Sekitar Pukul 21.00 WIB, Ibu Tatik Kancaniati menulis pesan Whatsapp ke saya. Bunyinya, antara lain, “Sy di wa Panitia di Turki jg demikian kondisi nya .. sgt biadab Isrl”. Saya membalas bertanya apakah suami Bu Tatik masih bebas atau ikut ditangkap. Jawabannya memilukan: “Ditangkap, pak”. Lalu beliau mengirimkan sebuah video sambil menjelaskan, “Ini suami sy Herman Budianto dr LAZ DD (Dompet Dhuafa)”.
Ya Allah, suami beliau—Bapak Herman Budianto, seorang aktivis kemanusiaan dari lembaga Dompet Dhuafa—kini berada dalam tahanan tentara Israel. Saya hanya mampu memanjatkan doa, “Semoga perjuangan beliau menjadi amal ibadah yang menambah amal kebajikan beliau dan seluruh keluarganya yang penuh kesabaran menghadapi cobaan ini kelak di hadapan Allah SWT.”
Percakapan sederhana di awal malam itu membuka mata saya pada kenyataan pahit: di laut lepas, di perairan internasional yang seharusnya bebas dan dilindungi hukum, sembilan warga negara Indonesia diculik oleh tentara Israel. Mereka bukanlah kombatan, bukan pula musuh bersenjata. Mereka adalah jurnalis dan aktivis kemanusiaan yang sedang menjalankan misi mulia: mengirimkan bantuan ke Gaza yang kelaparan dan hancur akibat blokade serta agresi Israel yang tak berkesudahan.
Kronologi Penculikan di Laut Lepas
Global Sumud Flotilla 2.0 adalah misi pelayaran kemanusiaan internasional yang bertujuan menerobos blokade ilegal Israel atas Jalur Gaza. Sebanyak sembilan WNI tergabung di dalamnya: empat jurnalis dan lima aktivis. Mereka adalah Andi, Rahendro, Andre, Thoudy, Abeng, Herman, Ronggo, Asad, dan Hendro.¹ Nama-nama yang mungkin asing di telinga banyak orang, namun keberanian mereka luar biasa.
Penangkapan terjadi secara bertahap dan keji. Pada Senin (18/5/2026), lima orang pertama ditangkap. Dua lainnya—termasuk Herman Budianto—sempat lolos berkat manuver cerdas kapten kapal. Namun kebiadaban tak kenal ampun. Beberapa jam kemudian, mereka berhasil diburu dan ditangkap pula. Empat jam berselang, dua sisanya menyusul mengirimkan pesan darurat bahwa mereka juga telah ditangkap.²
Mereka mengirimkan video SOS sebelum komunikasi terputus total. Wajah-wajah cemas namun tegar, memberitahukan kepada dunia bahwa mereka diculik di laut lepas oleh tentara Israel. Tidak ada delik hukum, tidak ada kejahatan yang mereka lakukan. Satu-satunya “kesalahan” mereka adalah berusaha membantu warga Gaza yang sejak berbulan-bulan menderita kelaparan dan pemboman.
Pelanggaran Hukum Internasional yang Terang-terangan
Penculikan di laut lepas adalah pembajakan. Perairan internasional berada di luar yurisdiksi negara mana pun. Kapal-kapal yang mengibarkan bendera negara tertentu memiliki hak lintas damai. Tentara Israel tidak memiliki wewenang apa pun untuk menghentikan, apalagi menangkap warga negara asing di tengah lautan.
Ini bukan kali pertama Israel melakukan tindakan biadab serupa. Dunia masih ingat insiden Mavi Marmara pada 2010, ketika komando Israel menyerbu kapal bantuan kemanusiaan di perairan internasional dan menewaskan sembilan aktivis Turki. Kini sejarah berulang. Kali ini korban adalah warga Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan sahabat setia rakyat Palestina.
Israel tega menangkap jurnalis yang sedang bertugas. Padahal, menurut Hukum Humaniter Internasional dan berbagai resolusi PBB, jurnalis yang meliput konflik harus dilindungi. Mereka bukan sasaran militer. Namun bagi rezim Zionis, tidak ada aturan yang dihormati. Kebiadaban adalah kebijakan resmi.
Reaksi Pemerintah dan Keterbatasan Diplomasi
Menteri Luar Negeri Sugiono bergerak cepat. Beliau meminta bantuan Yordania dan Turki—negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel—untuk memastikan kondisi sembilan WNI tersebut.³ Pemerintah juga mengapresiasi semangat kemanusiaan para relawan dan berjanji terus memantau.
Namun kita harus jujur: Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Jalur komunikasi resmi tidak ada. Kita hanya bisa “menitipkan pesan” melalui negara ketiga. Inilah ironi panjang perjuangan Palestina: kita yang paling vokal mendukung kemerdekaan Palestina justru tidak punya akses langsung ke pihak yang menduduki dan menindas.
Keterbatasan ini tidak boleh melunturkan semangat. Pemerintah harus terus menggunakan semua jalur yang ada: PBB, Gerakan Non-Blok, OKI, serta tekanan diplomatik melalui negara-negara sahabat. Dunia internasional perlu melihat bahwa Israel tidak hanya melawan Palestina, tetapi juga melawan suara kemanusiaan dari seluruh dunia.
