dengan presiden.
Salah satu poin utama opini ini adalah bahwa konflik Israel–Trump bukan hal baru dalam sejarah Zionisme. Penulis mengingatkan bahwa kelompok Zionis bersenjata pernah berbalik melawan Inggris, meski Inggris sebelumnya mendukung pendirian tanah air Yahudi melalui Deklarasi Balfour.
Contoh yang dikutip adalah pengeboman King David Hotel dan pembunuhan mediator PBB Folke Bernadotte, yang menurut penulis menunjukkan pola bahwa kekuatan pendukung Israel dapat diserang ketika dianggap menghambat tujuan Zionis.
Penulis juga menilai pola serupa terlihat pada hubungan Netanyahu dengan presiden-presiden AS sebelumnya. Barack Obama dan Joe Biden tetap memberi bantuan besar kepada Israel, tetapi kerap menerima kritik dan tekanan politik dari Netanyahu.
Hearst menilai sebagian kalangan Israel kini secara terbuka menggunakan retorika supremasi Yahudi. Ia mengutip mantan menteri pertahanan Moshe Ya’alon yang memperingatkan tentang berkembangnya ideologi “keunggulan Yahudi” di kalangan Zionis religius dan pemukim.
Menurut penulis, kemarahan Israel terhadap Trump muncul karena untuk pertama kalinya seorang presiden AS mulai memberi sinyal bahwa Israel harus menghentikan perang, sesuatu yang dianggap mengejutkan oleh negara yang selama ini merasa memiliki dukungan tanpa syarat dari Washington.
Bagian terpenting opini ini adalah perubahan opini publik Amerika. Hearst menyebut perang Gaza, konflik dengan Iran, dan pendudukan wilayah di Lebanon serta Suriah telah merusak dukungan generasi muda Amerika terhadap Israel.
Data Pew Research Center menunjukkan mayoritas warga Amerika di bawah usia 50 tahun kini memandang Israel dan Netanyahu secara negatif. Secara keseluruhan, sekitar 60 persen warga Amerika memiliki pandangan tidak menguntungkan terhadap Israel.
Perubahan ini mulai terlihat dalam politik elektoral. Sejumlah kandidat Demokrat yang didukung AIPAC kalah dalam pemilihan pendahuluan, sementara kandidat yang lebih kritis terhadap perang Gaza meraih kemenangan.
Namun Hearst mengingatkan bahwa perubahan tersebut belum otomatis berarti kemenangan gerakan pro-Palestina. Banyak politisi pemenang tetap mendefinisikan diri sebagai Zionis liberal dan belum mendukung tuntutan utama seperti boikot terhadap Israel.
Meski demikian, penulis menilai terjadi perubahan besar: Palestina tidak lagi menjadi isu pinggiran. Penderitaan warga Gaza kini dibahas di kalangan progresif maupun konservatif, dan sebagian kelompok kanan Amerika mulai melihat Israel sebagai beban politik, bukan lagi aset strategis.
Kesimpulan Hearst: Amerika mungkin sedang memasuki era berakhirnya “keistimewaan Israel” dalam politik AS. Prosesnya masih panjang dan akan menghadapi perlawanan kuat dari lobi pro-Israel, tetapi semakin dukungan terhadap Israel dipertahankan melalui tekanan politik, dan bukan lagi melalui keyakinan publik, semakin besar tantangan yang dihadapi Zionisme di Amerika.
