Teheran – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak berada dalam kondisi damai dengan Amerika Serikat dan menyebut Washington sebagai pihak yang tidak dapat dipercaya.
Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf saat bertemu dengan Mohammad Darwish, Ketua Dewan Syura Hamas, di Teheran pada Ahad (6/7). Dalam pertemuan itu, ia juga menegaskan, Iran tidak akan pernah mengakui Israel.
Ghalibaf mengatakan Iran akan terus mendukung umat Islam dan Poros Perlawanan (Axis of Resistance), termasuk dengan menyediakan rudal ketika diperlukan serta memberikan dukungan politik kapan pun dibutuhkan.
Terkait perundingan, Ghalibaf menyatakan Iran telah menetapkan garis-garis merah yang jelas dan tetap berpegang teguh pada prinsip tersebut sepanjang proses negosiasi. Menurutnya, Poros Perlawanan dan Lebanon merupakan bagian dari garis merah yang tidak dapat ditawar. Ia juga berjanji akan mengawal secara serius tahap kedua proses gencatan senjata di Gaza.
Ghalibaf menambahkan, Iran tidak pernah meninggalkan tuntutan utamanya dalam nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Amerika Serikat melalui mediasi Qatar dan Pakistan. Kesepahaman tersebut, katanya, menuntut diakhirinya perang terhadap sekutu-sekutu regional Iran dan Poros Perlawanan. Ia bahkan mengklaim bahwa Amerika Serikat “terpaksa mengakui” tuntutan tersebut dalam nota kesepahaman itu.
Lebih lanjut, Ghalibaf menegaskan bahwa kesiapan militer penuh merupakan syarat penting agar Iran dapat bernegosiasi dari posisi yang kuat. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel akan memilih jalan perang apabila melihat adanya kelemahan dalam kemampuan pertahanan dan perlawanan Iran.
Ia juga menekankan diplomasi harus mampu menjaga serta mempertahankan hasil-hasil yang dicapai melalui kekuatan militer, sehingga manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.