Langkah Strategis MUI: Konsolidasi Darurat
Di tengah kegentingan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengambil langkah konkret. Dalam surat bernomor U-1730/DP-MUI/V/2026 yang diterbitkan pada tanggal 20 Mei 2026, MUI mengundang seluruh lembaga filantropi, organisasi kemasyarakatan, media, dan aktivis pro-kemanusiaan serta Palestina untuk menghadiri konsolidasi darurat.⁴
Konsolidasi tersebut direncanakan berlangsung secara hybrid pada hari Kamis, 21 Mei 2026, pukul 09.00–12.00 WIB, bertempat di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Jalan Proklamasi No. 51 Menteng, Jakarta Pusat, serta melalui platform Zoom.⁵ Agenda yang dibahas meliputi langkah strategis, konsolidasi bantuan, dan sikap bersama media/organisasi kemasyarakatan.⁶
Undangan yang ditandatangani Ketua MUI bidang Luar Negeri, Prof. Dr. H. Sudarnoto Abdul Hakim, ini menegaskan situasi darurat yang memerlukan respons cepat dan koordinasi terpadu.⁷ Kehadiran berbagai elemen bangsa sangat diharapkan agar dapat merumuskan tekanan kolektif kepada Israel dan pemerintah internasional.
Ini adalah momen penting. MUI tidak hanya bersuara, tetapi menggerakkan kekuatan umat. Konsolidasi semacam ini diharapkan mampu melahirkan langkah-langkah taktis: pengiriman tim advokasi, galangan dana untuk keluarga korban, hingga kampanye global menuntut pembebasan para aktivis.
Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Saya ingin menyebut nama mereka satu per satu: Herman Budianto, suami dari Ibu Tatik yang pesannya mengawali tulisan ini. Beliau adalah aktivis Laznas DD (Dompet Dhuafa) yang telah lama berkecimpung dalam misi-misi kemanusiaan. Juga Andi, Rahendro, Andre, Thoudy, Abeng, Ronggo, Asad, dan Hendro—jurnalis serta aktivis yang rela meninggalkan kenyamanan rumah demi membawa bantuan ke saudara-saudara mereka di Gaza.
Mereka adalah pahlawan kemanusiaan. Tanpa pamrih, tanpa ingin dikenal, mereka naik ke kapal yang membawa makanan, obat-obatan, dan harapan. Mereka tahu risikonya: Israel telah berulang kali mengumumkan akan mencegat dan menyerang kapal-kapal flotilla. Namun keberanian mengalahkan ketakutan.
Istri-istri, anak-anak, orang tua mereka kini menanti di rumah. Air mata menetes setiap malam. Telepon genggam tidak pernah mati, berharap ada kabar. Apa yang bisa kami katakan kepada mereka? Bahwa suami dan ayah mereka ditahan di penjara asing tanpa proses hukum yang adil? Bahwa dunia tampak diam melihat ketidakadilan ini?
Tindakan yang Harus Dilakukan
Pertama, pemerintah Indonesia harus segera membentuk tim khusus yang bekerja 24 jam untuk memastikan keselamatan sembilan WNI ini. Kedua, kita harus menggalang tekanan internasional melalui PBB untuk menuntut pembebasan segera tanpa syarat. Ketiga, masyarakat sipil Indonesia harus bersuara: demonstrasi di depan kedutaan besar negara-negara yang memiliki hubungan dengan Israel, boikot terhadap produk-produk yang mendukung pendudukan, dan terus menggaungkan isu ini di media sosial.
Keempat, kita harus mendukung konsolidasi MUI dan organisasi lain yang bergerak. Kelima, misi kemanusiaan untuk Gaza tidak boleh berhenti. Israel tidak boleh berhasil mengintimidasi nurani dunia.
Penutup: Doa dan Harapan
Kepada Ibu Tatik Kancaniati dan seluruh keluarga dari sembilan aktivis yang diculik, kami berdoa semoga Allah SWT memberikan kesabaran dan kekuatan. “Aamiin ya Rabb jazakallah pak,” begitu balasan Ibu Tatik atas doa yang saya panjatkan. Kata-kata singkat itu menunjukkan keimanan yang kokoh di tengah badai.
Kepada Bapak Herman Budianto dan kawan-kawan: tetaplah tegar. Dunia mungkin lambat bergerak, namun tidak selamanya diam. Keadilan mungkin tertunda, namun tidak akan pernah batal. Perjuangan kalian adalah perjuangan kemanusiaan. Tangan yang hari ini diborgol Israel, besok akan disebut sebagai tangan-tangan mulia yang mencoba menghentikan genosida.
Dan kepada Israel: kebiadaban hanya akan melahirkan perlawanan. Semakin keras Anda menindas, semakin banyak manusia di dunia ini yang akan bangkit melawan ketidakadilan. Sembilan WNI yang Anda culik di laut lepas itu bukanlah korban terakhir. Mereka adalah bibit-bibit perlawanan moral yang akan tumbuh di setiap hati yang mencintai keadilan.
Semoga konsolidasi yang digerakkan MUI menjadi titik balik. Semoga Allah SWT melindungi para aktivis, memberi mereka kekuatan, dan segera membebaskan mereka dari penjara Zionis. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar dan berbuat kebaikan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Inayatullah A. Hasyim
Ketua LAZ Islamic Relief Indonesia. Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI.


