GAZA CITY — Pasukan Israel dilaporkan bergerak melewati garis batas yang disepakati dalam gencatan senjata di lingkungan Zeitoun, Gaza City, pada Sabtu malam, memicu gelombang pengungsian baru bagi warga yang tinggal di dekat “garis kuning” pembatas wilayah kendali Israel dan Hamas. Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dirilis Senin (20/7), pelanggaran Israel terhadap gencatan senjata sejak Oktober tahun lalu telah menewaskan 1.158 warga Palestina dan melukai 3.756 orang lainnya. Sebagian besar korban tewas dan luka adalah perempuan dan anak-anak.
Warga Terjebak di Tengah Malam
Amin Dawla, 38 tahun, salah satu warga yang mengungsi, mengatakan keluarganya melarikan diri pada malam hari di bawah tembakan senjata dan artileri setelah mendapat peringatan bahwa tentara Israel akan melakukan operasi militer terbatas melewati garis kuning. Dawla, yang tinggal sekitar 500 meter dari garis tersebut, mengatakan kepada The National bahwa mereka berlari sambil menggendong anak-anak mereka.
Ketika warga mencoba kembali keesokan paginya untuk memeriksa tenda dan barang-barang mereka, Dawla mengatakan mereka menemukan beberapa orang, termasuk perempuan, tewas saat berusaha melarikan diri. Ia menambahkan bahwa pasukan Israel telah bergeser sekitar 300 meter melewati garis kuning, mendekati area tempat tinggal mereka sebelumnya.
Analis: Perang Terus Berulang Setiap Hari
Analis politik Palestina, Mustafa Ibrahim, mengatakan kepada The National pada Senin (20/7) bahwa Israel tidak mengakui gencatan senjata dan terus melakukan pembunuhan. Ia menyebut pengungsian paksa dan pengeboman tidak pernah benar-benar berhenti sejak kesepakatan diteken.
Ibrahim menekankan bahwa mediator internasional perlu turun tangan untuk menghentikan perluasan wilayah kendali Israel serta serangan yang terus berlangsung.
Selain serangan militer, warga Gaza juga menghadapi pembatasan di perlintasan perbatasan yang membatasi masuknya bantuan pangan dan kemanusiaan. Kondisi ini terjadi di tengah kerusakan sekitar 80 persen bangunan di Gaza dan pengungsian sekitar 1,9 juta dari total 2,4 juta penduduk sejak dimulainya perang.
Kampanye “Mereka Membohongimu”
Aktivis media sosial Palestina meluncurkan kampanye bertajuk “They Lied to You” untuk melawan persepsi internasional bahwa perang telah berakhir. Ahmed Al Majayda, salah satu penggerak kampanye, mengatakan kepada The National bahwa setiap hari Gaza berduka atas korban baru, termasuk anak-anak yang tewas dalam serangan yang menargetkan seluruh keluarga.
Situasi ini terjadi seiring dengan berjalannya rencana rekonstruksi Gaza oleh Board of Peace pimpinan Donald Trump yang dibentuk melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Sehari sebelumnya, badan tersebut dilaporkan menyetujui proyek percontohan perumahan berskala kecil bagi warga Gaza, sebuah langkah yang dinilai sejumlah pihak masih jauh dari kebutuhan rekonstruksi yang mendesak.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Israel belum memberikan tanggapan resmi atas laporan pergerakan pasukan melewati garis kuning di Zeitoun. (IW)
