GAZA CITY — Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengumumkan bahwa pihaknya telah menyelesaikan seluruh persiapan untuk mendirikan tiga permukiman Yahudi di kawasan utara Jalur Gaza, dan kini hanya menunggu persetujuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pernyataan itu disampaikan akhir Juni 2026, memicu kecaman luas dari kelompok-kelompok Palestina dan kekhawatiran baru atas nasib warga yang masih tinggal di Gaza.
Rencana yang Menunggu “Lampu Hijau”
Administrasi Permukiman Kementerian Pertahanan, yang berada di bawah kendali Smotrich, menyatakan telah menyelesaikan seluruh pekerjaan persiapan untuk mendirikan tiga permukiman di kawasan utara Gaza.
Dalam sebuah video yang direkam dari kota Sderot, Smotrich menyatakan, “Kami siap mendirikan tiga permukiman di kawasan utara segera, begitu kami menerima lampu hijau dari perdana menteri dan menteri pertahanan.” Ia juga menyerukan penguasaan militer atas sisa wilayah Gaza yang belum dikuasai Israel, dan menyebut permukiman tersebut akan berfungsi sebagai “sabuk perlindungan” bagi komunitas Israel di perbatasan.
Esok harinya, Netanyahu mendekati pemberian persetujuan tersebut, meski belum secara resmi mengumumkannya.
Reaksi: Ditolak Palestina, Diragukan AS
Kelompok-kelompok perlawanan Palestina menyebut rencana ini sebagai “eskalasi kriminal berbahaya” dan pelanggaran hukum internasional. Meski demikian, menurut Times of Israel, rencana kembalinya permukiman di Gaza sangat ditentang oleh Amerika Serikat dan dipandang tidak mungkin terwujud dalam waktu dekat.
Analis menilai pernyataan Smotrich lebih kuat bernuansa kepentingan pemilu daripada kebijakan nyata — partai Religious Zionism yang dipimpinnya tengah berjuang di ambang batas masuk parlemen menjelang pemilu yang harus digelar sebelum akhir Oktober 2026.
Konteks: Siapa Smotrich dan Apa Posisi Netanyahu?
Smotrich dikenal sebagai sosok yang selama ini mendorong ekspansi permukiman Israel dan berulang kali menyerukan aneksasi wilayah di Tepi Barat maupun Gaza.
Netanyahu sendiri belum pernah secara eksplisit menyatakan ingin mendirikan permukiman baru di Gaza. Namun bulan lalu ia menyatakan telah menginstruksikan militer untuk menguasai 70 persen wilayah Gaza — melampaui batas yang ditetapkan gencatan senjata Oktober 2025, yang semula memberi Israel kendali atas sekitar 53 persen wilayah.
Di lapangan, pasukan Israel saat ini tetap mempertahankan kendali atas sekitar 70 persen Gaza, sementara serangan terus berlanjut meski gencatan senjata berlaku sejak Oktober 2025.
