Sebelum ada Hamas, sebelum ada blokade Israel, sebelum ada Nakba — Gaza pernah dikosongkan dalam sekejap oleh perintah seorang pasha Ottoman. Kisah pengungsian massal pertama dalam sejarah modern Gaza nyaris terlupakan.
GAZA CITY — Pada awal Maret 1917, seorang kurir Ottoman mengedarkan perintah di seluruh penjuru Gaza. Isinya singkat dan tak terbantahkan: seluruh penduduk harus meninggalkan kota dalam 48 jam. Bagi yang tidak sanggup berjalan, tetap harus pergi — “bahkan jika harus merangkak dengan lutut.”
Kota berpenduduk 35.000 hingga 40.000 jiwa itu tiba-tiba kosong.
Delapan bulan kemudian, ketika pasukan Inggris akhirnya berhasil memasuki Gaza pada 7 November 1917, mereka tidak menemukan pejuang Ottoman yang masih bertahan. Mereka menemukan reruntuhan dan kesunyian.
Latar: Gaza sebagai Kunci Palestina
Untuk memahami mengapa Gaza dikosongkan, kita perlu mundur ke awal 1917. Perang Dunia I telah mengubah Timur Tengah menjadi papan catur raksasa. Kekaisaran Ottoman — yang telah menguasai Palestina selama lebih dari 400 tahun — mulai terdesak. Baghdad jatuh ke tangan Inggris. Di selatan, pasukan Inggris yang tergabung dalam Egyptian Expeditionary Force (EEF) bergerak dari Mesir, merebut pos-pos Ottoman di Semenanjung Sinai satu per satu.
Setiap kekuatan yang ingin menguasai Mesir harus menguasai Gaza terlebih dahulu, dan setiap kampanye menuju Lembah Nil harus diluncurkan ke barat dari Gaza. Itulah sebabnya para jenderal Inggris menetapkan Gaza sebagai target utama: tanpa Gaza, jalan menuju Jerusalem tertutup.
Pada Januari 1917, Inggris merebut Rafah hanya dalam satu hari, pada 9 Januari 1917. Gaza kini berada dalam jangkauan meriam.
48 Jam untuk Meninggalkan Segalanya
Komandan Ottoman di wilayah itu, Djemal Pasha, mengambil keputusan yang akan mengubah nasib puluhan ribu orang: mengosongkan kota sebelum pertempuran dimulai, agar warga sipil tidak menjadi korban.
Pada awal Maret, seluruh penduduk Gaza diusir — sebuah kota berpenduduk 35.000 hingga 40.000 jiwa, mayoritas Arab. Mereka diberi waktu 48 jam untuk pergi, “bahkan jika harus merangkak dengan lutut.” Banyak laki-laki yang direkrut paksa menjadi tentara, sementara sisanya berpencar ke seluruh Palestina dan Suriah — pertama ke desa-desa terdekat, lalu semakin jauh ketika desa-desa itu pun turut dikosongkan. Kematian akibat kelaparan dan kehujanan merajalela.
Gaza adalah salah satu kota terbesar di Palestina, namun dikosongkan dan hampir hancur total dalam pertempuran-pertempuran 1917. Bagi ribuan keluarga yang meninggalkan rumah, toko, kebun, dan ternak mereka — tidak ada yang tahu kapan mereka bisa kembali, atau apakah mereka akan kembali sama sekali.
Tiga Pertempuran, Satu Kota yang Sama
Dengan warga sipil sudah pergi, pertempuran memperebutkan Gaza berlangsung tiga kali dalam delapan bulan — semuanya di tahun 1917.
