Pada pertengahan abad ke-19, Gaza adalah kota yang pasarnya lebih ramai dari Jerusalem, gudangnya penuh biji-bijian untuk dikirim ke pabrik bir Inggris, dan kafilah-kafilahnya menjadi urat nadi perdagangan antara Mesir dan Suriah. Lalu sebuah kanal digali di Mesir — dan dunia Gaza berubah selamanya.
GAZA CITY — Ketika sarjana Amerika Edward Robinson mengunjungi Gaza pada tahun 1838, ia terkejut oleh apa yang ditemukannya. Gaza, dalam catatannya, adalah kota yang “padat penduduk” — lebih besar dari Jerusalem saat itu, dengan populasi sekitar 15.000 hingga 16.000 jiwa. Tanah di sekitarnya subur, penuh kebun aprikot dan murbei yang ia sebut “lezat dan berlimpah.” Dan yang paling membuatnya terkesan: bazaar-bazaar Gaza jauh lebih baik dari yang ada di Jerusalem.
Gaza di pertengahan abad ke-19 bukan kota yang sedang sekarat. Ia adalah simpul perdagangan yang hidup — kota terakhir sebelum gurun, titik pertama setelah padang pasir, dan pintu gerbang antara dua dunia.
Warisan Jalur Tua: Gaza Sebagai Ujung Rute Dupa
Untuk memahami Gaza abad ke-19, kita harus mundur lebih jauh. Selama ribuan tahun, Gaza adalah titik akhir dari Jalur Dupa — rute kuno yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan Mediterania hingga sejauh Tiongkok timur. Gaza adalah perhentian terakhir dalam jalur perdagangan dupa kuno yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Mediterania hingga ke Tiongkok bagian timur. Barang-barang yang diperdagangkan di sana meliputi kemenyan, mur, rempah-rempah India, batu permata, mutiara, kayu eboni, sutra, kain halus, kayu langka, bulu burung, dan kulit binatang.
Di utara, suku Nabatean menguasai jalur perdagangan yang melintasi Negev dari Petra menuju Gaza. Selama berabad-abad, siapa pun yang menguasai Gaza berarti menguasai pintu masuk ke Mediterania bagi seluruh barang dari Asia dan Arabia.
Pada abad ke-19, era rempah kuno memang sudah berlalu. Namun Gaza tetap mempertahankan fungsinya yang paling mendasar: kota ini diuntungkan oleh perdagangan dan niaga karena posisi strategisnya di jalur karavan antara Mesir dan Suriah bagian utara, serta dari produksi sabun dan kapas untuk diperdagangkan dengan pemerintah, suku-suku Arab lokal, dan kaum Bedouin.
Pasar Souk al-Qissariya dan Cinta Warga Gaza pada Rempah
Di jantung Kota Lama Gaza, ada sebuah pasar yang menjadi pusat kehidupan ekonomi selama berabad-abad. Souk al-Qissariya terkenal karena perannya dalam perdagangan rempah hingga abad ke-19. Bahkan ada stereotip bahwa warga Gaza sangat menyukai rempah-rempah.
Ini bukan sekadar stereotip kuliner. Selama era puncak Jalur Sutra, Souk al-Qissariya menjual barang-barang dari seluruh belahan timur dunia. Posisi Gaza sebagai kota transit membuat lidah warganya terbiasa dengan cita rasa yang datang dari jauh — lada dari India, kayu manis dari Nusantara, jahe dari Arabia.
Namun saat abad ke-19 bergulir, komoditas yang mengalir melalui Gaza mulai berubah. Bukan lagi hanya dupa dan rempah mewah — melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih menguntungkan: jelai.
Jelai Gaza dan Bir Victoria: Kisah yang Tak Pernah Diceritakan
Di sinilah letak kisah yang paling jarang ditulis tentang Gaza abad ke-19.
Selama paruh kedua abad ke-19, kota Gaza di pesisir selatan Palestina terintegrasi ke dalam sistem perdagangan maritim global. Kota ini mengekspor jelai Negev utara dalam jumlah besar — komoditas dengan kualitas tertentu yang cocok untuk pembuatan bir di Eropa, terutama Inggris.
Pada periode Ottoman akhir, kapal-kapal Inggris yang berlabuh di Gaza dimuat dengan jelai, yang terutama ditujukan untuk pemasaran di Skotlandia guna produksi wiski.
Ini adalah fakta yang hampir tidak pernah masuk dalam narasi sejarah Gaza: bahwa sebagian dari bir dan wiski yang diminum oleh kelas pekerja Victorian di Manchester, Liverpool, dan Edinburgh kemungkinan besar mengandung jelai yang tumbuh di ladang-ladang Negev dan dikapalkan melalui pelabuhan Gaza.
