NEW YORK — Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar gencatan senjata di Jalur Gaza dijadikan permanen, menjelang peringatan tiga tahun serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Seruan itu dilaporkan media pada Selasa (6/10/2026). Guterres juga meminta bantuan kemanusiaan diizinkan masuk dalam skala besar, karena menurutnya jeda pertempuran belum memberi keamanan maupun pemulihan yang memadai bagi warga Gaza.
“It is time for the ceasefire to become permanent,” kata Guterres, seperti dikutip stasiun penyiaran Irlandia RTÉ.
Gencatan senjata yang belum tuntas
Guterres mengakui gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Oktober 2025 membawa sedikit kelegaan. Namun, menurut dia, kesepakatan itu belum menghasilkan keamanan, bantuan kemanusiaan yang cukup, atau jalan yang kredibel menuju pemulihan dan perdamaian.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Kesepakatan itu mengakhiri operasi militer skala penuh dan membuka jalan bagi pembebasan seluruh sandera yang tersisa, menurut laporan Associated Press pada Juni lalu.
Perundingan buntu soal pelucutan senjata
Israel masih menguasai sebagian besar wilayah Gaza dan menolak menarik pasukan sebelum pelucutan senjata Hamas terverifikasi, demikian RTÉ. Hamas menginginkan pelucutan secara bertahap, bukan penyerahan seluruh persenjataan sekaligus dan sepihak.
Surat kabar Israel Ynet melaporkan dua hari lalu bahwa militer Israel menguasai sekitar 64 persen wilayah Gaza dengan dua divisi di sekitar 30 pos. Seorang pejabat keamanan Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan sekitar 600 truk masuk ke Gaza setiap hari dengan izin Israel.
Angka 600 truk per hari itu sejalan dengan jumlah yang menurut Al Jazeera tercantum dalam kesepakatan Oktober 2025. Al Jazeera, mengutip laporan lapangan pada akhir Juli, menyebut Israel belum memenuhi kewajiban tersebut.
Korban terus bertambah selama gencatan senjata
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat lebih dari 74.200 warga Palestina tewas sejak perang dimulai, menurut RTÉ. Kementerian itu berada di bawah otoritas Hamas, tetapi PBB menilai angkanya dapat diandalkan.
Serangan Israel terus menimbulkan korban meski gencatan senjata berlaku. Pada pertengahan Juli, Kementerian Kesehatan Gaza menyebut 1.127 orang tewas sejak gencatan senjata, seperti dilaporkan Egypt Today mengutip Reuters. Israel menyatakan serangannya menyasar Hamas dan kelompok bersenjata lain, serta merupakan tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata. Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan 251 orang disandera, menurut data Israel.