Pertempuran Gaza Pertama pecah pada 26 Maret 1917, ketika Egyptian Expeditionary Force menyerang kota yang saat itu bagian dari Kekaisaran Ottoman. Pasukan berkuda Inggris berhasil memasuki kota dari utara dan sempat menguasai ketinggian strategis. Namun saat kemenangan hampir diraih, komandan Inggris Jenderal Dobell justru memerintahkan mundur menjelang malam — khawatir pasokan air bagi kuda-kuda kavaleri tidak akan cukup. Keesokan harinya ia menyadari kekeliruannya, namun Ottoman telah mengisi kembali pertahanan mereka. Korban Inggris mencapai 4.000 orang, sementara korban Ottoman sekitar 2.400 — namun laporan yang salah dikirim ke London mengklaim kerugian Ottoman mencapai 7.500 jiwa, sehingga London yakin kemenangan sudah di depan mata.
Keyakinan keliru itu mendorong Pertempuran Gaza Kedua pada 17 April 1917. Kali ini Inggris menurunkan tank dan peluru gas — keduanya gagal total. Setelah tiga hari pertempuran, korban Inggris mencapai 6.444 orang, tiga kali lipat korban Ottoman. Gaza masih bertahan di tangan Ottoman. HISTORY
Dua kekalahan berturut-turut memaksa London bertindak. Komandan diganti: Jenderal Archibald Murray dicopot, digantikan oleh Jenderal Edmund Allenby, yang kemudian dikenang sebagai penakluk Tanah Suci yang mengakhiri 400 tahun kekuasaan Ottoman.
Tipu Daya Allenby dan Kota yang Ditinggalkan
Allenby tidak mau mengulangi kesalahan pendahulunya. Ia merancang strategi penipuan berskala besar: membuat Ottoman percaya bahwa serangan ketiga akan datang langsung ke Gaza, sementara serangan sesungguhnya diarahkan ke Beersheba di timur.
Mulai 27 Oktober, Gaza dibombardir dengan artileri berat dan tembakan dari kapal-kapal perang Inggris dan Prancis. Beersheba jatuh pada 1 November, dan seminggu kemudian pasukan Inggris memaksa masuk ke Gaza.
Namun pada saat itu, Ottoman menyadari Gaza tidak bisa lagi bertahan dan pada 6 November 1917, mereka mengosongkan kota. Ketika Inggris memasuki Gaza, mereka mendapatinya telah ditinggalkan dan hancur.
Kota yang selama delapan bulan menjadi pusat pertarungan dua kekaisaran besar itu kini sunyi. Tidak ada penduduk, tidak ada tentara Ottoman — hanya reruntuhan dan debu.
Dua Peristiwa dalam Satu Hari
Ada satu detail sejarah yang hampir selalu luput dari catatan: hari ketika Inggris memasuki Gaza bertepatan dengan momen paling menentukan bagi masa depan Palestina.
Allenby memasuki Gaza pada 9 November, hari yang sama ketika Kantor Luar Negeri Inggris mengumumkan Deklarasi Balfour yang disepakati seminggu sebelumnya — menyatakan dukungan Pemerintah Inggris terhadap pembentukan “tanah air nasional bagi rakyat Yahudi” di Palestina.
Dua peristiwa itu — satu di medan perang, satu di meja diplomatik — terjadi dalam 24 jam yang sama. Warga Gaza yang sedang mengungsi di desa-desa Palestina dan Suriah tidak mengetahuinya.
Kota yang Pulih Terlalu Lambat
Setelah pertempuran usai, warga Gaza diperbolehkan kembali. Namun yang mereka temukan bukanlah kota yang mereka tinggalkan. Kota itu hancur akibat pengeboman Inggris, dan juga akibat kebiasaan Ottoman yang menghancurkan bangunan-bangunan lokal untuk memperkuat pertahanan. Selama bertahun-tahun setelah itu, Gaza tetap menjadi kota yang menyedihkan dan hancur.
Gaza tidak pulih ke jumlah penduduknya sebelum perang hingga tahun 1940-an — dua puluh tahun lebih untuk membangun kembali apa yang hilang dalam delapan bulan.
Bagi mereka yang hidup melalui masa itu, pengalaman 1917 meninggalkan sesuatu yang sulit dilupakan: perasaan bahwa kota ini adalah tempat yang selalu diperebutkan orang lain, dan warganya selalu menjadi yang pertama disuruh pergi. (iw)