Seiring berkembangnya perdagangan jelai, kota ini secara bertahap meninggalkan peran tradisionalnya sebagai pasar di tepi gurun dan sebagai titik logistik untuk karavan haji tahunan, dan mulai bergantung hampir sepenuhnya pada perdagangan jelai yang sangat bergantung pada curah hujan.
Ini adalah transformasi ekonomi yang luar biasa — dan juga berbahaya. Gaza sedang mempertaruhkan seluruh masa depannya pada satu komoditas tunggal.
Gaza Lebih Besar dari Jerusalem — Lalu Mengapa Kita Melupakannya?
Data demografi abad ke-19 memberikan gambaran yang mengejutkan. Pada tahun 1838, terdapat sekitar 4.000 pembayar pajak Muslim dan 100 pembayar pajak Kristen, yang mengimplikasikan populasi sekitar 15.000 hingga 16.000 jiwa — menjadikannya lebih besar dari Jerusalem saat itu.
Gaza memproduksi sabun, kapas, aprikot, murbei, dan zaitun, dan merupakan perhentian penting di jalur karavan untuk pedagang Bedouin antara Suriah dan Mesir. Kota ini, singkatnya, adalah pusat pergerakan orang, barang, dan gagasan — baik melalui darat maupun laut.
Namun ada peringatan dalam catatan Robinson yang sering diabaikan: Robinson mencatat bahwa hampir semua jejak sejarah kuno dan kepurbakalaan Gaza telah menghilang akibat konflik dan pendudukan yang terus-menerus. Kota yang hidup secara ekonomi ini telah kehilangan ingatannya sendiri — sebuah ironi yang akan terus berulang.
17 November 1869: Hari yang Mengubah Segalanya
Pada 17 November 1869, Terusan Suez resmi dibuka untuk pelayaran internasional. Terusan sepanjang 120 mil itu memangkas sekitar 10.000 kilometer dari jalur maritim tradisional antara Eropa dan Asia.
Dampaknya bagi Gaza tidak langsung terasa — tetapi bersifat struktural dan permanen.
Selama ribuan tahun, Gaza adalah kota transit yang tak tergantikan: siapa pun yang ingin membawa barang antara Asia dan Eropa harus melewati darat melalui Palestina, dan Gaza adalah gerbangnya. Jalur-jalur baru seperti Terusan Suez mengubah demografi perdagangan di seluruh Timur Dekat karena rute perdagangan dialihkan.
Kapal-kapal tidak perlu lagi mendarat di Gaza. Rute karavan darat yang telah menghidupi kota selama ribuan tahun tiba-tiba menjadi tidak relevan. Ketika Terusan Suez dibuka pada 1869, kepentingan Gaza justru melonjak dalam konteks geopolitik — namun bagi ekonomi lokal yang bergantung pada karavan darat, dampaknya berlawanan.
Maka Gaza melakukan apa yang selalu dilakukannya ketika satu rute tertutup: ia mencari rute lain. Jawabannya adalah jelai Negev dan kapal-kapal uap Inggris.
Namun ketergantungan tunggal pada jelai terbukti rapuh. Pada pertengahan abad ke-19, pelabuhan Gaza sudah dibayangi oleh pelabuhan Jaffa dan Haifa. Ketika kekeringan melanda Negev atau harga jelai jatuh di pasar Eropa, Gaza tidak punya komoditas cadangan. Kota yang pernah menjadi simpul perdagangan multidimensi kini menjadi eksportir satu komoditas dengan satu pasar tujuan.
Warisan yang Hilang
Pergantian abad ke-20 membawa berita buruk bertubi-tubi. Gempa bumi 1903 dan 1914 menghancurkan sebagian kota. Lalu datanglah Perang Dunia I pada 1917 — dan Gaza dikosongkan, dibombardir, dan ditemukan sebagai kota puing ketika pertempuran usai.
Kota dagang yang pernah lebih besar dari Jerusalem itu harus memulai dari nol — lagi.
Namun ada yang tidak bisa dihapus begitu saja: ingatan bahwa Gaza pernah menjadi titik di mana dunia bertemu. Bahwa Souk al-Qissariya pernah menjual rempah-rempah dari Nusantara. Bahwa ladang-ladang Negev pernah memasok bir untuk meja-meja pub di Skotlandia. Bahwa kota ini, selama ribuan tahun, adalah tempat yang paling tahu cara menjadi bagian dari dunia yang lebih besar.
Terusan Suez tidak menghancurkan Gaza dalam semalam. Ia hanya memulai sebuah proses panjang yang perlahan mengubah kota paling kosmopolit di Levant selatan menjadi sebuah enklave yang terisolasi dari dunia. (IW)
